
Dira tersentak dari tidurnya. Mimpi itu datang lagi. Sudah tiga kali mimpi itu datang menyapanya. Dira tidak paham apa arti dari mimpinya itu. Dira bangkit dari ranjangnya, dan meneguk air yang ada di dalam gelas. Waktu menunjukkan pukul empat pagi, Dira bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu mengaji sebelum adzan subuh berkumandang.
Setelah selesai dengan kegiatan subuhnya. Dira segera ke dapur untuk membuat sarapan untuk semua orang.
" Selamat pagi, Mbok."
Sapa Dira pada Si Mbok yang sudah lama ikut bersama kedua orang tuanya.
" Pagi Non Dira."
Sambut Mbok dengan senyum khas di wajah tuanya.
" Mbok, seperti biasa, biar Dira aja yang masak. Oke?"
Si Mbok yang sangat ramah dan menyayangi Hanan seperti cucunya itu pun mengacungkan dua jempol, lalu mengerjakan pekerjaan lainnya.
Dira masih asik berkutat di dapur, saat Luna datang menghampirinya.
" Selamat pagi, Ra. Kamu masak apa?"
Luna menarik kursi di meja makan. Menuangkan air putih lalu meneguknya.
" Masak sup sayuran, perkedel jagung, ikan goreng serta sambel. Mbak mau yang lain?"
" Aku bantuin ya."
Dira mengangguk. Akhirnya pagi itu Dira di bantu Luna menyiapkan sarapan pagi. Mereka berbincang ringan.
__ADS_1
" Mbak, aku mimpi itu lagi."
Luna menghentikan gerakan tangannya yang memotong bakso untuk di masukkan ke dalam sup.
"Lalu, kamu belum juga melihat wajah orang itu?"
Dira menggeleng. Dan kembali fokus pada ikan goreng nya.
" Aku mimpi seperti itu setelah selesai sholat istikharah, Mbak. Aku juga gak tau, maksud dari mimpi itu apa."
" Kamu mimpi apa, Sayang."
Kami menoleh ke sumber suara. Ternyata Mama sudah ada di belakang kami. Menatap serius wajahku. Dengan tenang Dira pun menceritakan mimpinya. Di dalam mimpi nya Dira sedang bersedih, dan duduk di sebuah taman. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Namun sesosok laki-laki yang wajahnya samar, mendekat ke arah Dira, dan membelai kepalanya. Menyodorkan tangannya kepada Dira. Dan mengajak Dira kesebuah tempat yang nyaman, teduh dan Dira merasa bahagia disana. Lalu Dira pun tersentak dari tidurnya.
Mama Yasmin yang mendengar cerita Dira hanya mengangguk. Mama memperhatikan wajah Dira.
Dira sedikit berpikir.
" Sepertinya bukan, Ma. Perawakannya beda dengan Mas Alby. Tadinya Dira pikir itu Ayah. Tapi beda juga. Karena sepertinya lelaki itu masih muda juga. Bukan seperti Ayah."
Kini makanan telah tersedia di meja. Dira pun ke kamar Hanan untuk membantu Hanan bersiap ke sekolah. Sementara Mama dan juga Luna masih berada di ruang makan.
" Lun, apa mungkin itu pertanda Dira dan Alby gak bisa bersatu. Kok mama jadi kepikiran ya."
Mama Yasmin bicara pada Luna yang sedang membuat Teh untuk Bram dan juga papa Haidar.
" Gak tau juga sih, Ma. Tapi kalau menurut Luna, itu cuma mimpi, hanya sekedar bunga tidur. Jadi mama gak perlu mikirin itu ya."
__ADS_1
Mama Yasmin pun tersenyum, lalu masing-masing mereka masuk ke kamar.
Dira turun bersama Hanan, yang sudah dengan keadaan rapi dengan seragam sekolahnya. Dira pun sudah rapi dan akan berangkat ke butiknya.
" Selamat pagi, semua.."
Sapa Hanan kepada semua orang yang ada di meja makan.
" Pagi, Sayang."
Balas Oma Yasmin. Dan opa Haidar mengacak kecil rambut Hanan.
" Pagi jagoan, Mami."
Luna juga menimpali. Saat ini Luna sudah cuti dari pekerjaannya. Mereka pun makan dengan tenang.
" Hanan, nanti berangkat bareng Opa aja ya."
Opa Haidar berkata pada Hanan. Membuat Bram mengerutkan keningnya.
" Mobil kamu kenapa, Dek?"
Dira melihat ke arah Bram.
" Mobil Dira masih sama Zaidan. Mungkin masih di jalan, kalau nunggu Zaidan, nanti Hanan terlambat."
Kali ini Mama Yasmin yang menjawab. Membuat Bram melihat ke arah Dira dengan pandangan penuh tanda tanya.
__ADS_1