Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 127


__ADS_3

Setibanya di rumah Dira. Alby pun segera membantu membawa perlengkapan Dira. Sedangkan Tante Dwi menggendong baby Aidyn, dan Aya membantu Dira berjalan.


" Mas, sebaiknya kamu pulang, sudah terlalu lama kamu disini."


Alby berhenti meletakkan barang-barang yang di bawanya. Lalu menatap Dira dan mengangguk.


" Setelah ini aku akan pulang. Terima kasih untuk beberapa hari ini. Aku bisa melihat wajah putraku, dan mengizinkan aku mengadzani nya."


Dira hanya mengangguk, Alby pun berjalan ke arah box bayinya. Di pandanginya wajah tampan yang sedang tertidur lelap.


" Papa pulang dulu ya,Sayang. Minggu depan Papa akan kembali. "


Dira hanya menatap Alby yang berpamitan pada putranya. Lalu Alby mendekati Dira, ingin memeluknya, namun Dira menepis itu.


" Kita bukan suami istri lagi, Mas. Tidak baik kalau sampai di lihat orang dan terjadi fitnah."


Alby pun tersadar. " Maaf." Ucapnya kemudian.


Lalu Alby pun berpamitan pada semua orang disana. Sedangkan Aya memilih untuk ikut pulang bersama Alby.


Di perjalanan, baik Aya maupun Alby hanya saling diam. Tak ada yang bersuara.


" Sejak kapan kamu mulai menemui Dira ke Bandung, Ya?"

__ADS_1


Aya mengalihkan pandangan nya ke arah Alby yang masih menyetir.


" Sejak kehamilan Kak Dira menginjak bulan ke tujuh. Aya memberanikan diri, karena Aya kangen dengan Kak Dira."


Alby pun mengangguk.


" Apa Dira mengadakan acara tujuh bulanan waktu itu?"


Aya menggeleng.


" Kak Dira gak mau. Entah apa alasannya. Tapi Tante Dwi dan Om Hendra tak mempermasalahkan hal itu. Mereka mendukung keputusan Kak Dira."


" Lalu kenapa Kak Al, bisa ada disana pagi itu? Bukannya kakak sedang di kamar waktu itu?"


" Kakak mendengar percakapan kamu. Dan kakak langsung berangkat. Dan ternyata setibanya kakak disana, Dira sudah mengalami pecah ketuban."


Sedangkan Dion yang baru saja mendapat izin untuk pulang, bergegas ke butik Azzura yang di kelola oleh Dea. Dion langsung menghampiri Dea, karena para pegawai sudah tahu, siapa Dion sebenarnya.


" Assalamualaikum, De."


Ucap Dion saat memasuki ruangan Dea. Dea yang mendengar salam dari Dion pun langsung menjawabnya.


" De, kamu mau ikut aku pulang ke Bandung. Dira sudah melahirkan."

__ADS_1


Dea pun tersenyum.


" Aku sudah tau, Mas. Tapi..aku gak bis ikut kesana ya. Karna butik banyak kerjaan, dan banyak pelanggan yang menunggu. Salam aja untuk Dira."


Dion menghela nafasnya. Rasanya sangat sulit meluluhkan hati gadis manis ini.


" Apa kamu masih ragu dengan ku, De. Aku serius. Aku gak mau -main dengan perasaanku."


Dea pun menghela nafasnya. Rasanya begitu sulit menjelaskan perasaanya saat ini. Rasa sakit yang dirasakannya dulu, membuat dirinya sangat hati-hati dalam memantapkan hati. Dirinya sangat takut, hal itu terjadi lagi pada dirinya.


" Aku..."


Dea menundukkan wajahnya. Rasa takutnya masih lebih besar dari pada rasa percaya nya pada cinta Dion.


" Gak Apa-apa, seandainya kamu masih belum bisa yakin. Aku akan menunggu."


" Seandainya ada gadis lain yang lebih sepadan,-"


Dion menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


" Yang Mas mau hanya kamu, bukan orang lain."


" Tapi aku bukan orang yang sepadan untuk kamu, Mas."

__ADS_1


" Kedudukan kita sama di mata Tuhan, hanya keimanan yang membedakannya."


Dea terdiam mendengar ucapan Dion. Bukan kali ini aja dirinya menolak, sudah sering kali. Namun Dion tetap pada pendiriannya untuk meyakinkan Dea, bahwa dirinya adalah yang terbaik untuk nya.


__ADS_2