Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 112


__ADS_3

Berbeda tempat dengan Dira, kini Alby tampak tergesa memasuki ruangan nya. Begitu banyak pertemuan yang harus di hadiri. Biasanya Bram akan menghandle, tapi kini hanya dirinya yang harus turun tangan.


"Apa saja jadwal saya hari ini. "


Alby berkata tapi tangan dan matanya masih berada di atas berkas yang ada di meja kerjanya.


" Ada beberapa jadwal sampai sore nanti, Pak."


Alby mengangguk.


" Kamu atur mulai hari ini,setelah makan siang. Dan kamu ikut dengan saya, mendampingi saya saat menghadiri pertemuan dan rapat. Mulai saat ini, ingat itu."


Sekretaris pun paham, wanita beranak satu itu, lalu bergegas keluar dari ruangan Alby, setelah Alby memintanya untuk keluar. Di luar ruangan, Dina menghembuskan nafasnya.


" Huuhh...ini pasti karena pengunduran diri Pak Bram."


Dan benar, setelah makan siang, Alby harus pergi ke beberapa tempat melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya, bersama Dina.


Pukul enam sore, akhirnya Alby selesai melakukan pertemuan.


" Kamu langsung pulang aja, Dina. Ini sudah lewat dari jam kerja, dan ini saya anggap sebagai lembur. Terima kasih untuk hari ini."

__ADS_1


Dina pun langsung pulang, setelah meletakkan beberapa map di meja kerja Alby. Sementara Alby kembali duduk di meja kerjanya. Alby sengaja menghabiskan waktunya di kantor. Ponsel Alby bergetar, dan nama Syifa muncul di layarnya. Alby pun mengangkat panggilan itu.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam, Bee. "


Hening..


Syifa dan Alby sama-sama saling diam. Sebagai perempuan, Syifa merasa Alby tidak benar-benar serius dengan. pernikahan ini. Alby bagai orang yang sangat terpaksa.


"Ada apa, Fa. Apa kamu perlu sesuatu?"


" Hm... enggak aku cuma...mau tanya, apa kamu malam ini akan singgah ke rumah? Maaf, aku hanya.."


" Bee..apa ada sesuatu yang..."


" Aku baik-baik aja, Fa. Jangan berpikiran buruk. Pikirkan saja kesehatanmu. "


Setelah itu, baik Syifa dan Alby saling memutuskan panggilan. Alby tak dapat melanjutkan pekerjaannya. Apalagi saat ini, pikirannya sedang terpecah.


Alby segera membereskan berkas-berkas yang masih berada di meja kerjanya. Lalu menyambar kunci mobil dan pergi dari kantornya. Pukul sembilan malam Alby tiba di rumah Syifa. Di lihatnya Syifa yang duduk di ruang keluarga, sedang duduk melihat televisi. Saat Alby mendekat, Syifa pun bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Alby.

__ADS_1


" Kamu udah makan, Bee."


" Sudah."


Wajah Syifa tampak murung, saat Alby mengatakan sudah. Melihat itu pun Alby bertanya pada Syifa.


" Apa kamu sudah makan?"


" Belum, aku sengaja nunggu kamu. Aku juga masak untuk kamu."


Keningnya berkerut, memindai Syifa dari atas ke bawah.


," Kenapa?"


" Kenapa apanya?" Syifa kembali bertanya.


" Kenapa kamu lakukan itu semua?"


" Aku hanya ingin menjadi istri yang baik. Sama seperti Dira yang mengurus kamu dengan baik, Bee."


Alby menghela nafasnya. Lalu menuntun Syifa untuk duduk di kursi yang ada di ruang makan.

__ADS_1


" Sekarang sebaiknya kamu makan. Setelah itu minum obatmu, dan istirahatlah."


Syifa menurut apa yang di katakan Alby. Alby hanya menemani Syifa, setelah itu dia pun membawa Syifa ke kamarnya dan menunggu Syifa beristirahat. Alby menemani Syifa hingga dirinya terlelap, namun berbeda dengan Alby. Pukul dua dini hari, Alby beranjak dari kamar Syifa, menuju belakang rumah. Dirinya duduk di teras belakang, menatap bintang yang menggantung disana. Tanpa Alby sadari, Tante Yuni melihat Alby yang sedang menatap langit malam.


__ADS_2