
Dan disinilah Alby dan Dira saat ini, di sebuah cafe, dengan nuansa romantis. Entah mengapa Alby meminta Dira untuk ikut dengannya. Sedangkan mobil Dira, Alby meminta supirnya untuk membawa ke alamat rumah Dira. Alby dan Dira masih sama-sama bungkam. Tak ada dari mereka yang membuka suara. Alunan musik romantis, mengalun indah di Indra pendengaran semua orang yang ada di cafe itu.
" Apa yang sebenarnya mau kamu bicarakan, Mas. Kalau hanya untuk diam, lebih baik aku ..pulang."
.
Ucap Dira sambil beranjak dari duduknya. Namun Alby mencekal. Lalu meminta maaf.
" Kenapa kamu mengembalikan semua pemberian ku dan keluarga ku, Dir. Hanan itu anakku, dan aku merasa aku berhak memberikannya kehidupan yang layak."
" Jadi maksud kamu, aku gak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Hanan? Apa kamu lupa, Hanan itu putraku?"
Ucap Dira sambil menahan kesal di hatinya.
" Maafkan aku Dira. Bukan itu maksudku, aku Ayahnya, Hanan adalah tanggung jawabku. Kamu mengembalikan semua yang aku berikan, seperti menegasakan kalau aku tak berhak atas dirinya."
Alby menghela nafasnya. Mencoba menenangkan hatinya yabg sedikit sesak.
" Maaf, Dira. Bukan itu maksudku."
" Kalau cuma ingin mengajakku berdebat, aku sedang tidak ingin. Aku lelah, aku harus pulang. Hanan pasti sudah menunggu."
__ADS_1
Dira langsung pergi, dan Alby pun mengejarnya. Alby meminta Dira untuk pulang bersamanya. Dira sebenarnya engga, namun mengingat hari sudah semakin malam, membuatnya menerima ajakan Alby.
Dira dan Alby diam di dalam mobil. Alamat yang di berikan Dira membuat Alby mengerutkan kening.
" Kamu tinggal di rumah, Bram? Kenapa?"
" Ada yang salah, Aku tinggal bersama keluargaku?"
" Apa kamu sudah menikah dengan Bram? Lalu laki-laki tadi siapa?"
" Pertanyaan itu gak harus aku jawab."
" Kalau memang Dira sudah menikah dengan Bram, mengapa Dira hanya datang sendiri? Lalu siapa lelaki yang bernama Zaidan tadi? Sepertinya mereka sangat akrab. Ada apa ini, siapa sebenarnya suami mu Dir? Kalau memang Dira belum menikah dengan Bram, kenapa kedua orang tua Bram menyebut mama dan papa pada Dira? Aaarrrgggghhhh...dari dulu Dira selalu saja bisa membuatku penasaran. Bisa membuatku tak bisa menebak apa isi hatinya. "
Alby menggenggam erat kemudi. Tangannya tampak terkepal. Tadinya Alby hanya ingin meluruskan apa yang terjadi. Sebenarnya, Alby sudah tahu, kalau mantan mertuanya sudah menemui Dira. Hal itulah yang ingin Alby jelaskan. Namun kini semua seperti benang kusut yang Alby sendiri bingung untuk mengurainya.
Mobil Alby tiba di halaman rumah Bram. Sudah ada Bram dan juga Hanan yang menunggu di teras rumah. Dira keluar dari mobil Alby, dan melangkah menuju Hanan.
" Mama.."
Rengek Hanan pada Dira. Dan di sambut dengan bentangan tangan dari Hanan. Dir langsung memeluk dan mencium Hanan.
__ADS_1
" Hanan kok belum bobo, Sayang.."
" Mau bobo sama Mama. Tadi Hanan cari Mama, tapi gak ada..."
Ucap bocah gembul itu pada Dira. Dengan mata yang sudah mulai meredup.
" Masuk, Dek. Hanan udah ngantuk."
Bram meminta Dira untuk masuk. Dira mengangguk, sedangkan Alby mencelos melihat keposesifan Bram. Perhatian Bram pada Dira membuatnya membisu.
" Terima kasih, Mas. Aku dan Hanan masuk dulu."
" Tunggu Dir, boleh aku mencium Hanan?"
Dira menatap Bram meminta persetujuan, dengan gerakan mata, Bram menyetujui, lalu Dira pun mengizinkan Alby untuk mencium Hanan.
Alby mendekat ke arah Dira yang sedang menggendong Hanan. Jarak antara mereka semakin menipis, Alby mendekatkan dirinya pada Dira. Aroma maskulin yang dulu menjadi candu Dira, kini merasuk kembali ke Indra penciumannya.
Alby mencium kening Hanan cukup lama. Namun Hanan hanya diam, bahkan tangan kecilnya membelai wajah Alby. Mungkin ikatan batin antara mereka terjalin kuat. Hingga Hanan merasa nyaman dengan ciuman yang mendarat di keningnya. Pandangan mata Dira dan Alby bertemu, namun Dira segera mengalihkan pandangannya kearah lain.
" Terima kasih."
__ADS_1