
Alby sudah berada di meja kerjanya. Tak lama sang asisten dan juga sahabat baiknya masuk ke ruangan.
" Pak, meeting dengan Pak Sanjaya satu jam lagi. Semua berkas-berkas sudah saya siapkan."
Alby hanya mengangguk. Dengan mainkan bolpoint yang ada di tangannya. Tatapan matanya menunjukkan bahwa saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja.
" Apa Anda baik-baik saja, Pak?"
Bram bertanya pada sahabat sekaligus atasannya ini. Alby tampak menghela nafasnya.
" Duduk Lo. Gue mau cerita ma Lo.
Bram menatap sahabatnya ini bingung.
" Maaf Pak, ini masih jam kantor. Berarti saya masih menjadi bawahan Bapak."
Ucapnya kemudian, membuat Alby menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Oke, jam makan siang, Lo harus dengerin cerita gue."
Bram hanya mengangguk tanda setuju. Dan mereka pun bergegas menuju tempat pertemuan dengan Pak Sanjaya. Selesai pertemuan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh menit. Alby pun meminta Bram untuk langsung mencari tempat makan siang.
" Lo mau cerita apa sich ma Gue."
Bram langsung mencecar Alby dengan pertanyaan. Begitu mereka mendudukkan diri di salah satu resto. Alby menghela nafasnya, lalu memulai ceritanya pada Bram. Bram menyimak cerita dari Alby, dan sesekali ekspresinya berubah.
" Kira-kira Nadira mau bertemu siapa ya Bram? Trus kenapa juga mesti Gue ikut?"
Bram menatap dalam ke Alby.
__ADS_1
"Lo udah tanya, dia mau Lo jumpa sama siapa?"
" Udah, dia cuma bilang, ini bagian dari surprise yang bakalan dia kasih ke Gue. Makin puyeng Gue."
" Ya, Lo tunggu aja, tiga Minggu lagi kan? "
Alby hanya mengangguk, lalu mereka pun kembali menyantap makan siang di restoran tersebut.
...****************...
Di ruko, Nadira yang tengah mencatat barang masuk, dan beberapa pesanan sedang di packing menunggu sang empunya menjemput.
" Dira, kita makan siang dulu ya."
Nadira pun langsung melihat jam di pergelangan tangannya.
Nadira berpesan kepada karyawan nya. Lalu mereka pun makan bersama. Nadira memang selalu saja begitu, tak pernah ada batasan dengan karyawannya. Mereka selalu saja makan bersama di dalam ruko.
" Dira, kamu gak kepikiran untuk produksi gamis atau apa gitu. Kan kamu jago banget gambar- gambar gitu. Jadi gak ada salahnya juga, kamu produksi sendiri trus kamu jual di ol shop kita."
Dea memberikan ide untuk Dira.
" Aku cuma bisa mendesainnya doang, urusan buat pola dan jahitnya aku mana bisa, De." Ucap Dira.
" Hm..maaf Mbak Dira dan Mbak Dea, kalau saya boleh ikut bicara."
Atik memulai bicaranya, Dira dan Dea menatap untuk meminta melanjutkan ucapannya.
" Kalau Mbak membutuhkan tenaga buat pola dan menjahit, Atik punya teman, dia bisa buat pola dan menjahit. Kalau emang Mbak mau, kita bisa minta bantuan dia."
__ADS_1
Dengan cepat, raut wajah Dea sumringah. Dira masih tampak memikirkan usul dari Dea dan juga dari Atik.
" Benar juga yang di usulkan Dea, gak ada salahnya aku mencoba. Demi meningkatkan lagi penjualan ol shop ini. "
" Nah, gitu dong. Itu baru Dira. Yang selalu semangat dalam menghadapi apapun. Gimana, kalau besok kita belanja cari bahan untuk memulai produksi gamis buatan kamu. Aku pernah liat tu beberapa rancangan kamu, semuanya bagus-bagus. Kita pilih aja satu atau dua. Kita buat sampelnya. Trus kita keluarin deh di ol shop kamu. Kita buat sistem PO. Gimana??"
Dea dengan semangat menggebu menjelaskan kepada Dira.
.
.
.
**Hai reader tersayang ..
Cover NADIRA, akan aku ganti ya.
Doakan agar bisa lulus kontrak.
Tetap komentar, like, dan dukung terus cerita ini ya sayang.
Jangan lupa tambahkan cerita ini di paforite kalian ya.
Terima kasih reades...love you .😘😘😘**
.
.
__ADS_1