Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 157


__ADS_3

Saat Hanan tertidur, Alby mengajak Dira berbicara berdua. Di ruang perawatan Hanan ada Bram dan juga Luna. Dira melirik ke arah Bram.


" Pergilah, Dek. Selesaikan yang mengganjal di hatimu. "


Ucap Bram, lalu Dira pun mengikuti kemana Alby membawanya. Ternyata Alby membawa Dira ke taman rumah sakit. Alby tak ingin saat terbangun, Hanan merengek mencari mereka berdua.


"Dir, mas ingin bicara sesuatu sama kamu. Mas harap, kamu bisa memikirkan kembali."


" Kamu mau bicara apa, Mas?"


" Dir, Mas ingin kita memulai lagi hubungan kita yang sempat kandas. Mas tau, luka itu masih membekas, dan izinkan mas untuk menutup luka itu. Mas mohon."


Alby menghela nafas dan menjeda ucapannya. Sesaat di tatapnya wajah teduh yang selalu di rindukannya selama ini.


" Aku takut, akan ada Syifa- Syifa lain, Mas. Aku takut akan terluka kembali."


" Tolong percayakan hati kamu pada Mas, Dir."


Ucap Alby mantap. Dira hanya menatapnya sekilas, lalu menatap lurus ke depan.


" Untuk sekarang, biarlah seperti ini dulu, Mas. Sampai aku bisa percaya, bahwa kamu benar menginginkan aku, bukan karena wasiat dari Syifa."


Setelah berkata seperti itu, Dira pun beranjak dari duduknya. Tujuannya adalah kamar Hanan. Alby menatap punggung Dira yang semakin menjauh.

__ADS_1


" Mas akan buktikan, bahwa Mas mencintai kamu, bukan karena wasiat siapa pun."


Ucap Alby pelan. Lalu Alby pun melangkahkan kakinya berjalan di belakang Dira.


\*


Hari ini, Hanan sudah di perbolehkan pulang oleh Zaidan, dokter yang menangani Hanan.


" Ingat ya, Jagoan. Jangan makan sembarangan, istirahat dan rajin minum air putih. Vitamin nya juga."


Nasehat dari Zaidan di tanggapi dengan acungan dua jempol oleh Hanan. Tak lupa senyum manis tersungging di bibirnya.


" Papanya Hanan gak datang, Ra?"


Pertanyaan Zaidan membuat Dira menatapnya sejenak. Zaidan dan Dira berada diluar ruangan. Dira akan segera menyelesaikan administrasi perobatan Hanan.


Ucap Dira sambil terus berjalan bersama Zaidan.


" Kamu sudah menerimanya kembali?"


Dira tertegun, lalu menggeleng.


" Entahlah, Dan. Aku masih butuh waktu. Aku masih takut."

__ADS_1


Zaidan menghentikan langkahnya. Dan menatap ke arah Dira.


" Ra, tidak ada salahnya kamu mencoba menerimanya. Aku lihat, dia sepertinya masih mencintaimu. Begitu juga kamu. Di matamu masih tersimpan cinta untuknya. Dan itu yang membuatmu tidak bisa menerima kehadiran cinta lain di hati dan hidup mu. "


Zaidan lalu menghela nafasnya.


" Aku tau itu, Ra. Bukan mudah bagimu, namun cobalah. Mau sampai kapan kamu menutup hati?"


" Dan, kenapa kamu selalu memikirkan kebahagian ku? Sedangkan aku sudah berulang kali menyakitimu?"


Zaidan tersenyum. Senyuman tulus seorang pria yang mencintai wanitanya.


" Karena aku mencintai dirimu, Ra. Aku menyayangimu, namun aku tak pernah melihat cinta untukku di matamu, namun saat aku melihat kamu bersama Alby kemarin. Aku sadar, cinta itu hanya untuknya. Kamu masih mencintainya. Bibirmu bisa saja bungkam, namun matamu, tidak bisa berbohong, Ra."


Ucap Zaidan panjang. Tak ada nada amarah atau kecewa di dalamnya. Ucapan Zaidan tulus. Setulus cintanya pada Nadira.


Baru mereka akan melangkah lagi, sosok Alby datang dengan langkah lebar. Dan memegang secarik kertas di tangannya.


" Dira, kamu mau kemana?"


Alby melihat ke arah Dira dan Zaidan. Zaidan pun langsung pamit. Meninggal kan mereka berdua.


" Aku mau ke administrasi, mau membayar biaya rumah sakit, Hanan"

__ADS_1


Alby menunjukkan secarik kertas yang di bawanya pada Dira.


" Aku sudah melunasinya. Sekarang kita ke kamar Hanan. Kasian dia menunggu kita terlalu lama."


__ADS_2