
" Kemasi barang-barang kamu sekarang, Nak. Tante akan tunggu kamu disini. "
Dira pun mengangguk lalu masuk ke kamar yang selama ini di tempati olehnya. Dira hanya membawa barang-barang yang di rasa miliknya dulu, tak sedikitpun dia membawa sesuatu yang Alby belikan untuknya. Perhiasan, tas dan yang lainnya semua di tinggal olehnya. Dira pun mengeluarkan beberapa kartu yang pernah Alby berikan padanya.
Alby mengikuti Dira sampai ke kamar, Alby mencoba meminta Dira untuk tetap tinggal.
" Dira, Mas mohon, jangan pergi. Mas rela mas yang keluar dari rumah ini, asal kamu tetap disini. Asal mas bisa dekat dengan kalian. Mas mohon Dir."
Alby menekuk kakinya di depan Dira. Membuat Dira tak enak hati. Lalu Dira pun ikut duduk di depan Alby. Dengan air mata yang terus menetes.
" Mas,bukankah Aku pernah bilang, jangan pernah memintaku membagi apa yang tak bisa aku bagi? Ini yang aku gak bisa, Mas. Aku gak bisa berbagi suami. Aku mengalah demi kebahagiaan mu. Jadi tolong jangan halangi jalanku. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit ini, jadi biarkan aku pergi. Jangan jadikan alasan kehamilanku, untuk kamu tetap bertahan di sisiku, tapi nyatanya kamu hadirkan orang lain di antara kita. Aku bukan wanita yang memiliki hati seluas samudra, yang bisa tersenyum membayangkan dirimu dengan dirinya disana. Aku hanya manusia yang punya rasa cemburu. Tolong jangan halangi aku."
Dira melepas cincin yang melingkar di jari manisnya. Lalu menyerahkan ke tangan Alby. Lalu Dira menyeret kopernya untuk keluar. Sementara di ruang tamu Tante serta Om nya sudah menunggu. Mama mertuanya pun ikut menangis melihat Dira pergi.
" Sudah Sayang?"
Dira mengangguk, lalu Om Hendra membawa koper Dira untuk di masukan ke dalam mobil. Dira mencium takzim tangan papa mertuanya. Air mata lelaki paruh baya itupun jatuh.
__ADS_1
" Maafin Dira,Pa. Dira belum bisa menjadi menantu yang baik untuk Papa."
Pak Wisnu hanya menggeleng, lalu memeluk mantan menantunya itu.
" Papa yang minta maaf, karena tidak bisa mendidik anak Papa menjadi lelaki yang bertanggung jawab."
Lalu Dira beralih pada Mama mertuanya. Dan mencium tangannya.
" Maafin Dira, Ma."
Tante Dwi memeluk Dira dari samping dan membawanya berjalan ke mobil. Sedangkan Alby masih terpaku menatap cincin kawin yang di lepas oleh Dira. Sampai suara mobil yang melaju, menyadarkan dirinya. Alby berlari mengejar Dira dan memanggil namanya.
" Dira..Dira..Mas mohon Dir, jangan pergi. Dira...dira..."
Alby terus memanggil nama Dira sambil berlari mengejar mobil yang dibawa oleh om Hendra. Dira menangis di pelukan Tante Dwi.
" Menangislah Nak. Menangislah, tapi setelah ini Tante gak mau melihat kamu menangis karena Dia lagi."
__ADS_1
Om Hendra sesekali melihat ke arah Dira dan istrinya melalui kaca. Setibanya di hotel, Om Hendra segera memesan kamar yang akan di pakai oleh Dira. Malam ini Dira akan tidur di temani oleh Tantenya. Namun nyatanya Dira, tak dapat memejamkan mata sampai Tante Dwi harus mengabarkan hal itu pada suaminya.
Om Hendra keluar kamar, bertepatan dengan Dion yang juga akan keluar kamar.
" Papa mau kemana?"
"Ke kamar Dira. Mama mu bilang, Dira gak bisa tidur. Dia terus menangis, Papa khawatir dengan kesehatan bayi dan juga kesehatannya."
Akhirnya Om Hendra dan juga Dion memasuki kamar Dira bersama-sama.
.
.
** **Aku tambahin 1 part lagi ya ..βΊοΈβΊοΈ, yang katanya kurang panjang, ni aku bonusin...π€π€π, tapi besok jangan minta aku untuk double up ya ..πππ
Love you All.πππ₯°π₯°*****
__ADS_1