Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 57


__ADS_3

" Kamu menghubungi siapa?"


Tanya Alby dengan suara dinginnya. Bram membalikkan badan, lalu tersenyum sinis.


" Bukan urusan Lo."


Alby membulatkan matanya mendengar jawaban Bram. Bram pun menghela nafasnya. Menetralkan kemarahannya, lalu berjalan mendekati Alby.


" Al, Gue gak tau mau bilang apa. Tapi yang jelas, gue kasian lihat Nadira Lo perlakukan seperti ini. Dia berhak bahagia Al. Istri mana yang dengan rela mencari mantan suaminya sampai ke kota lain. Istri mana yang merelakan suaminya untuk wanita lain? Gak ada Al. Kenapa Lo gak bisa sedikit aja, membuka mata Lo. Lo tau, saat Lo koma dia dengan telaten terus berada di sisi Lo. Bahkan dengan sedikit desakan, dia meminta alamat Syifa sama gue. Apa Lo gak bisa ngeliat besarnya cinta Dira ke Lo.Sadar dong Al, sadar..."


Alby menaikan sebelah alisnya setelah mendengar penuturan Bram. Melihat Bram sedikit emosi, membuat Alby meyakini, bahwa Bram menaruh hati pada Nadira.


" Udah selesai ceramahnya?"


Bram yang mendengar perkataan Alby sontak menggeram. Rasanya saat ini dia ingin memukul wajah sahabat sekaligus pimpinannya ini. Alby yang melihat reaksi Bram akhirnya buka suara.


" Aku memilih istriku. "


Bram terkejut, dan menatap tidak percaya. Sampai Alby kembali mengulang ucapannya.


" Aku memilih istriku, Bram. Aku jatuh cinta padanya. Entah sejak kapan. Saat dirinya mempertemukan ku dengan Syifa, dan pergi dengan menangis, aku pun merasa sakitnya."


Alby berkata dengan mata yang menerawang. Lalu dengan sekejap, dirinya kembali tersadar, dan sedikit berdehem.

__ADS_1


" Kita harus rapat, saya tidak ingin klien menunggu kita. "


Alby kembali menjadi pemimpin. Lalu menggerutu.


" Lagian sejak kapan seorang pimpinan mendatangi anak buah. Dasar."


Walaupun mendengar gerutuan Alby,namun Bram hanya tersenyum lalu berjalan keluar ruangannya. Alby kembali menggerutu.


" Dasar asisten gak ada akhlak. "


Sementara di ruko tempat Nadira merintis usahanya, Dea tengah memilih bahan yang sudah masuk.


" Assalamualaikum. "


Ucapan salam dari Nadira mengalihkan pandangan Dea. Dea pun membalas ucapan salam Nadira. Atik yang sedang mempacking barang pun ikut menjawab salam Nadira.


" Baik, Tik. Kamu sendiri apa kabarnya? Maaf ya, kalian harus handle ol shop berdua. "


Dira mengucapkan maaf karena sudah terlalu sering meninggalkan ol shop. Apalagi saat ol shop sedang merosot tajam. Dea memperhatikan Nadira, lalu membuka suara.


" Dir, kita perlu bicara."


Dea bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke lantai atas.

__ADS_1


" Tik, kamu packing sendiri ya, kalau perlu kamu balik aja papan pintu itu, biar gak ada langganan yang datang hari ini. Karena Aku sama Dira mau bicara serius. Bisakan Tik?"


Dea meminta Atik untuk mengganti papan pintu, dari tulisan buka menjadi tutup.


" Trus mbak, kalo ada pelanggan yang akan mengambil barang-barang ini gimana?"


" Nanti kalau mereka datang, pasti menghubungi aku dulu kok. Tenang aja."


" Baik, Mbak De."


Dea pun kembali melangkahkan kakinya ke lantai atas. Diikuti Dira dari belakangnya. Setibanya di ruangan Dira, mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Dea menatap tajam pada Dira. Membuat Dira mengerutkan keningnya.


" Kamu kenapa sich, De."


Dea menghela nafasnya, dan membuangnya secara kasar.


" Hal gila apa yang kamu lakukan, Dira? Kamu merasa dirimu ini malaikat gitu? "


Dira yang paham maksud ucapan sahabatnya ini, hanya bisa memandangi Dea.


" Kamu tenang dulu, De. Ini gak seburuk yang kamu perkirakan."


Akhirnya Dira pun menceritakan semua yang terjadi di Medan. Wajah Dea berubah -ubah mendengar cerita dari sahabat nya ini. Sampai akhirnya Dea pun tersenyum di akhir cerita Dira.

__ADS_1


" Akhirnya, terbuka juga hati si Alby. "


Membuat wajah Dira bersemu. Tak lama, Dira pun mulai mendiskusikan keinginan, untuk membuat ol shopnya ini menjadi butik.


__ADS_2