
Waktu cepat bergulir, tak terasa hari yang di nanti itu tiba. Di hadapan Papa Haidar, lelaki pilihan Dira itu menyambut uluran tangan Papa Haidar. Di hadapan penghulu dan para saksi. Ikrar itu terucap. Di sambut oleh kata Sah, dan ucapan Hamdallah.
Dira masih berada di sebuah ruangan, saat ijab qobul berlangsung. Setelah terucap kata Sah, barulah Dira di bawa keluar oleh Dea dan juga Mama Yasmin.
Dira di dudukan di sebelah lelaki yang kini menjadi suaminya. Mereka menandatangi beberapa berkas. Dan di lanjutkan dengan memakai kan cincin di jari manis mereka. Dira mencium takzim tangan yang kini telah menjadi imamnya. Dan di sambut dengan ciuman dalam di kening Dira.
Kini sepasang pengantin baru itu tengah duduk di pelaminan. Menerima para tamu undangan yang memberikan ucapan selamat. Kedua pengantin itu tampak memberikan senyum pada para tamu undangan. Tapi sebenarnya lelaki yang menjadi pilihan Dira lah yang merasa paling bahagia saat ini.
Pernikahan Dira pun berlangsung dengan meriah dan megah. Lelaki yang berbahagia itu, hanya ingin membuat wanitanya merasa bahagia.
Di balik senyum sepasangan pengantin itu, ada sepasang mata yang menyaksikan kebahagiaan mereka dengan hati yang hancur. Namun dirinya tetap menampilkan senyum di bibirnya.
" Apa kamu patah hati?"
Tepukan seorang wanita dan pertanyaannya nya mampu mengalihkan pandangannya dari pelaminan ke wanita di sampingnya. Dia menghela nafas, lalu sedikit menipiskan bibirnya.
" Apa kamu juga tidak patah hati, saat menyaksikan laki-laki yang kamu cintai justru menikah dengan sepupuku, Nona Cahaya Rafadian?"
Ya, wanita itu adalah Aya. Dan lelaki yang sedang berbicara itu adalah Zaidan. Dira pada akhirnya memilih Alby kembali. Bukan hanya karena memikirkan kebahagiaan Hanan, namun jauh di lubuk hatinya, Alby masih sangat bertahta.
"Aku memang patah hati, tapi aku hanya mampu mendoakan, semoga sepupumu, Sekar, mampu membahagiakan dirinya. Aku ikhlas. Mungkin aku memang bukan jodohnya."
__ADS_1
Zaidan mengangguk, lalu kembali berbincang pada Aya.
"Maaf, apa saat ini kamu membenci Kak Alby atau kak Dira?"
Tanya Aya di sela-sela perbincangan mereka.
" Tidak, aku bahagia, melihat Dira bahagia. Bukankah level tertinggi dari seseorang yang mencintai, adalah melepaskan orang yang di cintainya untuk bahagia bersama pilihannya? Bukankah itu juga yang kamu lakukan, Nona Aya?"
Aya menyetujui akan hal itu. Karena Aya sudah lebih dulu berada di posisi yang saat ini Zaidan rasakan.
Semetara di pelaminan. Alby tak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya. Bahkan Alby terang-terangan mencium tangan Nadira saat para tamu sudah kembali ke tempat duduknya.
" Seharusnya pernikahan kita tidak usah semeriah ini, Mas."
" Tapi ini berlebihan."
Alby membelai wajah ayu wanita yang kembali menjadi istrinya.
" Aku hanya ingin memulai semuanya, aku ingin kamu selalu mengingat, bahwa hari inilah pernikahan kita. Oke."
Dira tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
" Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua. Terima kasih, masih mempercayakan hatimu untukku. I love you."
Dira bersemu mendengar ucapan dari Alby. Tak lama Hanan berlari ke pelaminan, tempat dimana Papa dan Mamanya berada.
Tak lama, Zaidan naik ke pelaminan, di ikuti Aya di belakangnya.
" Selamat bro. Semoga pernikahan kalian langgeng, dan semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah warahmah. Sekali lagi selamat. Aku turut berbahagia."
Ucap Zaidan sambil memeluk Alby. Lalu Zaidan menatap Dira dan memberikan senyuman tulusnya.
" Selamat Ra. Semoga kamu bahagia selalu."
" Makasih, Dan. Aku mohon maafkan aku, Dan."
Ucap Dira tulus pada Zaidan.
" Kamu gak salah, tak seharusnya meminta maaf."
.
.
__ADS_1
.** Udah tau kan, siapa pilihan Dira. Jangan marah ya apabila tidak sesuai keinginan kalian. Yang mau unfav silahkan, dan aku minta gak usah ninggalin jejak ya...π Terima kasih untuk semua dukungan kalianππ love you All...πππππ₯°π₯°π₯°**