
Setelah selesai makan malam, dan Hanan pun telah tidur. Bram meminta Dira untuk menemui Papa, Mama dan dirinya di ruang kerja sang Papa. Dira pun segera datang.
" Sayang, sini duduk di sebelah mama."
Mama Yasmin dengan senyum lembutnya meminta Dira untuk duduk di sebelahnya. Sedangkan Bram ada di seberang Mama. Dan Papa di meja kerjanya.
" Ada apa, Ma, Pa?"
" Nak, papa ingin bertanya sama kamu. Dan Papa harap, kamu jawab jujur sama kami, Nak."
Dira melihat mamanya. Anggukan dari mamanya menegaskan bahwa ada hal yang serius yang ingin di tanyakan.
"Nak, Alby pernah datang menemui Papa."
Sebaris ucapan Papa mampu membuat mata Dira membulat. Bram yang melihat ekspresi Dira, hanya melipat bibirnya.
__ADS_1
" Dan Alby pun pernah menemui Kakakmu, Bram."
Dira menatap Bram. Lalu kembali menatap Papanya.
" Sayang, Alby bilang ke Papa. Bahwasannya dirinya ingin meminta kamu kembali ke padanya. Alby meminta restu dan izin Papa. Dan juga meminta izin pada Kakak mu. Papa ingin tau, Nak. Apakah kamu masih menerima Alby? Apa kamu masih menyayangi atau mencintai Alby, Nak?"
Dira menunduk. Air matanya jatuh. Rasa tak percaya menghampirinya. Dirinya sungguh tak mengira, sebelum memintanya kembali, Alby sudah lebih dulu meminta izin pada kedua orang tuanya dan kakaknya.
" Dira gak tau, Pa. Dira bingung. Satu sisi Hanan memerlukan Ayahnya. Satu sisi Dira masih meragukan Alby."
Ucap Dira di sela air matanya. Mama Yasmin menyeka air mata putrinya. Dan menggenggam tangannya.
Dira mengangguk.
" Lalu..."
__ADS_1
Kali ini Bram yang menimpali.
" Dira masih belum menjawabnya, Kak."
" Sayang, Mama percaya, apapun nanti keputusan kamu. Itu yang terbaik untuk kamu. Dan juga untuk Hanan. "
Dira menghela nafasnya.
" Bolehkah Dira egois, Ma. Dira hanya ingin berdua saja selamanya dengan Hanan. Untuk memulai hubungan dengan orang lain, Dira juga gak mampu. Untuk memulai hubungan kembali dengan Mas Alby, bayang-bayang masa lalu masih sering menghantui Dira."
Mama menatap sendu wajah Dira. Ternyata putrinya ini masih menyimpan luka.
" Berdamai lah dengan masa lalu, Dek. Bukan untuk orang lain, bukan untuk menerima Alby, tapi untuk dirimu sendiri. Coba lupakan rasa sakit itu. Dan buka hati kamu. Kakak gak memaksa kamu untuk kembali pada Alby. Semua itu untuk kamu juga. Cobalah untuk mengikhlaskannya semuanya."
Dira mencoba meresapi ucapan Bram. Benar semua orang selalu mengatakan pada dirinya untuk berdamai dengan masa lalu. Karena mereka melihat Dira yang masih saja berkutat dengan luka masa lalunya.
__ADS_1
Delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Namun Dira kalah dengan dirinya sendiri. Kalah dengan luka yang di torehkan Alby. Sampai dirinya lupa, akan kehadiran Hanan yang membutuhkan sosok seorang Ayah.
Zaidan pernah meminta Dira untuk mencoba membuka hatinya, dan menerima Zaidan. Dira pernah mencobanya. Namun yang ada, Dira membohongi hati dan dirinya sendiri. Bersyukur Zaidan seorang yang bijaksana. Tak menyimpan dendam, malah menjadi pendengar cerita Nadira. Hanya pada seorang Zaidan, Dira pernah menceritakan semua kisah hidupnya tanpa beban. Tanpa di tutupi. Namun sampai saat ini, Dira tidak merasakan getaran apapun terhadap Zaidan. Hingga Zaidan memilih melepaskan cintanya pada Dira dan menjadi teman baik sampai saat ini. Benar kata mereka, Dira belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Hingga sampai membuat Dira tak bisa menatap masa depannya dengan baik.