Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 88


__ADS_3

Dira meneteskan air matanya, lalu berjalan dengan lunglai ke kamarnya. Sejak beberapa bulan mereka bertemu, dan dua bulan yang lalu mereka menikah. Dira kembali menutup pintu kamarnya. Dia kembali menangis disana.


Waktu terus berjalan, tak terasa kini sudah dua Minggu, Dira mendiamkan Alby. Rasa sakitnya belum juga hilang. Dira bukan orang yang pendendam, namun dirinya sangat membenci sebuah penghianatan.


Walaupun Dira mendiamkan Alby, namun Dira masih melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Dira masih menyiapkan pakaian Alby saat di rumah, dan Dira juga masih memasak makanan untuk Alby saat sarapan dan makan malam.


" Sayang, kamu mau kemana? "


Alby bertanya saat Dira hendak pergi.


" Ke butik. "


Jawab Dira sambil berpamitan. Lalu pergi setelah taksi yang di pesannya datang. Begitulah Dira sekarang, lebih banyak menghabiskan waktu di butik dari pada di rumah. Alby merasa sangat merindukan sikap Dira yang dahulu.


Saat ini Alby sangat ingin, berdekatan dengan Dira. Namun sikap Dira yang dingin dan lebih banyak banyak menghindar membuat Alby merasa sangat bersalah. Dialah penyebab dari semua ini. Tak lama, setelah kepergian Dira, telepon Alby berdering. Nama Syifa muncul disana.


" Assalamualaikum."


" Bee....tolongin aku....sakit Bee.."


Alby langsung panik, dan berlari ke mobilnya. Dengan kecepatan tinggi Alby mengendarai mobilnya. Begitu tiba di rumah, di lihatnya Syifa yang tengah mengerang kesakitan, memegang perutnya. Alby langsung membawa Syifa ke mobil dan menuju rumah sakit.

__ADS_1


Cukup lama Alby menunggu di depan ruangan, sampai saat Dokter keluar, dan Alby menghampirinya.


" Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


Dokter menghela nafasnya.


" Maaf, Pak. Kami tidak bisa mempertahankan bayi nyonya Syifa. Dan sebentar lagi, perawat akan membawa Nyonya Syifa ke ruang perawatan."


Begitulah penjelasan dokter, setelah itu dokter pun berlalu, dan tak lama tampak Syifa yang di dorong oleh perawat menuju ruang perawatan. Wajah Syifa tampak pucat. Alby menggenggam tangannya.


Tak lama, Alby kembali merasakan mual dan berlari ke toilet memuntahkan isi perutnya. Mual yang terus mengganggunya. Tadinya Alby berpikir mungkin ini karena kehamilan Syifa. Tapi saat ini, calon anak mereka telah tiada. Tapi mual itu masih menyerang.


" Apa kondisi Syifa menurun lagi, Al?"


Alby menggeleng.


" Syifa keguguran, Ma."


Ucap Alby lemah. Tante Yuni menatap tak percaya.


" Syifa Hamil??? "

__ADS_1


Lalu Tante Yuni menatap Syifa. Lalu menatap pada Alby. Begitu banyak pertanyaan menggantung di benaknya, namun saat melihat wajah Alby yang sedang menanggung banyak beban, membuat dirinya mengurungkan niatnya.


Siang hari Syifa telah sadar, dan saat ini tengah di suapi makan siang oleh Ibunya. Sedangkan Alby pamit untuk membeli makan bagi mereka. Tak lama Alby pun kembali.


" Ma, mama makan dulu. "


Alby meminta mertuanya itu untuk makan siang.


" Ya, Mama suapin Syifa dulu. "


" Biar Alby yang lanjutin."


Alby meminta piring yang di pegang oleh mertuanya, lalu menyuapi Syifa. Syifa menatap Alby. Syifa melihat Alby tak seperti biasa.


" Maafkan aku, Bee."


Alby tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya.


" Sudah, jangan memikirkan apapun. Makanlah, setelah itu minum obatmu, dan istirahat."


Syifa hanya mengangguk, lalu menerima suapan. dari Alby kembali. Menjelang malam, Alby pamit pulang, setelah di paksa oleh mertuanya untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2