Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 185


__ADS_3

Dira dan Alby keluar dari ruangan Dokter Obgyn, Alby terus memandang hasil USG. Matanya tampak berkaca-kaca. Begitu pun dengan Dira. Dea yang ikut menunggu akhirnya menghampiri Dira.


" Gimana, Ra? "


Tanyanya antuasias. Dira hanya bisa memeluk Dea dan menangis. Dea yang belum paham pun akhirnya hanya bisa mengeluarkan punggung Dira.


" Ra?"


Saat Dira sudah melerai pelukan itu. Dea menelisik wajah Dira. Lalu beralih ke Alby.


" Dira, hamil De."


Alby berkata sambil menunjuk kan hasil USG kepada Dea. Dea memekik tertahan lalu memeluk Dira kembali.


" Selamat ya, Selamat...Aku bahagia banget. Kamu jangan capek-capek, dan Mas Al, tolong jaga Dira, ya."


Dea meminta dengan mata yang berkaca-kaca, dirinya masih ingat betul, saat awal-awal kehamilan Hanan, Dira sedang di masa tersulit di hidupnya.


"Pasti, De. Kali ini aku janji. Aku akan terus jagain saudara kamu."


*


Di perjalanan menuju rumah kedua orang tua Dira, tak hentinya senyum terlukis di wajah Alby dan Dira. Sesekali tangan Alby menyentuh perut Dira yabg masih rata. Sebelah tangannya masih di kemudi.

__ADS_1


" Mas, Fokus ke jalan."


" Iya, Sayang. Kalau kamu pingin sesuatu, kamu bilang ya. Atau kamu mau makan apa sekarang?"


Dira menggeleng, belum ingin makan apapun. Karena hatinya yang masih sangat bahagia. Allah masih mempercayai dirinya untuk mengandung lagi. Setibanya di rumah Papa Haidar, Dira di sambut oleh Mama Yasmin yang mengerutkan keningnya melihat kedatangan Dira. Yang langsung memeluk dan menangis di pelukannya.


" Sayang, kenapa? Kamu kenapa? Alby, ada apa ini?"


Mama Yasmin beruntun bertanya pada Dira dan Alby. Alby hanya tersenyum, lalu menggiring dua wanita itu untuk duduk di ruang keluarga.


" Gak apa-apa, Ma. Dira hanya terharu. Makanya Dira nangis."


Ucap Alby tenang. Mama Yasmin menelisik wajah Dira. Dira hanya mengangguk.


" Dira hamil, Ma. Alhamdulillah."


" Luna, Dira hamil."


Luna membulatkan matanya.


" Beneran Ra?"


Dira mengiyakan, lalu Luna dan Dira pun saling berpelukan. Tak lama, Alby pun berpamitan untuk segera menjemput Hanan. Hari itu, di habiskan Dira dan keluarganya untuk bersama di rumah Orang tuanya.

__ADS_1


Malam hari barulah Alby dan keluarganya pulang. Setibanya di halaman rumah, Alby membukakan pintu untuk Dira, dan membantunya berjalan. Hingga Hanan tertawa melihatnya.


" Mama,kayak orang sakit."


Dira pun memukul lengan Alby. Namun Alby hanya tertawa. Hanan langsung masuk ke kamar dan tertidur, karena memang sudah waktunya Hanan tidur. Dira dan Alby pun langsung menuju kamarnya. Alby mendudukkan Dira di tepi ranjang. Lalu Alby masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri, setelah itu Alby keluar kamar dan tampak lebih segar.


" Kamu gak usah mandi lagi ya. Cuci muka, dan gosok Gigi aja."


Dira pun menuruti, setelah Dira selesai, Dira tak melihat Alby di kamar. Cukup lama Dira menunggu, lalu Alby masuk ke kamar dengan membawa segelas susu ibu hamil untuk Dira.


" Mas dari mana? Kok lama banget?"


" Mas lupa, kita belum beli susu untuk kamu. Jadi mas ke supermarket sebentar. Dan sekarang kamu minum susunya dulu."


Ucap Alby sambil menyodorkan segelas susu untuk Dira. Dira pun menerima gelas itu. Setelah meminumnya, Alby pun meletakan gelas itu di nakas. Dan masuk ke selimut bersama Dira.


" Terima kasih, Mas. Aku bahagia."


" Seharusnya mas yang mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah menerima Mas kembali. Dan sudah memaafkan mas. Terima kasih Sayang. I love you..."


Dira mengeratkan pelukannya pada Alby.


Nadira Sofia, wanita yang di perjalanan hidupnya penuh liku, air mata dan cerita duka. Kini mulai menjemput bahagianya. Di awal dulu, dirinya menanti hati seorang Alby untuk menerima dirinya masuk ke hidupnya. Walau sempat berbalik, Alby yang menanti hati Nadira selama bertahun-tahun. Kini penantian mereka berbuah manis. Satu hal yang di yakini Dira, bahwa penantian itu tidak akan ada yang sia-sia.

__ADS_1


SELESAI


...****************...


__ADS_2