Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 38


__ADS_3

Akhirnya Nadira tiba di kediaman milik Alby. Dengan tetap dengan pendirian nya, Nadira pulang dengan taksi. Karena waktu yang semakin mepet, Alby pun hanya membiarkan Nadira pulang dengan taksi. Alby merasa gelisah, tak tenang, apalagi melihat Nadira yang hanya tersenyum menatap ke arahnya. Pandangan mata Nadira kepadanya, membuat pikiran Alby tak tenang. Setelah menemui seseorang itu, Alby pun dengan cepat bergegas pulang ke rumahnya.


Setelah berkendara selama empat puluh menit, Alby tiba di kediamannya. Rumah yang di tempati oleh dirinya dan Nadira beberapa bulan ini.


" Dir....Dira..."


Alby mencari keberadaan Dira. Dira yang tengah berada di kamar mandi langsung bersuara.


" Iya, Mas. Aku di kamar mandi."


Tak lama Nadira pun keluar, dengan masih menggunakan handuk diatas kepalanya. Leher jenjang nan putih itu terpampang nyata di hadapan Alby. Nadira yang tak mengira Alby masih di dalam kamar, terkejut melihatnya.


" Mas. "


Alby yang berada di ruangan itu pun tampak kaget, serta gugup. Melihat Nadira yang hanya memakai gaun tidur tipis, dan bertali spagheti mampu membangkitkan jiwa kelakian Alby. Nadira yang tersadar dengan kondisinya pun langsung berlari masuk ke kamar mandi lagi. Sementara Alby masih mematung di dalam kamar Nadira. Setelah sempat mematung beberapa saat, Alby pun sadar, bahwa Nadira sudah menghilang dari hadapannya.


Tok..

__ADS_1


Tok..


Tok..


" Nadira, kamu baik-baik aja? "


Alby bertanya sambil mencoba menetralkan detak jantungnya.


" Aku baik-baik aja, Mas. Ada apa Mas? Apa Mas butuh sesuatu? "


Nadira bertanya dari dalam kamar mandi, dan mengeraskan suaranya.


Alby berkata sedikit gugup. Lalu dia pun segera kembali ke kamarnya. Walau sudah tinggal seatap dengan Nadira selama berbulan-bulan. Namun mereka belum juga tinggal sekamar. Apalagi berbagi ranjang.


Setelah merasa ruangan kamarnya sunyi, Nadira memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Kepalanya melongok melihat apakah masih ada Alby di kamarnya, atau kah Alby memang sudah benar-benar keluar. Setelah di rasa aman, Nadira pun keluar. Dia pun meruntuki kecerobohan nya, yang langsung keluar kamar mandi dengan menggunakan pakaian seperti itu.


" Hadduuuhh....aku kok ceroboh banget sich. Mas Alby pasti mengira aku sedang menggodanya. Bagaimana ini? Mau tarok mana muka ku ini? batin Nadira.

__ADS_1


Malam pun berganti pagi. Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah, Nadira pun bergegas ke dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya dan Alby. Ketika Nadira masih berkutat dengan masakannya. Alby pun sudah rapi dengan pakaian kantornya.


" Selamat pagi, Nadira. "


Sapa Alby. Nadira yang di sapa melihat ke arah Alby. Terbit semburat merah di wajah nya. Mengingat kejadian malam tadi.


" Selamat pagi, Mas. Mau kopi atau teh? "


" Teh aja."


" Baiklah, sebentar."


Nadira pun memberikan secangkir teh hangat kepada Alby. Lalu segera ke dapur lagi untuk membawa sarapan ke meja makan.


" Mas mau nasi goreng atau roti? "


Nadira bertanya hati-hati. Tak berani menatap Alby. Alby yang merasa Nadira gugup menipiskan bibirnya.

__ADS_1


" Sepertinya nasi goreng itu memancing seleraku. Aku mau itu aja."


Nadira pun mulai meletakkan nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya serta timun dan juga kerupuk sebagai pelengkapnya. Lalu segera memberikannya kepada Alby. Dengan kepala yang masih saja menunduk. Melihat tingkah Nadira yang seperti itu, Alby hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


__ADS_2