Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 39


__ADS_3

" Aku berangkat ya? Hm...apa kamu tidak ingin ke ruko? "


Alby bertanya pada Nadira pada saat akan berangkat ke kantor.


" Hm..sepertinya agak siangan aja, Mas. "


Akhirnya Nadira memberanikan diri menatap Alby. Alby hanya menipiskan bibirnya lalu mengangguk paham.


" Apa kamu bisa bawa mobil? Maaf, karena selama ini, aku hanya melihatmu membawa motor?"


" Bisa, kenapa Mas?"


Alby hanya tersenyum, lalu melenggang pergi ke arah mobilnya dan melaju menuju gedung yang beberapa bulan ini telah di tinggalkannya.


" Aneh."


Gumam Nadira setelah kepergian Alby. Dan kini Nadira pun bersiap-siap untuk segera menuju rukonya. Ruko tempat diri nya menjalankan usaha ol shop nya. Yang selama kurang lebih 2 bulan ini di tinggalkan olehnya. Untuk mengurusi Alby yang saat itu masih sakit.


Setelah berkendara selama tiga puluh menit. Nadira pun tiba di ruko.


" Assalamualaikum, selamat pagi."


" Waalaikumsalam, selamat pagi, maaf Mbak mau ambil barang atau mau belanja?"

__ADS_1


Tanya salah satu karyawan yang bernama Atik. Karyawan Nadira kini semuanya orang baru. Karena bulan kemaren omset mereka meluncur bebas. Membuat dirinya terpaksa harus melepas karyawan lamanya. Karena mereka takut Nadira tidak sanggup menggaji. Mendapat pertanyaan seperti itu, Nadira malah tersenyum.


" Saya mau bertemu dengan Mbak Dea. Mbak Dea ada di tempatkan?"


" Ada Mbak. Sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu Mbak."


Atik meminta Nadira untuk duduk. Nadira pun duduk di kursi plastik yang ada di sana. Tak lama Atik dan Dea pun datang dari arah gudang.


" Maaf, Anda mencari saya?"


Posisi duduk Nadira yang membelakangi Dea, membuat Dea tak dapat melihat wajah Nadira. Dengan cepat Nadira membalikkan badan. Alangkah terkejutnya Dea.


" Dira??"


"De, aku kangen. Maaf ya beberapa bulan terakhir aku gak datang ke toko. Keadaan Mas Alby membuatku menyerahkan tanggung jawab ini sendiri. "


Nadira berkata sambil melepaskan pelukannya pada Dea.


" Gak apa, Dira. Aku paham. Bagaimana keadaan suamimu? "


Nadira pun menceritakan semuanya pada Dea tanpa ada yg di tutupi. Dea adalah sahabat dan yan curhatnya. Mendengar penuturan Nadira, Dea beberapa kali mengubah raut wajahnya.


" Sekarang, kamu mau gimana? Apa kamu masih mau mempertemukan suamimu dengan mantan pacarnya itu? "

__ADS_1


Nadira bangkit dari duduknya, melangkah ke arah jendela di lantai dua rukonya. Menatap lalu lalang orang yang ada di luar. Sejenak ia diam, lalu menghembuskan nafasnya secara pelan.


" Sepertinya aku harus mempertemukan mereka. Aku yakin, Mas Alby pun masih mencari tau keberadaan Syifa sampai saat ini. Dengan orang-orang suruhan nya. "


Dea berjalan mendekati Nadira, lalu mengusap bahunya pelan.


" Dir, kalau memang itu keputusanmu. Aku harap kamu tidak menyakiti dirimu sendiri. Aku tahu, selama ini kamu sudah sangat tersakiti dengan pernikahan ini."


" Doakan aku kuat dengan semua ini ya, De. Aku tak ingin mengecewakan kedua almarhum orang tuaku."


Dea kembali memeluk Nadira. Mencoba menyalurkan ketenangan dan kekuatan kepada sahabat baiknya ini.


" Bagaimana keadaan adik-adik di panti? Kamu masih sering mengunjungi panti kan? "


Nadira bertanya pada Dea. Dea malah mendengus mendengar pertanyaan sahabat nya ini.


" Kamu ini, bukannya bertanya keadaan ol shop kamu. Malah bertanya soal adik-adik. Adik- adik disana sehat semua, dan aku masih sering kesana. Ibu juga bertanya keadaan kamu, aku jawab aja, kalau kamu sedang mengurusi suamimu yang sedang sakit."


Nadira mengangguk. Dan senyum tipis terbit di wajahnya.


" Trus nasib ol shop ini gimana, Dir? Aku lihat, penjualan kita belum stabil seperti dulu."


Nadira kembali menghela nafasnya. Lalu mencoba tersenyum kepada sahabat yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2