
Mama dan papa Alby saling pandang. Sebenarnya mereka lelah, namun mereka tidak tega meninggalkan anak dan menantunya di rumah sakit.
" Dira gak apa-apa , Ma. Jangan khawatir. "
Dira paham betul sifat Mamanya Alby.
" Mama dan papa, tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian di sini, Nak. "
Kali ini papa yang berkata, Dira sangat beruntung memiliki mertua yang sangat sayang padanya.
" Saya akan disini menemani Dira, Om, Tante. Benar kata Dira, sebaiknya om dan Tante pulang, dan beristirahat. Besok om dan Tante bisa datang lagi."
Bram datang ke rumah sakit malam ini. Saat Dira sedang membujuk kedua mertuanya untuk pulang. Bram sedang berada di depan pintu kamar Alby. Akhirnya dengan berat hati, Mama dan Papa Alby pulang.
" Tolong jaga mereka untuk, Om."
__ADS_1
Papa berpesan pada Bram. Sambil menepuk pelan bahu sahabat Alby itu. Bram menatap ke arah Alby yang terbaring koma. Sementara Nadira menghantar kedua mertuanya sampai ke parkiran rumah sakit.
" Al, cepat lah sadar. Dan maafkan aku, karena aku sudah menceritakan tentang Syifa pada Dira. Aku gak tau mau bilang apa. Tapi yang aku lihat, Dira mulai jatuh cinta padamu. "
Tak lama pintu ruangan Alby pun terbuka. Tampak Dira masuk, dan mendekat ke arah Alby. Bram tampak canggung, Bram khawatir Dira mendengar perkataannya.
" Kamu istirahat aja, Dir."
Dira tampak canggung, dan Bram mengerti. Ia pun keluar kamar perawatan Alby, dan memilih duduk di kursi tunggu. Sementara Dira tertidur di sofa yang ada di ruangan Alby.
" Bram...Bram..bangun."
Dengan menyipitkan matanya, Bram mulai menyesuaikan pandangannya. Bram tampak melihat sekeliling, dan mendapati Dira yang berdiri tak jauh dari dirinya.
" Ada apa, Dir. Apa terjadi sesuatu dengan Alby. "
__ADS_1
Bram bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
" Enggak, aku mau ke musholla sebentar, kamu pindah ke dalam ya. Bisa kan? "
Bram yang masih mengantuk pun, hanya menjawab dengan anggukan, lalu berjalan pelan ke arah kamar Alby. Setelah Bram masuk ke dalam, Dira pun segera berjalan ke arah musholla rumah sakit, untuk melakukan kewajiban nya sebagai seorang muslimah. Dirinya berdoa meminta kesembuhan untuk suaminya. Dan lagi-lagi air mata Dira tumpah.
Setelah selesai sholat. Dira pun berjalan kembali ke ruang perawatan. Dira melihat Bram yang kembali tertidur di sofa. Dan Dira lebih memilih untuk duduk di samping ranjang nya Alby. Dira menatap dalam wajah Alby. Wajah yang selalu tampak dingin saat awal pernikahan. Baru saja hubungan mereka akan membaik, musibah ini datang.
Dira memilih untuk membaca al- Qur'an. Dira selalu membawa Al-Qur'an kecil di tas nya. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an mampu menentramkan hatinya. Cukup lama Dira membaca Al-Qur'an. Dan Bram yang samar - samar mendengar suara orang mengaji pun, mulai membuka matanya. Melihat Bram terbangun.
" Maaf ya Bram, aku membangunkan mu? "
" Enggak kok, Kamu lanjut aja. Aku ke kamar mandi dulu."
Bram masuk ke kamar mandi, dan aku melanjutkan bacaan ku. Setelah selesai membaca, Dira pun berdoa meminta kesembuhan untuk Alby. Bram yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap haru ke Dira. Bram melihat begitu besar cinta Dira ke Alby.
__ADS_1