
Waktu bergulir begitu cepat, Alby masih menanti Dira untuk membuka hatinya kembali, tak bosan, setiap hari Alby menghubungi Dira. Mulai dari menanyakan keadaan Hanan hingga menanyakan akan dirinya. Alby mendekatinya namun tak memaksanya. Alby ingin Dira merasa nyaman.
Sore ini, mendung hitam menggelantung di langit. Butik sudah tutup sejak satu jam yang lalu. Namun Dira masih berada di ruangannya karena ada beberapa desain gaun pengantin yang akan di selesaikan. Pukul sembilan malam, Dira akhirnya keluar dari butik. Dan ternyata hujan sedang turun dengan derasnya.
Dira berlari kecil menuju mobilnya. Naasnya, mobil Dira mengalami bocor ban. Hingga Dira tidak bisa membawa mobil itu pulang. Dira memesan memesan taksi online, dan lagi-lagi mendapat penolakan.
Tok...
tok..
tok...
Suara kaca mobil Dira di ketuk. Dira ketakutan, dirinya tak berani membuka pintu sama sekali. Suara ketukan semakin keras, membuat Dira semakin takut. Sampai menjatuhkan ponselnya. Samar, Dira mendengar namanya di panggil. Setelah kaca mobil di buka sedikit, Dira melihat Alby yang mengetuk kaca mobil itu.
" Buka..."
Dira pun membuka pintu mobilnya. Sedangkan Alby sudah siap dengan payung untuk melindungi Dira agar tak kebasahan. Alby membawa Dira ke tepian Butiknya. Dan Dira mengibaskan hijabnya yabg basah. Begitu juga Alby yang langsung membuka Jas nya karena basah. Rambutnya pun ikutan basah. Dira kembali membuka butiknya dan meminta Alby untuk masuk. Karena kondisi mereka yang sama-sama basah.
__ADS_1
" Mobil kamu kenapa, Dir."
" Sepertinya Bannya bocor dan mogok juga. Aku gak paham."
Ucap Dira dengan tangan yang terus membuat coklat panas untuk Alby dan juga dirinya. Setelah selesai, Dira menyodorkan segelas coklat panas itu pada Alby. Alby menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
" Kamu gak periksa keadaan mobil dulu pagi tadi."
Alby berkata saat Dira sudah duduk di hadapannya, dan di halangi oleh meja kerja Dira. Mereka berada di ruangan kerja Dira saat ini.
Cukup lama mereka saling diam.
" Mas,..."
Alby mengangkat wajahnya, saat di dengarnya Dira memanggil dirinya.
" Kenapa kamu tidak mencari pendamping?"
__ADS_1
Alby mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dira. Dira pun mencoba untuk memutus pandangan nya dengan mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Gestur tubuhnya mengungkapkan apa yang di rasakannya.
" Maksud ku, kita berpisah sudah begitu lama, Tapi-"
" Karena aku mencintai seorang yang namanya tidak bisa ku hilangkan disini."
Alby memotong ucapan Dira. Dan berkata sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri. Dira diam, kuat dugaannya Alby masih mencintai Syifa. Dira menunduk, mencoba untuk mendengarkan kembali kalimat yang belum selesai dari Alby.
" Kesalahan terbesar di hidupku, adalah menyakitinya dan membuat luka di hatinya. Sampai detik ini, dia masih menggenggam luka itu sendiri. Mencoba kuat, namun nyatanya dirinya sangat rapuh."
Dira menatap ke arah Alby, Alby bangkit dari duduknya. Mendekati kursi yang di duduki Dira. Tepat di hadapan Dira, Alby berjongkok, dan menatap wajah teduh yang selama ini di rindukannya. Dira menatap mata Alby, sejenak mata mereka saling mengunci.
" Aku yang menyebabkan luka itu. Aku yang membuatmu sakit. Izinkan aku menghapus luka itu, Dir. Jangan pergi lagi dariku, terlalu sakit, saat aku mengetahui, kamu berpindah-pindah tempat hanya untuk menghindari aku. Maafkan aku. Aku mohon."
Alby berkata sambil membelai wajah Dira. Dira diam saja, saat Alby membelai lembut wajahnya. Rasanya Dira ingin pergi dan masuk ke dalam dekapan Alby. Namun hatinya masih bimbang. Air mata yang menetes kembali di usap dengan ibu jari oleh Alby.
" Jangan menangis. Cukup, jangan menangis lagi. Terlalu banyak air mata yang kamu tumpahkan selama ini. Biarkan aku menghapusnya, Dir."
__ADS_1