
Pesawat yang di tumpangi Alby dan Dira tiba di kota Medan. Selama perjalanan menuju hotel, baik Dira mau pun Alby masih sama-sama diam. Dira masih memikirkan kata-kata Bram saat di bandara kota Jakarta tadi.
Flashback on
" Kamu yakin mau menemukan mereka?" Bram bertanya pada Nadira saat mereka masih menunggu di Bandara. Sementara Alby sedang berada di toilet.
" Aku udah pernah bilang kan? Kak Bram gak lupa kan?"
" Kak Bram?"
Bram mengerutkan keningnya, disaat Nadira memanggilnya dengan panggilan Kakak. Nadira pun hanya tersenyum.
" Mulai sekarang, aku akan manggil Kak Bram. kan umur kakak lebih tua dari aku."
" Kamu mau memasukkan racun dalam rumah tanggamu sendiri, Dira. Jika itu keputusanmu, aku hanya bisa mendukung, suatu saat kalau kau ingin pergi dari kesakitan ini, datanglah padaku. Bukan sebagai orang lain. Tapi anggaplah aku sebagai kakakmu. Kakak yang akan melindungi adiknya."
Nadira tersenyum getir, dan kristal bening itu pun turun dari matanya.Alby yang melihat interaksi itu dari kejauhan, sedikit tidak terima. Nadira bisa tersenyum, saat bersama orang lain.
" Ekhem...ekhem, ngomongin apa sich? Bahagia bener."
Alby menghampiri mereka. Lalau ikut bergabung dengan mereka. Nadira dengan cepat menghapus jejak air mata di pipinya. Dan tak lama panggilan untuk keberangkatan mereka pun terdengar.
__ADS_1
Flashback off.
Supir menghentikan mobil tepat di sebuah hotel yang akan di jadikan tempat menginap mereka. Setelah melakukan check-in, dan mendapatkan. kunci kamar, Nadira dan Alby diantar oleh office boy menuju kamar mereka. Bahkan Nadira memesan kamar yang berbeda untuk mereka. Setelah berada di kamar masing-masing. Nadira menrebahkan badannya, lalu tertidur.
Suara ketukan pintu, menyadarkan Dira dari tidur siangnya. Matanya mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk. Suara ketukan masih terdengar di telinganya. Lalu Dira pun membuka pintu.
" Mas, ada apa?"
Dira bertanya pada Alby, yang tepat berada di depan pintu kamarnya. Tanpa meminta izin Alby langsung masuk ke dalam.
" Kamu buat aku khawatir, dari tiba sampe sekarang, kamu gak keluar kamar juga."
Alby berkata sambil mendudukkan bokongnya di sofa. Nadira menipiskan bibirnya. Lalu duduk di tepian ranjang.
Nadira tersikap. Lalu menatap Alby.
" Mas, belum makan siang?"
Alby hanya menggelengkan kepalanya. Lalu beranjak, ke arah pintu.
" Aku tunggu di luar, segera lah bersiap. Aku sudah sangat lapar."
__ADS_1
Nadira melirik jam di kamarnya, pukul tiga sore, pantas saja. Tapi kenapa Alby harus menunggunya untuk makan siang? Dengan cepat Nadira bersiap, lalu segera keluar dan melihat Alby yang berdiri di dinding sebelah pintu. Dengan sebelah tangan yang di masukan ke saku, dan sebelah tangan lagi mengetik sesuatu di ponselnya.
" Mas."
Nadira memanggil, ketika mendekati Alby. Alby melihat lalu tersenyum manis. Sebelah tangannya di rentangkan untuk menggapai tangan Nadira. Nadira terdiam sejenak, sebelum akhirnya Alby buka suara.
" Kita halal kan untuk bergandengan?"
Nadira hanya mengangguk, dengan sedikit ragu menyambut tangan Alby. Alby pun tersenyum lalu menggenggam erat tangan Nadira. Mereka turun dengan saling bergandengan tangan. Nadira bingung dengan sikap Alby yang menurutnya sangat manis ini.
Setelah selsai makan, Alby mengajak Dira untuk beduaan di sebuah taman kota. Nadira hanya menuruti, tentu dengan banyak pertanyaan di hatinya. Sikap Alby yang lebih manis hari ini menimbulkan perasaan bahagia di hatinya. Tapi Dira harus membuat benteng pertahanan, agar hatinya tak semakin terluka nantinya.
.
.
.
Hai readers...ikuti terus ya
Jangan lupa like, komen, dan pavorite nya..
__ADS_1
makasih readers tersayang...😘😘😘😘