Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 121


__ADS_3

Waktu terus berlalu, bulan pun berganti. Kini Dira tengah menyelesaikan desain untuk gaun dan gamis yang akan di produksi di Butik miliknya di Jakarta. Dan lagi-lagi yang bertindak sebagai kurir yang akan menghantarkan desain-desain itu adalah Kak Dion. Dion memang sengaja meminta Dira untuk menjadi penghantar desain-desain itu, agar dirinya bisa terus mendekati Dea.


Dira keluar dari ruang kerjanya, dan berjalan ke arah tangga. Dion yang melihat Dira akan turun, segera berlari menghampiri.


" Kebiasaan deh, lain kali itu, kalau mau turun tangga, panggil seseorang, Mama, Bik Siti atau siapa pun. Jika ada aku disini, kamu bisa panggil Kakak, Ra. "


Dion selalu saja begitu. Setiap melihat Dira berjalan, dengan perutnya yang semakin membuncit, selalu ada kekhawatiran di dirinya.


" Kakak jangan lebay, aku tu hamil, bukan sakit parah, sampai harus kamu papah. "


Ucapnya setelah dirinya di dudukan di sofa. Dion menghela nafasnya.


" Selalu keras kepala. Menurut Dokter, kapan kamu akan lahiran, Ra?"


" Sekitar Minggu ini kak. Makanya aku buat desain yang lumayan banyak, biar nanti Dea yang akan memilih. Karena aku yakin, pilihan Dea bagus."


Dion mengangguk. Lalu di lihatnya tampang kakak sepupunya itu yang sedikit murung.


" Kak Dion kenapa?"


" Dea masih susah di dekati, Ra. Kakak udah bingung, bagaimana caranya biar Dea tu percaya, Kakak serius dengannya."

__ADS_1


"Kakak sabar ya. Apa perlu Tante Dwi kesana untuk meyakinkan Dea, bahwa kakak emang beneran serius?"


Dion memainkan bibirnya, pikirannya buntu saat ini. Saat dirinya melihat Dira, Dira seperti orang yang menahan sakit.


"Kenapa, Ra?"


" Gak apa-apa kok Kak. Biasa ini, kalau dia nendang, pasti rasanya gini."


Dion menatap perut Dira yang sudah sangat besar itu.


" Mungkin saat kamu lahiran, kakak gak bisa menemani, Ra. Pengajuan cuti kakak, belum di terima."


Dira tertawa melihat raut wajah Dion. Ada -ada saja. Dira hanya adiknya, kenapa dia harus cuti untuk menemani Dira melahirkan.


Dion pun membelai kepala Dira. Di lihatnya Dira yang semakin kuat.


Sementara di Jakarta, Alby berlari menyusuri lorong rumah sakit, kondisi Syifa yang semakin memburuk, membuat dirinya harus di rawat beberapa waktu ini. Saat dirinya sedang melakukan meeting. Tiba-tiba Mama mertuanya menelpon, dan mengabarkan keadaan Syifa. Dengan nafas yang ngos-ngosan, Alby tiba di ruangan Syifa.


" Bagaimana keadaannya, Dok?"


Lalu dokter pun menjelaskan keadaan Syifa. Tante Yuni hanya bisa menatap dan sesekali menyeka air mata yang jatuh di pipinya.

__ADS_1


" Bee..."


Suara Syifa mengalihkan pandangan mereka semua ke arah Syifa .


" Bee, apa kamu mau janji padaku?"


Syifa meminta pada Alby dengan suara lemahnya.


" Bee, aku rasa ini adalah saat terakhirku, aku sudah gak kuat lagi Bee. Bee, aku mohon sampaikan permintaan maaf ku pada Dira. Aku sangat berdosa, aku sudah merebut kebahagiannya, Bee. Dan aku minta maaf atas segala kesalahanku padamu, aku bukan wanita baik, Bee. Maafkan aku yang menjadi duri di kehidupan kalian. Aku minta maaf Bee."


Alby mengangguk, dan setetes air mata jatuh di pipinya.


" Jangan menangis Bee. Perjuangan Dira kembali, aku minta maaf....tolong maafkan aku Dira...."


Setelah berkata seperti itu, pegangan tangan Syifa pun melemah di sertai dengan tertutup nya mata Syifa. Dokter yang masih berada di ruangan itu pun langsung memeriksa dan memberikan tindakan. Namun setelah beberapa saat, dokter akhirnya melepas semua alat yang ada di tubuh Syifa.


" Mohon maaf, Pak. Kami sudah berusaha, tapi Tuhan telah memanggilnya, Kami turut berduka Pak."


Suster menutup seluruh tubuh Syifa dengan selimut putih, sedangkan Tante Yuni langsung memeluk tubuh Syifa yang sudah tak bernyawa.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..." Alby berkata pelan.

__ADS_1


Tante Yuni tampak sangat bersedih, sedangkan Alby menatap wajah istrinya dengan pandangan sendu. Air matanya pun menetes.


" Selamat jalan, Fa...."


__ADS_2