
Alby membaca buku harian itu. Dan betapa dia pun menyadari, bahwa dirinya sudah terlalu menyakiti Syifa. Alby menghela nafasnya, saat dirinya selesai membaca isi dari buku harian milik Syifa.
Flashback off.
Alby memijit pelipisnya, rasa pusing dan mual yang di deranya sejak seminggu ini, sungguh membuatnya menderita. Lagi-lagi Alby berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya, hingga hanya cairan yang keluar. Alby segera membersihkan bibirnya dengan tisu. Entah mengapa, saat ini dirinya sangat ingin berada di dekat Dira.
"Bram, Lo handel semua rapat hari ini. Gue mau balik."
Ucapnya saat menelpon Bram. Tanpa mendengar jawaban dari Bram, Alby langsung melenggang keluar kantor.
" Eh... Busyeeeettt..."
Bram mengumpat, saat dirinya tau, Alby mematikan telepon, tanpa mendengar jawaban darinya.
Kini Alby berada di balik kemudi, rasa rindu pada sang Istri membuatnya menjalankan mobilnya menuju butik tempat istrinya berada. Kini mobil Alby telah terparkir sempurna di depan Butik milik Dira. Butik yang di beri nama " Azzura".
Nama yang pernah di tanyakan oleh Alby. Dan jawaban sederhana Dira membuat Alby tersenyum. Biru langit, itu karena Alby yang sangat menyukai warna itu, dan laut yang berwarna biru menjadi kesukaan Dira.
__ADS_1
Alby melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik. Ada Atik disana. Melihat kedatangan Alby, Atik melihat jam di tangannya. Jam sebelas siang.
" Siang, Tik. Dira ada kan?"
" Siang, pak Alby. Mbak Dira ada di ruangannya. Mau saya antar Pak?"
Atik menawarkan diri. Di sambut gelengan oleh Alby.
" Gak usah, Tik. Kamu lanjut aja, Saya keatas dulu ya?"
Atik mengangguk. Lalu kembali menata baju-baju yang sudah selesai di kerjakan, dan memajangnya di manekin.
Dengan langkah pelan, Alby mendekati Dira. Dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Dira. Dira yang sudah hafal dengan aroma Alby, tersenyum . Lalu membalikkan badannya hingga mengarah ke Alby.
" Aku kangen."
Ucapnya sambil mencium bibir Dira. Dira tertawa mendengar ucapan Alby.
__ADS_1
" Gombal." Ucap Dira selanjutnya.
Alby menegakkan badannya, lalu berjalan ke arah pintu, meletakkan tanda sibuk tak ingin di ganggu di handle pintu. Dan menguncinya.
" Kok di kunci?"
Bukannya jawaban yang di dapat, namun Alby mengangkat tubuh Dira ala bridal style. Dira sempat terpekik tertahan.
" Mas, kamu-"
Belum selesai Dira bicara, namun bibirnya sudah di bungkam dengan bibir Alby. Alby membawa Dira ke kamar yang memang sengaja di buat di ruangan itu. Alby yang meminta, karena di tan ingin Dira kelelahan dan tertidur di meja kerjanya.
Alby membantu melepaskan hijab yang di pakai Dira. Membiarkan rambutnya yang panjang itu tergerai. Kini mereka tengah merebahkan tubuhnya. Alby tampak memandang mata Dira secara lembut. Di matanya Alby menemukan ketenangan yang di cari olehnya.
" Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita ke aku, Mas. Jangan pikul sendiri kalau kamu gak kuat memikul itu sendirian."
Ucap Dira sambil membelai wajah Alby. Rahangnya yang kokoh selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi Dira.
__ADS_1
Alby menggenggam tangan Dira, lalu mengecupnya. Lalu Alby menenggelamkan wajahnya diantara ceruk leher Dira. Mencium leher jenjang itu. Dan sedikit penyesapnya. Hingga meninggalkan jejak kebiruan disana.