
Resepsi pernikahan Dion dan Dea berlangsung meriah. Dira memenuhi janjinya ya g hanya datang di saat resepsi. Dea tampak sumringah saat melihat Dira datang dengan menggandeng tangan Hanan. Bahkan Dion turun dari pelaminan, untuk menyambut pangeran kecil itu.
" Sayangnya Ayah Di, akhirnya datang juga. Ayah nungguin Hanan loh."
Dira hanya tersenyum lalu mendatangi Dea mengucapkan sebait doa bagi pasangan pengantin baru ini. Dan di akhiri dengan saling berpelukan. Dion menggendong Hanan ke pelaminan, Dea pun mencium gemas balita yang juga mencuri hatinya ini.
" Dir, Hanan biar sama kita dulu, ya? Kamu bisa menikmati acaranya."a
Ucap Dea sambil mendorong tubuh Dira. Dira menatap kesal ke arah sahabatnya ini. Seenaknya saja mengusirnya dari pelaminan, dan menjauhkan Hanan darinya. Tante Dwi yang melihat interaksi mereka hanya tersenyum.
" Nanti kita buat yang lebih gemes dari ini ya, Yang."
Dion berbisik di telinga Dea. Membuat Dea meremang dan menunduk malu. Entah Semerah ala sekarang wajahnya.
Dira menghampiri om dan tantenya yang sedang menghampiri tamu. Tak lama terlihat kedatangan Bu Yasmin dan pak Haidar. Serta Bram dan juga Luna. Dira yang melihat kedatangan mereka langsung menyambutnya dan mencium tangan kedua orang tua itu secara takzim. Bahkan Bu Yasmin memeluk dan mencium Dira meluapkan rasa rindu pada wanita satu anak ini.
Begitu juga dengan Pak Haidar, langsung memeluknya bagai seorang ayah yang merindukan anaknya.
" Om dan Tante sangat merindukan mu, Nak."
__ADS_1
" Dira juga rindu dengan Tante dan Om."
" Trus sama kita gak rindu gitu?"
Dira melihat ke arah Luna dan juga Bram. Mereka tampak serasi menggunakan pakaian yang senada. Dira lalu memeluk Luna. Dan hanya bersalaman pada Bram. Dira membawa mereka ke salah satu meja yang ada.
" Kalian kapan nyusul seperti Kak Dion. Ayo dong, kak Bram."
Luna menatap Bram, dan sebaliknya.
" Kita mau nyari adiknya Mas Bram dulu, Ra."
Saat Bram akan bercerita, dari arah pelaminan, Hanan datang menghampiri Dira.
" Ini Hanan, Ra? Ya ampun udah gede ya? Ganteng banget."
Dira tersenyum, lalu meminta Hanan untuk menyalami Bram dan juga Luna. Luna bahkan sempat memeluk bocah tampan itu.
Lalu Bram menatap Hanan dan membelai rambut lebat bocah yang banyak merebut hati orang itu. Setelah tiga tahun, ini adalah kali pertama mereka semua bertemu Hanan lagi.
__ADS_1
" Selama ini, kamu dimana Ra? Aku beberapa kali mendatangi alamatmu di Bandung, tapi kata penjaga rumah, kamu pindah dan mereka gak tau kamu kemana."
Bram membuka suara, dan menatap Dira yang sedang memangku Hanan.
" Aku pindah ke Bali, Kak. Dan panjang ceritanya, aku pasti akan cerita, tapi gak disini."
Bram pun mengangguk.
" Wajahnya sangat mirip ya, Ra."
Ucap Bram kemudian. Tatapannya tak lepas dari Hanan yang saat ini sedang menikmati cake di meja dan masih di pangku oleh Dira.
" Iya, sepertinya dia ingin menjelaskan pada Dunia,bahwa dia adalah anaknya. Semua sangat mirip, bahkan kesukaannya pun sama. "
Dira menatap anaknya. Memang benar, Hanan sangat mirip dengan Alby. Wajahnya, rambut dan alisnya yang tebal. Tetapi saat tidur wajah Hanan sangat teduh, seperti Dira.
" Ma, mau bobo. "
Ucapnya kemudian. Dan membuat Dira berpamitan pada Bram untuk membawanya menuju kamar yang ada di sana.
__ADS_1
" Mau sampai kapan kamu bermusuhan dengan Alby, Mas. Kejadian itu sudah lama. Sepertinya Dira baik-baik saja."