
Setelah itu, Dira pun langsung masuk ke dalam rumah. Hanan sudah mulai tertidur. Dira meletakkan Hanan dengan sangat pelan di ranjang yang mereka tempati bersama. Dira lebih memilih berbagi ranjang dengan Hanan, Dira tak ingin tidur terpisah dengan Hanan.
Sementara di teras, Alby masih menatap penuh tanya ke arah Bram. Bram pun begitu.
"Kamu sengaja mengikuti kemana Dira pergi?"
Ucap Bram dingin pada Alby. Kedua orang yang berteman akrab dulunya ini, kini bak musuh bebuyutan. Sebenarnya hanya Bram yang dingin terhadap Alby. Sedangkan Alby masih menganggap Bram itu sahabatnya, yang kini sedang marah karena kebodohannya.
" Kami gak sengaja bertemu, kami menghadiri pernikahan seseorang. Dan bertemu disana."
Ucap Alby tenang.
" Jangan pernah berpikir untuk mencari kesempatan untuk mendekati Dira lagi. Sudah cukup luka yang kau goreskan di masa lalu. Aku gak ingin ada air mata kesedihan lagi yang keluar dari matanya. "
Alby hanya mengangguk lemah. Alby cukup tau bagaimana sifat Bram. Bram berpendirian keras. Namun sebenarnya hatinya sangat lembut untuk seorang lelaki.
" Aku masih sadar, tak mungkin aku menggoda istri orang. Aku hanya ingin berjumpa dengan Hanan. Dan meluruskan semua kesalahpahaman di masa lalu. Agar aku tenang menghadapi masa depan. Kau jangan lupa, aku Ayah Hanan. Bagaimana pun kau menyangkalnya, darahku mengalir di tubuh Hanan."
Bram tau kini, Alby sudah salah paham. Alby mengira bahwa Dira dan Bram sudah menikah. Bagaimana pun, orang luar belum tau, bahwa Dira adalah adiknya Bram.
__ADS_1
Alby melangkah ke arah mobilnya, lalu menghidupkan mesin dan keluar dari halaman rumah Bram. Bram tersenyum sinis melihat Alby yang terbakar.
" Sekarang kau merasakannya kan. Aku tau dirimu, Al. Tapi kebodohan mu membuatku membencimu." Gumam Bram saat dirinya sudah melihat mobil yang di kendarai Alby sudah pergi.
" Dek, boleh kakak masuk?"
Ucap Bram di depan pintu kamar Dira. Bram tau, Dira belum tidur, karena dirinya masih melihat lampu di kamar Dira yang masih menyala.
" Masuk aja, Kak."
Ucap Dira, Bram pun masuk, dan melihat Hanan yang tertidur pulas di ranjang.
" Ada apa, Kak?"
" Apa lelaki itu sengaja mengikuti mu?"
Tanya Bram dengan pandangannya yang masih melihat ke Hanan. Dira pun menghela nafasnya.
" Kami gak sengaja bertemu di pernikahan seseorang. Mas Alby datang bersama Aya. Lalu--"
__ADS_1
Dira pun menceritakan apa saja yang terjadi disana. Bram mendengarkan dengan seksama. Tak ada bantahan ataupun selaan dari Bram.
" Seandainya Alby meminta dirimu kembali, apa kamu masih menerimanya, Dek?"
Dira kembali menghela nafasnya. Dan air mata meluncur begitu saja.
" Aku gak tau, Kak. Aku masih perlu waktu. Namun aku juga memikirkan Hanan. Hanan berhak tau siapa ayah kandungnya. Aku bingung kak..."
0
Ucap Dira. Lalu Bram membelai rambut Dira yang tertutup hijab itu.
" Hanan memang berhak tau, Dek. Siapa ayahnya sebenarnya. Tapi untu itu, kamu harus meyakinkan diri kamu dulu, Dek. "
Dira mengangguk.
" Apa kedua orang tua Alby tau, kamu sudah kembali ke kota ini sekarang?"
" Seperti sudah. Mereka menyewa seorang bodyguard yang selalu mengikuti aku kemana pun aku pergi."
__ADS_1
Bram membulatkan matanya tak percaya.
" Apa kamu merasa mereka sudah mengetahui aku ini."