Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 122


__ADS_3

Keesokan harinya, di temani langit sendu, dan sedikit gerimis tubuh Syifa yang telah terbungkus kafan di masukkan ke dalam peristirahatan terakhirnya. Air mata tak dapat di bendung lagi oleh Tante Yuni. Ibu yang melahirkan dan yang merawatnya saat ini. Kedua orang tua Alby tampak hadir di sana. Bahkan Alby ikut prosesi pemakaman itu. Hanya Aya yang tampak tak hadir.


Para pelayat yang menghantarkan Syifa ke peristirahatan terakhirnya mulai pulang. Kini hanya Alby dan Tante Yuni yang ada disana. Bahkan Papa dan Mama Alby pun sudah meninggalkan area itu. Alby masih memegangi batu nisan Syifa. Sedangkan Tante Yuni tampak sudah dapat mengikhlaskan kepergian anaknya.


Langkah kaki seseorang terdengar mendekati makam. Tante Yuni mendongakkan wajahnya demi melihat siapa orang itu. Setelah tau siapa yang datang, Tante Yuni memilih meninggalkan mereka berdua disana.


" Aku turut berduka cita, Al."


Alby mengalihkan pandangannya menatap wajah yang ada di dekatnya.


" Bram? Terima kasih, dan aku mohon maafkan kesalahan Syifa, baik yang di sengaja atupun tidak. "


Ucap Alby sembari menatap nanar batu nisan Syifa.


" Aku sudah memaafkannya."


" Terima kasih."


Lalu Bram pun pergi meninggalkan makam, saat Bram akan beranjak pergi, Alby memanggilnya.


" Bram,... maaf, karena sudah membuatmu kecewa."


Alby kini sudah berada di belakang Bram. Hanya berjarak beberapa langkah saja.

__ADS_1


"Seharusnya kau meminta maaf pada Dira dan calon anakmu, bukan padaku. "


Bram berkata dengan sedikit menolehkan kepalanya. Tak berniat untuk melihat Alby. Lalu kembali berjalan ke luar area pemakaman. Saat akan memasuki mobilnya, Tante Yuni mendekati Bram.


" Tante mohon, maafkan kesalahan anak Tante. "


Bram membalikkan badannya.


" Saya sudah memaafkannya Tante. Syifa juga korban dari keegoisan. Waktu yang telah lewat tak bisa di ulang, dan saya rasa semua sudah terjadi."


Bram masuk ke mobilnya dan menjalankannya menjauh dari area itu. Alby dan Tante Yuni sama-sama saling diam.


" Kita pulang, Ma."


Dengan di bantu oleh Bik Tia, Tante Yuni menyiapkan acara pengajian, sedangkan Alby datang sebelum acara itu di mulai. Alby lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya.


" Al, setelah pengajian malam ketiga Syifa. Mama Al. kembali ke Medan. "


Ucap Tante Yuni sesaat setelah pengajian malam itu selesai. Alby menatap Mama mertuanya.


" Kenapa cepat sekali, Ma?"


" Syifa sudah tiada, jadi lebih baik mama kembali kesana. Untuk acara pengajian berikutnya, Mama akan adakan disana."

__ADS_1


Alby mengangguk.


" Kalau mama perlu sesuatu, mama bisa hubungi Alby. "


Lalu Alby pun berpamitan pulang, malam ini dia akan pulang ke rumah orang tuanya. Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, kini Alby tiba dirumah orang tuanya. Di lihatnya Aya yang baru saja datang. Tak lama setelah dirinya membuka pintu rumah.


" Kamu dari mana, Ya. Kenapa jam segini baru pulang?"


" Aya baru pulang dari Kalimantan. Cabang disana ada masalah, dan Aya harua turun tangan sendiri."


" Apa kamu tau, kalau-"


" Iya kak, Aya tau, tapi Aya gak bisa pulang kak. Aya turut berduka cita."


Lalu Aya meninggalkan Alby.


" Apa begini caramu Ya. Apa kamu gak bisa menghargai kakakmu?"


Aya berbalik, dan melihat Alby. Dirinya memindai Alby dari atas sampai bawah.


" Apa Aya harus menghargai orang yang sudah merebut kebahagiaan orang lain? Menjauhkan seorang Ayah dari putranya yang belum lahir?"


Ucap Aya sambil melipat tangannya.

__ADS_1


"AYAAAAA....."


__ADS_2