Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 119


__ADS_3

" Aku sudah tau semuanya. Mama sudah cerita. Dan aku merasa sangat malu. Tak seharusnya, kamu mau menuruti keinginan Mama. Aku malu Bee."


Air mata Syifa menetes. Lalu Alby beranjak mendekati Syifa yang duduk di ranjang. Alby menggenggam tangan Syifa.


" Tidak perlu di bahas lagi. Biarkan saja."


" Bee...apa kamu sudah gila...kemana cinta kamu? Saat Dira melepaskan kami untuk aku, kamu memilih Dira, itu adalah bukti bahwa kamu sangat mencintainya."


" Aku malu untuk mengatakan aku mencintainya, karena aku hanya membuatnya terluka. Bukan kali ini saja, dulu di awal pernikahan pun aku menyakitinya."


" Kamu gila, Bee. Aku gak perlu belas kasihan kamu, aku gak mau. Gak seharusnya aku hadir diantara kalian Bee. Apalagi ada calon anak kalian. Kamu tega menceraikan Dira saat dia hamil. Aku semakin kerdil di hadapan Dira, Bee."


" Bukan kamu yang hadir, tapi aku yang menghadirkan kamu. Aku yang salah disini. Aku mohon, jangan salahkan dirimu lagi, Fa."


Syifa dan Alby hanya saling diam dengan air mata yang masih sama-sama menetes di mata mereka. Alby menyesali kebodohannya, dan Syifa menyesali keputusannya yang menerima Alby. Bahkan sampai meminta haknya sebagai seorang istri, meminta nafkah batin yang sebenarnya Alby pun selalu menghindar setiap kali Syifa memintanya.

__ADS_1


Namun malam itu, entah keberanian dari mana, Syifa kembali meminta nafkah yang di tunda Alby. Dan entah apa yang ada di pikiran Alby hingga dirinya pun memberikan nafkah itu pada Syifa. Walau saat melakukan penyatuan, Alby merasa berbeda saat pertama kali melakukan dengan Dira dulu. Alby dengan mudah melakukan penyatuan dengan Syifa. Bahkan Syifa tak tampak menahan rasa sakit, seperti yang di rasakan Dira dulu.


" Istirahatlah, Aku akan disini menunggumu."


Alby membantu Syifa untuk berbaring. Lalu Alby mengambil benda pipih yang tersimpan di saku celananya. Di pandanginya foto yang di jadikan wallpaper benda itu.


" Maaf, Aku terlalu pengecut." Alby bergumam.


Di perusahaan Pak Wisnu dan Aya tampak sedang mengadakan rapat. Setelah beberapa jam, kini rapat itu telah selesai, dan meninggalkan Pak Wisnu dan juga putrinya.


" Kamu mau kemana, Nak?"


" Aya mau menghadiri pernikahan teman, Aya. Dan itu di luar kota. Boleh ya, Pa.."


Aya mencoba merayu papanya, sejak menginjakkan kaki di perusahan milik papanya ini, Aya jarang sekali meminta cuti ataupun sejenisnya.

__ADS_1


" Hm..Baiklah...Emang temanmu itu dimana? Kok sampai seminggu kamu disana?"


Aya tampak sedikit gugup. Tidak mungkin dia mengatakan akan ke Bandung, ke rumah Dira.


" Di Jogyakarta, Pa. Iya temen Aya disana.."


Pak Wisnu tampak menaikan alisnya, menatap Aya yang sedikit gugup. Tidak biasanya Aya akan menjawab sepertiri itu.


" Ya, kalau menurut kamu, apa kita gak sebaiknya menceritakan hal ini pada Dira? Papa merasa bersalah, karena Dira menderita akibat ulah kakakmu. Apapun alasan Alby, dia tetap salah. Tak seharusnya dia menyakiti Dira. Kasihan lalu menikahi, huuhhh...alasan apa itu?"


" Entahlah, Pa. Aya juga gak habis pikir dengan Kak Al. Meninggalkan istri yang begitu baik, demi masa lalu yang belum tentu baik untuknya."


Aya menjeda ucapannya, dan pandangannya beralih pada luar jendela yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi.


" Kak Dira perempuan lembut yang pernah Aya kenal. Sedikit pun kak Dira gak pernah mengeluh. Aya sangat menyayangkan sikap Kak Al yang mengkhianati Kak Dira. Aya merasa kak Al, sangat bodoh. Menghancurkan mimpi kak Dira ,demi mewujudkan mimpi mantan. Punya otak gak sich, Kak Al itu?"

__ADS_1


Aya bicara dengan emosi. Sejak lama dia menahan emosi terhadap kakaknya itu. Namun di tahan, karena Aya merasa ini bukan ranahnya.


__ADS_2