Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 58


__ADS_3

Ketika tengah sibuk membicarakan mengenai keinginannya untuk merubah ol shopnya. Ponsel Dira berbunyi. Mas Alby calling. Dira pun sigap mengangkat panggilan tersebut.


" Assalamualaikum, Mas."


" Waalaikumsalam, Sayang.Kamu dimana?"


Wajah Dira bersemu merah saat Alby memanggilnya dengan sebutan sayang. Membuat Dea yang berada di ruangan itu pun paham, lalu pamit dan meninggalkan Dira yang masih menerima panggilan dari suaminya.


" Aku di ruko. Kenapa Mas? "


" Mas, mau ngajak makan siang bersama, kamu kasih tau alamat ruko kamu ya. Mas meluncur kesana sekarang."


Dira melirik jam di dinding. Ternyata sudah pukul sebelas lebih, dan Dira pun memberitahukan alamatnya. Sambil menunggu kedatangan Alby, Dira memperhatikan tampilannya. Setelah di rasa cukup, Dira pun kembali berkutat dengan gambar-gambar gamis di mejanya.


Hampir tiga puluh menit kemudian, sebuah ketukan di pintu ruangannya tak mengganggu aktifitas Dira.


" Masuk aja De."


Dira berkata tanpa melihat siapa yang ada di pintu, dia masih asik mengerjakan desain gamisnya. Tangannya dengan lihainya bermain di atas kertas. Memadukan warna hingga tercipta keserasian di desainnya itu.


" De, kalo yang ini, gimana? Cantik gak?"


Dira bertanya, tapi tak melihat siapa yang ada di belakangnya.


" Cantik, sangat cantik."

__ADS_1


Degh...suara bariton itu yabg menjawab. Dira tampak terdiam sesaat, wajahnya tertunduk menahan rasa malu. Ternyata Alby lah yang berada di belakangnya. Alby mendekat, lalu memutar kursi yang di duduki Dira. Dira mendongakkan wajah menatap lelaki yang kini di hadapannya. Kedua tangan Alby memegang samping kursi yang di duduki Dira. Menjadikan posisi mereka sangat dekat.


" Cantik....sangat cantik..."


Pujian itu terlontar begitu saja dari bibir Alby. Karena jarak yang begitu dekat, hingga Dira bisa merasakan aroma mint dari mulut Alby. Alby semakin mendekatkan wajahnya dan wajah Dira. Hingga...cup...sebuah kecupan mendarat di bibir Dira.


Dira segera mendorong tubuh Alby, bukannya marah, Alby malah tersenyum.


" Kenapa? "


Alby bertanya pada Dira yang wajahnya kini memerah, seperti tomat. Alby semakin menggodanya dengan memegang dagu Dira dan semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Dira.


" Mas...ini di ruang kerjaku."


" Jadi, kalau bukan di ruang kerja. Kamu mau?"


Dira semakin malu, akhirnya dia hanya ingin menjauhi Alby ketika ia melangkah, tangannya langsung di tarik oleh Alby, membuat dirinya semakin dekat, dan Alby semakin menekan pinggang Dira hingga mepet ke tubuhnya.


" Mas...nanti ada yang liat. "


" Biarin aja.."


" Mas, aku udah laper ini."


Alby tertawa pelan, lalu melepas pelukan di pinggang Dira, dan menggandeng tangannya untuk turun. Alby tau ini hanya alasan Dira agar terlepas dari dirinya. Sebenarnya Alby hanya menggoda, dirinya sangat senang melihat wajah Dira yang merona.

__ADS_1


Mereka menuruni tangga dengan bergandengan tangan, membuat Atik dan Dea yang berada di sana memandang dan saling melempar senyum. Dira tampak salah tingkah di hadapan mereka.


" De, Atik, kenalin, ini Mas Alby. Suami ku."


Dira memperkenalkan Alby pada Dea dan Atik. Mereka saling menjabat tangan.


" De, aku keluar makan dulu ya. Kalian jangan lupa makan siang. "


Dira berpamitan pada Dea dan Atik.


" Aku pinjam Dira ya De. Tapi gak janji bakalan di kembaliin lagi. Hehehe."


Alby meminta izin pada Dea. Namun itu membuat mata Dira membulat.


" Emangnya aku barang, pake acara di pinjem trus di pulangi. Tega Ih.."


Dira pun langsung pergi keluar ruko. Membuat Alby menggaruk pangkal hidungnya yang tak gatal


" Dira ngambek itu , pak. Segera bujuk. "


" Ok, De. Kita pergi dulu ya."


Alby pun segera pergi, dan mengejar Dira.


" Sayang tunggu dulu dong. Jangan ngambek gitu dong."

__ADS_1


__ADS_2