Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 85


__ADS_3

Dira membawa Alby ke ranjang mereka. Alby merebahkan kepalanya di paha Dira. Lalu Dira memijit pelan kepala Alby, guna mengurangi rasa pusing di kepala Alby.


" Sudah, Sayang. Kita subuh dulu, keburu habis waktu."


Alby pun beranjak dari rebahannya, lalu mengambil wudhu, bergantian dengan Dira. Setelah selesai, dan memanjatkan doa, Alby kembali merebahkan tubuhnya. Dira pun turun untuk membuat sarapan. Baru saja akan memejamkan matanya, mual itu menerpanya lagi. Alby pun kembali memuntahkan isi perutnya. Hingga dirinya merasa lemas.


Dira menyiapkan secangkir teh jahe, dan sepotong roti untuk Alby. Setelah selesai, dirinya pun masuk ke kamar. Di lihatnya Alby yang masih di atas tempat tidur.


" Mas, kamu gak usah kerja ya?"


Dira meminta Alby untuk tidak masuk kerja. Dira sangat khawatir dengan keadaan Alby saat ini.


" Aku harus masuk, Sayang. Ada meeting penting."


Ucapnya kemudian memakai pakaian kerja di bantu dengan Dira. Setelah selesai, Dira dan Alby pun turun untuk sarapan bersama.


" Minum dulu teh jahenya, Mas."


Alby meminumnya, rasa hangat dari jahe, membuat mualnya sedikit berkurang. Lalu dia pun memakan roti yang di isi dengan selai untuk mengganjal perutnya. Dan Dira pun sarapan dengan menu yang sama, hanya saja Dira memakan sampai tiga lembar roti pagi itu dan juga ditemani segelas coklat hangat. Yang membuat Alby heran, Dira tidak pernah sarapan dalam porsi sebanyak itu. Bahkan Dira memakannya dengan sangat lahap.


" Sayang, pelan-pelan. Kamu laper banget ya?"

__ADS_1


Dira malah tersenyum saat Alby bertanya padanya.


" Hehehe, aku juga heran, Mas. Kok aku sarapan banyak banget ya? Kayaknya aku perlu diet nih, Mas. Nafsu makan aku akhir-akhir ini naik banget."


" Gak usah pake diet, Sayang. Mas suka kamu yang lebih berisi."


Setelah menyelesaikan sarapannya, Alby pun pamit untuk berangkat. Dira mengantarkan Alby sampai ke depan rumahnya. Setelah mengecup kening Dira. Alby pun pergi. Dira masuk setelah mobil Alby tak tampak lagi.


" Mbok, Dira pergi ya?"


Sesaat setelah Alby pergi, kini Dira pun berpamitan,pada Mbok Kasum.


Dira mengangguk lalu, mengucapkan salam. Setelah tiga puluh menit berkendara, Dira tiba di butik nya yang di handle oleh Dea. Butik diberi nama " Azzura 2". Ini untuk membedakan siapa yang menghandle, agar lebih memudahkan Dira untuk mengatur apabila terjadi kesalahan.


" Assalamualaikum. "


Sapanya ketika memasuki butiknya tersebut. Dan seperti biasa, sudah ada Dea disana. Dan menjawab salamnya. Lalu merek pun saling berpelukan.


" Kamu jadi siang ini mau ke rumah sakit?"


Tanya Dira pada Syifa. Karena beberapa hari ini Dea merasa kan ada yang tidak beres pada tubuhnya. Nyeri bulanan yang di rasakannya lebih parah dari pada bulan-bulan sebelumnya. Membuat Dea memberanikan diri memeriksakan kesehatannya.

__ADS_1


" Jadi, kamu temani aku ya, Dir?"


"Iya,..sebelum jam makan siang kan?"


Di jawab anggukan oleh Dea. Setelah itu Dira memeriksa beberapa desain yang dibawanya untuk di sempurnakan.


Jam sebelas siang, Dira dan Dea sudah sampai di rumah sakit. Mereka akan bertemu dengan dokter Obgyn. Setelah mendaftar mereka pun menunggu. Saat nama seseorang di panggil, mengalihkan pandangan Dira. Dia seperti mengenal nama itu. Di lihatnya, seorang wanita ditemani oleh suaminya memasuki ruangan dokter tersebut.


" Kita duduk disitu ya, Dir. "


Tunjuk Dea pada salah satu kursi tunggu. Setelah menunggu beberapa saat, nama Dea pun di panggil. Dira melihat sepasang suami istri yang baru saja keluar dari ruangan tersebut dengan sangat terkejut. Tak kalah terkejutnya dengan mereka yang berpapasan dengan Dira.


" Mas Alby."


" Dira."


Dira melihat Alby dan Syifa keluar dari ruangan dokter tersebut. Namun karena nama Dea telah dua kali di sebut, membuat Dira dan Dea segera masuk ke dalam ruangan dokter itu.


Setelah bersalaman, dan menceritakan keluhannya, Dea kemudian berbaring di ranjang. Dokter melakukan pemeriksaan. Setelah di periksa dan dokter, mengatakan tidak ada yang serius. Dira yang menemani Dea hanya diam saja. Pikirannya berkecamuk. Ada apa sebenarnya antara Alby dan Syifa. Setelah mengumpulkan keberanian nya, Dira pun bertanya pada Dokter Tiara. Dokter yang menangani Dea dan Syifa.


" Dok, maaf. Pasien sebelum teman saya tadi itu, boleh saya tau namanya? Sepertinya saya mengenalnya, tapi saya ragu untuk menyapanya?"

__ADS_1


__ADS_2