
Lagi-lagi suara muntahan Dira membangunkan Alby dari tidurnya. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Hanan sudah siap-siap dengan seragam sekolahnya. Sementara Alby batu saja terbangun karena mendengar Dira yang terus muntah.
" Sayang..."
Alby menahan tubuh Dira yang hampir saja jatuh, akibat terlalu banyak muntah. Seakan seisi perutnya terkuras habis. Wajahnya kembali pucat. Alby meletakkan Dira dengan sangat hati-hati di ranjang. Lalu meminta supir menghantarkan Hanan.
"Pa, mama kenapa?"
Tanya Hanan saat melihat wajah pucat Dira. Ada rasa khawatir di wajah bocah tampan itu. Alby segera membelai rambutnya.
" Mama gak kenapa-napa, Sayang. Mama cuma kecapean aja. Untuk sekarang, Hanan di antar supir dulu ya. Papa mau jaga Mama. Hanan gak apa-apa kan?"
Hanan mengangguk, lalu mencium tangan Alby. Dan mengecup kening Dira yang terpejam. Setelah Hanan pergi, barulah Alby menelpon Dion untuk memintanya datang ke rumahnya.
Setengah jam kemudian, Dion datang bersama Dea. Keduanya tampak cemas, apalagi Dion sudah mengangguk Dira itu adik kandungnya.
" Assalamualaikum, Dira dimana?"
Ucap Dion saat memasuki rumah mewah itu. Asisten rumah tangga pun langsung menunjukkan kamar Dira dan Alby. Dion langsung masuk saat Alby membuka pintu kamar.
" Kenapa bisa begini? Kamu kok ceroboh-"
Ucapan Dion menggantung saat melihat Dea yang mengelus lengannya.
" Mas, kita kesini karna kamu di minta untuk memeriksa keadaan Dira. Bukan ngomel."
Akhirnya Dion pun mengambil stetoskop dari tas yang di bawanya tadi. Dion memeriksa detak nadi, Dira. Keningnya berkerut. Membuat Alby dan Dea menatapnya penuh tanya.
" Kenapa, Mas? Dira kenapa?"
Alby bertanya saat melihat wajah Dion yang mengerutkan kening.
"Mas, di tanya kok bukannya jawab sih. Dira kenapa?"
__ADS_1
Kali ini Dea yang menimpali. Apalagi melihat wajah tegang Alby. Semakin membuat mereka bingung.
"Sejak kapan Dira seperti ini?"
Tanya Dion. Lalu mata Dira terbuka secara perlahan.
" Kak Dion? Dea?"
Dira menyebut nama mereka satu persatu dengan suara lemah. Membuat mereka semua mengalihkan pandangan ke arah Dira. Alby langsung berjalan ke arah Dira. Dan memeluknya.
" Sayang, akhirnya kamu sadar."
" Emangnya aku kenapa, Mas?"
" Kamu tadi pingsan."
Dira masih belum bisa mengingat kejadian yang menimpanya.
" Sejak kapan kamu seperti ini, Ra?"
" Seminggu ini, aku sering pusing, Kak."
" Yang lain?"
Tanya Dion kemudian. Dira lagi-lagi mengingat.
" Aku gak berna*fsu untuk makan. Bahkan gak mau makan sama sekali."
Dion menghela nafasnya. Lalu menatap Dira dan Alby bergantian. Di tatap dengan pandangan seperti itu, membuat Dira dan Alby semakin penasaran.
" Aku sakit apa, Kak?"
Tanya Dira dengan air mata yang menetes. Membuat Alby semakin mendekapnya. Dea pun semakin bingung dengan suaminya ini.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian melakukan pengecekan lengkap di rumah sakit. Aku gak bisa memastikan. Dan kamu, Al. Kalau dugaan aku benar, untuk ke depannya kamu harus sabar menghadapi Dira."
" Mas, maksud kamu apa?"
Tanya Dea dengan nada sedikit meninggi. Pikiran Dea kacau, karena ucapan suaminya.
" Aku hanya menduga. Aku tidak bisa memastikan."
Dira semakin sesegukan di pelukan Alby. Semetara Alby merasa dunianya ingin berhenti.
" Mas, tolong. Kamu menduga Dira sakit apa?"
Dion menatap wajah Alby dan Dira. Sebenarnya dirinya sudah ingin tertawa, namun Dion masih ingin mengerjai pasangan ini.
" Bersabarlah Al. Hanya sembilan bulan."
Dea mengerutkan keningnya. Dion kasihan melihat Dira yang sudah sesegukan, akhirnya Dion mengakhiri drama nya.
" Sepertinya Dira Hamil. Aku gak bisa memastikan.Karena ini bukan bagianku. Kamu bawa aja Dira ke rumah sakit. Untuk lebih lanjut."
Dea, Dira dan Alby hanya terperangah menatap Dion yang tersenyum. Dira dan Alby saling pandang..Lalu Alby dengan cepat memeluk Dira.
.
.
. **Assalamualaikum reader...
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya...giftnya juga..ðŸ¤ðŸ¤
Jangan lupa singgah ke ceritaku yang lain. Judulnya
" CINTA BUNDA PENGGANTI"
__ADS_1
oke Readers...aku tunggu ya...love you All...🥰🥰🥰😘😘😘**