
Mendengar penuturan Nadira membuat Alby mengerutkan keningnya.
" Kamu ingin aku ikut denganmu begitu?"
Nadira menganggukkan kepalanya.
" Siapa dia? Apa dia mengganggumu sampai aku harus ikut denganmu?"
Nadira menghela nafasnya.
" Bbukan seperti itu, hanya saja...ini adalah bagian dari kejutan yang akan aku berikan. Bukankah aku pernah bilang, kalau aku akan memberikan kejutan di hari ulang tahun Mas Alby. Maka dari itu, aku ingin Mas Alby meluangkan waktu, mungkin sekitar 3 Minggu lagi, kita akan bertemu dengan orang itu."
Nadira mencoba menjelaskan kepada Alby. Alby yang mendengar penuturan dari Nadira, menegakkan tubuhnya. Ia tak menyangka, gadis di hadapannya ini, akan benar-benar menepati ucapannya.
" Jadi kamu benar-benar akan memberikanku kejutan?"
Alby sempat mengalihkan tatapannya ke arah lain, senyum kecil terbit di wajahnya. Senyum yang sulit diartikan oleh dirinya sendiri.
" Aku kira kamu hanya menyemangati ku yang saat itu tengah terpuruk diatas kursi roda. Ternyata kamu benar-benar serius."
Lanjut nya kemudian.
__ADS_1
" Maaf mas, Aku hanya mencoba menepati janjiku. Hanya itu."
Nadira lalu beranjak pergi, menuju kamarnya. Ya saat ini mereka masih tetap berpisah kamar. Walau sudah delapan bulan mereka berumah tangga. Alby menatap punggung Nadira. Entah mengapa ada rasa yang lain di hatinya.
...****************...
Pagi itu, seperti biasa, Nadira menyiapkan sarapan untuk mereka.
" Selamat pagi, Dira. "
Sapa Alby yang melihat Dira sedang menata sarapan di meja makan.
" Pagi, Mas. Sarapan dulu, ada nasi goreng sosis. Apa mas mau yang lain?"
" Nasi goreng ini aja. Dan..."
" Secangkir teh, tunggu aku ambilkan."
Nadira memotong perkataan Alby. Membuat Alby tersenyum tipis.
"Sudah mulai paham kebiasaan ku ternyata." Batinnya.
__ADS_1
Mereka pun sarapan dengan diam. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Setelah selesai, Alby berdehem untuk memulai pembicaraan dengan Nadira.
" Dira, hm..mulai hari ini, akan ada seorang yang akan membantu membersihkan rumah ini. Namanya Mbok Kasum. Usianya sekitar lima puluh tahunan, dulunya mbok kasum bekerja dengan Mama. Tapi sekarang, aku memintanya untuk membantumu di rumah ini, apa kamu keberatan?"
" Aku gak keberatan, malah aku senang, aku punya teman bicara di rumah ini."
" Maafkan aku, Dira. Selama beberapa bulan ini, aku mengacuhkan mu. Bahkan menyalahkan mu atas perjodohan ini. Maafkan kelakuan kasarku padamu."
Nadira tersenyum mendengar penuturan maaf dari Alby. Di tatapnya mata hitam milik Alby. Terlihat penyesalan disana.
" Gak perlu minta maaf, Mas. Aku sudah memaafkan semuanya. Aku juga berterima kasih, karena Mas sudah mau menerimaku di rumah ini. Suatu saat aku pasti akan merindukan rumah ini."
Ucapan Nadira menjadi tanda tanya besar bagi Alby.
" Emang kamu mau kemana?"
" Suatu saat aku pasti akan pergi dari sini. Apabila saat itu tiba, aku mau kamu bisa mengenang aku sebagai teman di rumah ini. Bukan sebagai musuh mu."
Alby menatap dalam pada Nadira. Namun Nadira dengan santai nya kembali memakan sarapannya.
"Apa maksud ucapan nya. Dia akan kemana? Apa dia akan pergi jauh? Atau dia mempunyai penyakit mematikan, yang akan merenggut nyawanya. Ah... tidak-tidak, aku ini mikir apa sich. Mungkin ini hanya sekedar ucapan nya saja. Mungkin karena selama ini aku dan dia bagai orang asing, makanya dia akan pergi dari rumah ini." Batin Alby.
__ADS_1
Alby masih melanjutkan sarapannya. Hanya saja, kini pikirannya sedang tidak fokus. Dirinya masih terus mencerna ucapan Nadira.