Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 182


__ADS_3

Hari ini, akhirnya Dira dan Alby memasuki rumah baru, setelah menunggu selama sebulan. Karena Luna yang akan mengadakan acara untuk putri kecil mereka. Seluruh keluarga besar sudah ada di kediaman baru Dira dan Alby. Bahkan anak-anak Dea sudah ada di kamar Hanan.


Acara yang di awali dengan pengajian, dan tausiah singkat dari seorang ustadz. Lalu mereka pun menyantuni anak-anak yatim piatu. Dan berbagi pada mereka yang membutuhkan. Semua orang tampak menikmati acara. Acara yang berlangsung sampai sore itu membuat seluruh keluarga mereka berkumpul.


Menjelang malam, setelah semua keluarga pulang, barulah Alby dan Dira bisa menikmati waktu berdua. Hanan yang kelelahan bermain dengan saudaranya pun sudah tertidur di kamarnya. Kini hanya tinggal Alby dan juga Dira yang masih terjaga. Asisten rumah tangga yang di minta Alby pun sudah berada di rumah mewah itu.


Alby segera bangkit dari duduknya saat mendengar suara Dira yang memuntahkan isi perutnya.


" Sayang, kamu kenapa?"


Alby masuk ke kamar mandi, dan langsung membantu memijit tengkuk Dira. Dira belum bisa menjawab pertanyaan Alby, Dira masih terus memuntahkan isi perutnya. Sampai akhirnya hanya cairan berwarna kuning saja yang keluar. Badan Dira pun lemas. Tanpa merasa jijik sedikit pun, Alby membersihkan sisa muntahan Dira di wastafel kamar mandi.


Alby menggendong Dira yang lemas ke ranjang. Wajahnya tampak pucat. Dengan sigap, Alby menyelimuti tubuh Dira dan keluar dari kamar. Alby segera membuatkan teh hangat untuk di minum oleh Dira. Walau ada pembantu, Alby tak ingin menggangu, karena mereka sudah pasti lebih lelah karena seharian ini.

__ADS_1


" Sayang, di minum dulu teh nya."


Alby menyodorkan secangkir teh hangat. Dira pun duduk bersandar lalu meminum teh yang di berikan Alby. Alby meletakkan teh itu di nakas, lalu duduk di sebelah Dira. Tangannya melingkar di bahu Dira, dan sebelah lagi memijit kening Dira.


" Kamu lupa makan kan satu harian ini. Mas kan udah bilang, kamu harus makan, walau sedikit. Jangan ikutin na*fsu makan kamu yang lagi gak baik itu."


Alby terus berbicara sambil memijit kening Dira. Namun reaksi Dira di luar dugaan. Dira menangis sesegukan, membuat Alby terperanjat.


Bukannya berhenti, tapi Dira malah semakin sesegukan. Membuat Alby kebingungan.


" Sayang...jangan nangis dong."


" Mas udah gak sayang aku, baru gini aja, mas udah ngomel-ngomel."

__ADS_1


Ucap Dira di sela Isak tangisnya. Alby langsung menggaruk keningnya yang tak gatal. Dan berusaha membujuk Dira.


" Sayang, mas gak marah. Mas cuma gak mau kamu sakit, Sayang. Mas khawatir banget sama kamu. Mas minta maaf ya."


Alby merengkuh tubuh Dira di dalam pelukannya. Dan memberikan kecupan di kening Dira. Alby terus saja membelai lembut punggung Dira. Sampai Alby tak terdengar lagi isakan, dan kini hanya terdengar dengkuran halus.


Alby menatap Dira yang tertidur di pelukannya. Dengan sisa air mata yang masih ada di pipinya. Alby bingung dengan sikap Dira beberapa hari ini. Dira jadi sangat sensitif, dan gampang nangis. Alby masih terus memeluk Dira sampai hampir pagi, dengan posisi yang sama. Bahkan Alby rela tidur dengan bersandar di headboard.


Dira yang terbangun, menatap Alby yang tertidur pulas tanpa terganggu dengan dirinya yang menyender di dadanya. Rasa lapar yang menyerang membuat Dira melangkahkan kakinya menuju dapur rumahnya. Alby terbangun ketika merasa dingin di sisinya. Alby tersentak mencari Dira.


"Sayang..."


Alby mencari Dira di kamar mandi, namun tidak di temukan. Alby pun bergegas mencari ke kamar Hanan, namun tidak ada juga. Alby pun melangkah ke bawah, dan di lihatnya Dira yang sedang duduk di meja makan. Senyum Alby terkembang seketika melihat Dira yang sedang menikmati semangkuk mie instan.

__ADS_1


__ADS_2