
Setelah puas seharian bermain dengan Zaidan, Hanan tertidur di pelukan Dira. Setelah tiba di rumahnya, Zaidan membukakan pintu untuk Dira dan membantu menggendong Hanan. Mbak Ita dengan cekatan membuka pintu rumah, lalu menghidupkan lampu di karena kan hari yang sudah mendung gelap.
" Kamu gak makan malam disini aja, Dan?"
" Lain kali ya, Ra. Aku pulang dulu."
Setelah Zaidan berpamitan, Dira pun masuk ke kamar Hanan. Hanan tertidur dengan sangat pulas. Wajah tampan Alby tercetak jelas di wajahnya. Bahkan Dira tak kebagian sedikit pun. Semua mirip sekali dengan Alby.
Dira membelai rambut Hanan. Menelisik wajah tampan anaknya, yang mengingat kan dirinya akan cinta dan sayang Alby padanya. Sampai saat semua hancur karena pengkhianatan.
" Apa aku memang harus berdamai dengan masa lalu. Bukan demi aku, melainkan untuk anakku. Hanan adalah korban keegoisanku, Hanan adalah korban dari kesakitan hingga aku harus pergi. Sudah bertahun-tahun, namun rasa itu masih membekas."
Dira masih berperang dengan hatinya. Rasa sakit itu masih terasa, apalagi mengingat saat Tante Yuni datang, dan mengatakan amanat Syifa. Dira merasa seperti sebuah rumah penitipan bagi mereka. Itu sangat melukai hatinya. Dira masih terdiam memandang keluar jendela. Hujan sore itu, menambah suasana gundah di hatinya.
Suara Mbak Ita, mengembalikan Dira pada masa sekarang. Mbak Ita mengatakan bahwa ada om dan Tantenya datang. Dira menghapus kristal bening yang meluncur bebas dari matanya. Lalu bergegas menemui om dan tantenya, yang saat ini merupakan pengganti orang tua baginya.
__ADS_1
" Assalamualaikum, Sayang."
Tante Dwi memeluk Dira. Begitu juga dengan Om Hendra. Setelah menjawab salam, kini mereka duduk di ruang keluarga.
" Sayang, akhirnya temen kamu itu melunak, lamaran Dion di terima."
Dira tersenyum menanggapi ucapan tantenya.
" Dan rencananya, mereka akan bertunangan di panti. Apa kamu-"
" Iya Tante. Dira akan ikut. Hanan juga akan Dira ajak."
" Dan untuk akadnya, seminggu setelah pertunangan. Dan itu di lakukan sederhana saja di-"
Tante Dwi menggantung ucapannya. Tante Dwi melihat ke arah Om Hendra. Dira tampak mengamati kedua orang tua yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
" Akadnya diadakan dimana Tante?"
Setelah menghela nafas, Tante Dwi pun menggenggam tangan Dira.
" Akadnya di adakan di rumah Dion."
Dira terdiam. Lalu mencoba tersenyum.
" Dira akan tetap hadir Tante. Seandainya memang Hanan akan bertemu dengan Ayahnya. Mungkin ini adalah jalan dari Allah. Dira akan berusaha berdamai. Walau akan sulit."
Tante Dwi menggenggam tangan Dira. Tante Dwi sangat tahu, bukan hal yang mudah bagi Dira. Namun lagi-lagi, Dira harus menekan egonya demi anaknya. Om Hendra tampak membuang pandangannya, karena dirinya tak ingin melihat air mata Dira jatuh lagi.
" Kita bisa bujuk Dion untuk mengganti tempat akadnya. Jadi kamu gak perlu menahan rasa sakit itu lagi.Dion pasti akan setuju."
Dira menggeleng lalu menggenggam tangan Om Hendra dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Dira akan datang saat resepsi saja, Dan sebelumnya Dira akan menginap di hotel. Jadi Dira gak akan melihat rumah itu lagi "
Om Hendra dan Tante Dwi memeluk Dira. Bagaimana pun mereka sangat menyayangi Dira. Seperti mereka menyayangi Dion.