
" Makasih Tante. Tante mau repot untuk Dira "
Tante Dwi menghampiri Dira yang tampak berkaca -kaca di meja makan.
" Hei,Kamu itu sudah Tante anggap anak Tante. Jadi kamu gak perlu sungkan. Tante sayang sama kamu."
Ucapnya sambil menangkup wajah Dira. Air mata Dira menetes di sela senyumnya. Lalu Om Hendra pun datang menghampiri.
" Sudah...sudah, kok pada nangis. Ayo Dira , kamu makan. Kasian anakmu pasti sudah lapar."
Dira pun makan di temani oleh Tante Dwi dan Om Hendra. Tante Dwi mengupas beberapa buah dan di letakkan di piring. Om Hendra tampak sesekali mencomot buah yang di potong oleh Tante Dwi.
Setelah Dira selesai, dan buah pun tersedia, kini mereka tengah duduk di ruang keluarga. Menikmati acara televisi. Tak lama terdengar suara Dion dari luar. Dion baru saja pulang memancing bersama Mang Asep. Mang Asep dan Dion tampak membawa ikan gurame.
" Wah...banyak hasilnya ini, Sep."
__ADS_1
Om Hendra tampak memuji hasil tangkapan Asep. Dan dengan bangga Dion mengatakan kalau itu adalah hasil tangkapannya. Dan mereka berencana untuk membakar ikan malam ini.
Malam harinya, acara bakar ikan pun terlaksana dengan baik, Mang Asep membakar ikan, di bantu Kak Dion. Sedangkan Buk Siti bertugas menyiapkan bumbu dan sambalnya. Sedangkan Dira sama sekali tak di izinkan mengerjakan apapun. Wajah Dira sempat tertekuk, karena keinginannya untuk membantu di larang oleh Tante dan Dion.
Mereka pun melewati malam dengan banyak bercanda, dan Dira juga ikut tertawa dengan kelucuan yang di buat oleh mang Asep dan juga Kak Dion. Dion bahkan sampai menyeka sudut matanya, ketika melihat Dira tertawa dengan lepasnya. Dirinya tak mengira, Dira begitu banyak menderita beberapa waktu terakhir.
" Ra, ini ikannya. Baru aja matang, Kakak mu yang ganteng ini loh yang membakarnya."
Dira menjulurkan lidahnya.
"Dih..ni anak. Dari dulu paling gak pernah muji Kakaknya."
Dan ditanggapi dengan cuek oleh Dira. Kini mereka tengah menikmati makan malam, dengan beralaskan tikar di taman belakang. Tak ada batas diantara mereka. Bahkan saat Mang Asep dan Buk Siti akan makan di rumah mereka. Tante dan Omnya Dira pun menahan mereka. Akhirnya malam itu mereka makan bersama.
Pukul sepuluh malam, mereka semua masuk ke dalam rumah. Karena udara malam tidak baik untuk kesehatan Dira yang sedang berbadan dua.
__ADS_1
" Sayang, kamu masuk ya. Udah malam banget. Nanti susunya Tante Anyer ke kamar."
" Gak usah, Tante. Biar Dira aja yang buat. Tante dan Buk Siti pasti udah capek banget."
" Gak, pokoknya sekarang kamu naik ke kamar kamu. Biar Tante yang anterin susunya. Udah cepetan."
Akhirnya Dira mengalah dan memilih untuk masuk naik ke kamarnya di lantai dua. Dion yang melihat Dira naik pun segera membantunya. Dion sigap berada di samping Dira, bahkan memegangi tangan Dira.
" Apaan sich, Kak. Dira tuh bisa jalan sendiri loh. Gak perlu di pegangin juga."
Dira mulai sebel dengan sikap Kakak sepupunya ini.
"Jangan bandel, kamu lagi hamil. Seharusnya kamu pilih kamar yang ada di bawah. Bukan nya kamar yang diatas."
Dira berhenti dan menatap kakaknya. Saat ini Dion sangat cerewet tentang keadaan Dira. Bukan hal yang luar biasa karena Dion memang sangat menyayangi Dira.
__ADS_1