Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 145


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Hanan, Alby selalu mengembangkan senyumnya. Wajahnya juga tak sedatar dulu. Selama tiga tahun Dira pergi, selama itu pula, Alby memasang wajah datar dan dingin.


" Kenapa sich, Kak. Senyum-senyum Mulu."


Ucap Aya yabg ada di sebelah Alby.


" Ay, kamu tahu gak. Kakak kemarin ketemu siapa?"


" Mana Aya tau kak. Emangnya Aya dukun. Bisa ngeliat"


Ucap Aya sambil memakan nasi goreng di hadapannya.


" Kakak ketemu sama Dira dan Hanan."


Ucap Alby berbinar. Dan Aya terdiam menatap wajah kakaknya.


" Kak, Aya tau, kakak lagi kangen sama mereka ,tapi jangan ngaco gitu dong. Yang kangen kan bukan kakak aja, Aya juga kangen."


Alby menatap adiknya yang mengurungkan niatnya untuk menyantap nasi goreng. Alby melihat mata Aya yang berkaca-kaca. Lalu senyum kembali terbit di wajah Alby.


" Kakak gak bohong, Ya. Kakak ketemu mereka kemaren di mall. Hanan udah besar, Ya. Sayang, kakak gak mendengar kata pertama nya, langkah pertamanya, dan cerita pertamanya. Seandainya waktu bisa kakak putar, kakak akan memilih menghindari hal bodoh itu."


Aya menatap getir ke Alby. Jelas sekali tercetak penyesalan mendalam di hatinya.

__ADS_1


" Kak, coba rayu sang pemilik alam dipertiga malam. Aku dengar cara itu efektif. Selain merayu hati orangnya juga."


Ucap Aya sambil menampilkan senyum manisnya.


" Adek kakak udah mulai bijak."


" Tentu dong, Aya..."


Lalu mereka pun menyelesaikan acara sarapan pagi itu. Aya harus ke kantor milik sang Papa. Sedangkan Alby akan berangkat ke kantornya.


Sementara di rumah Bram. Drama pagi ini pun terjadi. Karena pagi ini, Hanan rewel akibat di tinggal oleh Bram yang harus ke luar kota.


" Mau, Papa...mau papa.."


" Papanya kerja dulu, besok papa pulang, Nak. Hanan gak boleh nakal."


Namun Hanan masih menangis kencang. Semua ini terjadi saat Hanan bangun namun tak melihat Bram. Sedangkan kedua eyangnya pun tak mampu lagi membujuknya.


Baru kali ini Hanan seperti itu. Dan itu membuat semua orang kewalahan.


" Sayang, udah dong. Jangan nangis lagi. Besok kita main lagi sama Papa Bram. Oke?"


" Ndaakk...mau papa."

__ADS_1


Demi memenangkan Hanan yang sedang menangis, akhirnya Dira berinisiatif membawa Hanan ke taman untuk mengalihkan perhatiannya.


Dira membawa Hanan ke sebuah taman, selama di perjalanan Hanan masih sesegukan, walau tangisannya sudah mereda.


" Sayang, liat deh. Disana banyak temennya. Kita main ke sana ya."


" Ucap Dira saat mereka masih di dalam mobil."


Hanan pun melihat dan tangisannya berhenti. Lalu mengangguk. Setibanya di taman, Hanan langsung bermain, seakan lupa dengan tangisannya tadi. Dira memperhatikan Hanan yang bermain sambil duduk tak jauh dari Hanan.


Alby yang baru saja akan menemui kliennya, melihat Dira duduk di taman, dan Hanan yang sedang bermain. Alby ingin menemui mereka namun kliennya sudah lebih dulu membuat janji olehnya. Al hasil Alby menghubungi sekretaris nya untuk mengatur ulang jadwal pertemuan mereka.


Alby segera memarkirkan mobilnya. Lalu berjalan mendekati Dira.


" Assalamualaikum, Dir."


Dira terperanjat, melihat Alby ada di taman.


" Waalaikumsalam, Mas. Kamu kok disini?"


Alby tersenyum kikuk, lalu duduk di sebelah Dira.


" Ya, aku kira tadi itu bukan kamu. Makanya aku dekati, dan ternyata ini beneran kamu."

__ADS_1


Dira mengerutkan keningnya. Lalu melihat kembali ke arah Hanan. Hanan sedang asik bermain pasir. Hanan pun melihat ke arah Dira, dan melambaikan tangannya.


__ADS_2