
Tanpa banyak kata lagi, Alby menarik tangan Nadira, lalu menghisapnya. Setelah darahnya sedikit berhenti, lagi- lagi Alby menyiramnya dengan air mengalir dari keran yang ada di wastafel dapur. Lalu membalutnya kembali dengan tisu. Alby pun bergerak mencari kotak P3K. Lalu mengobatinya dan memakaikan kain kasa. Selama Alby melakukan itu, Nadira hanya menatapnya.
" Sudah selesai."
Alby berkata pada Nadira. Dan Nadira pun mengucapkan terima kasih.
" Bukannya tadi Mas bilang, kalau Mas takut darah?"
Alby menggeleng sambil tersenyum.
" Aku bukannya takut darah Dira. Aku hanya takut, lukamu terinfeksi nantinya. Kalau tidak cepat di tangani. "
Nadira pun tersenyum tipis. Dan kemudian dirinya tersadar.
" Mas, kruk kamu....kamu gak menggunakan kruk sama sekali loh."
Alby pun melihat ke arah kakinya. Dan membulatkan matanya. Dirinya tak sadar dengan apa yang terjadi. Hanya karena insiden kecil, yang membuatnya sedikit panik, akhirnya Alby sudah bisa berjalan normal kembali.
__ADS_1
" Dira...Dira...aku bisa berjalan. Aku sudah sehat. Aku bukan lelaki cacat lagi. "
Alby berkata sambil menahan tangis haru dan bahagia. Begitu pun dengan Dira. Dirinya mengangguk sambil menahan butiran air mata yang akan jatuh. Alby berjalan cepat, dan memeluk Dira. Dira pun membalas pelukan Alby. Mereka menjerit bahagia. Bahkan mereka saling berloncatan sambil berpelukan.
Setelah beberapa saat terbawa arus bahagia karena Alby yang sudah berjalan normal. Sampai sesaat Nadira sadar mereka saling berpelukan, dengan gerakan refleks Nadira melepaskan pelukan itu. Begitu pun dengan Alby. Pada akhirnya mereka saling tersenyum canggung.
"Mama dan papa harus tau, Mas. Aku akan mengabari mereka. "
" Jangan, Dira. Aku akan memberikan mereka kejutan. Kau mau kan membantuku. "
Mama Ratna yang mendapat telepon dari Nadira pun langsung menuju restoran tersebut bersama sang suami. Di sepanjang perjalanan, kedua orang tua ini bingung, apa yang akan Nadira sampaikan. Namun papa lebih bersikap tenang dari pada Mama. Sedangkan Alby dan Nadira pun langsung bergegas begitu Alby memesan tempat. Mereka hadir lebih dahulu. Sebelum kedua orang tua mereka. Tapi Alby lebih memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu.
" Apa yang ingin kamu bicarakan, Sayang? Apa Alby lagi-lagi menyakiti kamu? Apa Alby menyusahkan kamu, Sayang? "
Begitulah sederet pertanyaan dari Mama Ratna. Ketika bertemu dengan Nadira sang menantu kesayangan.
" Ma, satu- satu dong, pertanyaannya. Kalau mama bertanya tanpa jeda, bagaimana Dira menjawabnya."
__ADS_1
Kali ini Papa yang buka suara. Dan menatap Nadira lembut. Mama Ratna pun akhirnya sedikit tenang.
" Maafin mama ya, Sayang. Begitu menerima telepon dari kamu, mama langsung panik. Mama takut Alby melukai kamu lagi, Nak."
Nadira memegang punggung tangan mama mertuanya. Dan tersenyum lembut.
" Ma, sebenarnya Mas Alby...."
Nadira sengaja menggantung ucapannya. Dan membuat kedua mertuanya ini semakin penasaran.
" Alby kenapa Dira?"
Kali ini Mama mertuanya sudah tak bisa menahan rasa penasaran nya lebih lama.
" Dira, katakan, sebenarnya Alby kenapa? Kenapa kamu hanya diam. Tak menjawab pertanyaan Mama. "
Dira makin menundukkan wajahnya. Dan itu semakin membuat kedua orang tua ini penasaran. Saat Mama akan membuka suara lagi, tiba- tiba pintu ruangan mereka terbuka. Dan seorang berdiri di pintu.
__ADS_1