
" Mas, kita kesana yuk. Aku pingin kita foto disana. Mas gak keberatan kan? Anggap saja sebagai kenangan."
Nadira meminta kepada Alby. Alby menatapnya heran. Tapi tetap menuruti keinginan Dira. Di karenakan ini hari Jumat, maka taman itu di tutup pukul 18.00 wib. Setelah mengambil banyak foto. Akhirnya Alby dan Dira bergegas untuk pergi, di karena kan waktu sudah menunjukkan pukul 17.45 wib.
" Kamu sepertinya tau banyak ya, kota ini."
Alby bertanya pada Dira yang duduk di sebelahnya. Alby mengendarai mobil sewaan untuk beberapa hari ini.
" Aku cuma searching di google aja. Sambil menunggu waktu. Kan lebih baik kita isi dengan hal yang indah. Untuk kenang-kenangan."
Alby mengerutkan keningnya. Karena dari tadi Dira selalu saja mengatakan kenangan. Mereka tiba do hotel pukul 19.30 wib. Perjalanan yang lumayan, serta kepadatan kota Medan membuat kendaraan mereka berjalan lambat. Setelah memakirkan kendaraannya. Alby dan Nadira berjalan menuju lift, yang akan mengantar mereka menuju lantai tempat kamar mereka menginap. Sesaat sebelum Alby masuk ke kamarnya, Nadira mengatakan ingin mengajak Alby makan di luar malam ini. Alby sangat bingung dengan sikap Nadira. Tapi entah mengapa, justru ia bahagia.
Hampir pukul sembilan malam, Alby dan Dira tiba di sebuah cafe yang bernuansa romantis di kota Medan. Alby pun menggeser sebuah kursi, lalu meminta Nadira untuk duduk. Setelah itu, Alby duduk di depan Alby. Sebelum berangkat, Nadira sudah memberikan alamat pada Syifa. Dan meminta Syifa datang di pukul sepuluh malam. Karena Nadira ingin mereka menghabiskan waktu berdua.
__ADS_1
Tak lama pramusaji pun datang membawa pesanan mereka. Lalu mereka makan dengan berbincang santai. Sampai sebuah notifikasi masuk ke ponsel Dira. Dan membuat Dira membalasnya. Ketika mereka sedang berbincang, seseorang datang mendekati meja mereka.
" Sofia."
Syifa menyapa Nadira. Alby yang kenal betul suara itu, menegang, lalu membalikkan badannya. Tampak Alby dan Syifa sama -sama terkejut. Bahkan Syifa sempat mundur beberapa langkah. Namun Dira justru mendekati dan membuat mereka berdua tambah bingung.
" Dira, apa maksudnya ini?"
Alby mencoba bertanya pada Dira. Namun tatapannya tetap mengarah kepada Syifa. Syifa pun tak dapat bicara. Dia hanya diam terpaku. Sampai tangan Dira menuntun nya untuk duduk di meja mereka.
Syifa berkata dengan bergetar, dan air mata meluncur dari matanya.
" Aku akan jelaskan. Syifa aku adalah Nadira. Wanita yang di jodohkan oleh Orang tua Mas Alby. Maaf, aku harus menggunakan nama belakangku untuk terus berteman denganmu."
__ADS_1
" Kamu membohongi ku. Aku benci."
Syifa hendak pergi, namun dengan cepat, Nadira menggenggam tangan Syifa.
" Dengarkan dulu Syifa. Aku akan menjelaskan semua kepadamu. Kamu duduklah."
Alby hanya terdiam, tak bisa berkata sepatah kata pun.
" Syifa, aku tahu kamu dan Mas Alby sudah lama berpacaran. Aku yang merusak hubungan kalian. Aku masuk ditengah-tengah kalian. "
Nadira berbicara sambil menggenggam tangan Syifa. Syifa hanya mampu menatapnya. Lalu Nadira menipiskan bibirnya.
" Mas Alby menikahi ku, bukan karna keinginannya. Ini bukan kesalahannya. Ini adalah perjanjian kedua orang tua kami. Dan saat ini, kedua orang tuaku sudah meninggal, jadi Mas Alby tak harus menuruti mereka lagi."
__ADS_1
Tanpa sadar air mata Nadira jatuh. Alby yang melihatnya pun merasa sakit di hatinya. Nadira pun melanjutkan bicaranya.