Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 109


__ADS_3

Alby terdiam di kamar. Bram benar-benar merealisasikan omongannya. Sebagai orang yang telah lama bersama. Alby sangat tahu karakter keras seorang Bram. Dan kini dia kehilangan Asisten pribadi dan juga sahabatnya itu. Alby menutup panggilan secara sepihak. Tak ingin lagi membahas apapun.


Alby meremas rambutnya, sendiri. Dan kembali berteriak. Penyesalan selalu datang terlambat. Dan kini dia menyesal, telah terjebak di keputusannya sendiri. Seandainya dulu dia mendengarkan perkataan Bram, dan seandainya dulu dia bisa tegas menolak, seandainya dulu dia bertukar cerita dengan Dira, mungkin kejadiannya tidak akan serumit ini. Seandainya...seandainya...namun kini semua terlambat, Alby tak bisa mengulang waktu yang berjalan.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga setengah jam, akhirnya Dira dan Keluarga Om Hendra sudah tiba di kediaman almarhum orang tua Dira. Rumah ini terawat dengan baik. Karena Dira sudah meminta Mang Asep untuk mengurusnya. Bahkan keluarga Mang Asep tinggal di rumah ini sebagai penjaga sekaligus tukang kebon di rumah ini.


" Assalamualaikum, Neng."


" Waalaikumsalam, Mang. Bagaimana kabar, Mamang?"


" Alhamdulillah baik, Neng. "


Lalu Mang Asep pun menurunkan barang-barang yang di bawa mereka di ruang keluarga.


" Maaf Neng, ini koper-koper nya mau di tarok di mana?"


Dira pun memilih kamar yang ada di lantai Dua. Sementara Tante Dwi dan On Hendra menempati kamar di bawah. Sedangkan Dion untuk sementara di kamar tamu.

__ADS_1


" Biar kita bawa sendiri aja ya, Mang. Mamang bantu bawa koper Dira aja."


Lalu Om Hendra pun membawa koper miliknya ke kamar yang telah di pilih. Begitu juga Dion. Dan Dira pun berjalan menuju tangga, di ikuti oleh Mang Asep.


" Mang, bisa tolongin, Dira?"


Mang Asep pun mengangguk sambil senyum sopan pada Dira.


" Mang, bilang ma Bik Siti, masakin Dira sayur asem dan sambel terasi, jangan lupa empal gorengnya ya mang. Dira kepingin makan itu. Bisa kan Mang?"


" Bisa Neng. Sebentar ya. Mamang bilangin ke istri Mamang dulu."


Dira tak tahu seberapa dirinya terlelap, yang dia tahu, saat ini rasa lapar menghampirinya, dan membuat matanya harus terbuka. Dira menuruni satu persatu anak tangga. Dirinya tak melihat Tante Dwi dan Om Hendra, begitu pun Kak Dion.


" Bik, buk Siti.."


Dira memanggil asisten rumah tangganya itu. Dan Buk Siti pun menghampiri Dira.

__ADS_1


" Iya, Neng. Neng mau makan sekarang? Biar bibi siapin Neng."


Dira menatap sekeliling rumah. Tampak sepi.


" Bik, Tante dan Om kemana? Kak Dion juga kok gak kelihatan?"


" Oh.. Bapak dan Ibu tadi pergi, mau mencari sesuatu katanya. Sedangkan Den Dion ikut sama Mang Asep, mau mancing katanya, Neng. Mungkin sebentar lagi pulang."


Dira mengangguk. Lalu Dira pun duduk di meja makan. Sedangkan Buk Siti mulai menyiapkan makanan untuk Dira.


Saat Dira tengah menikmati makanannya, mobil Kak Dion tampak memasuki halaman rumah. Tampak Om dan Tante, keluar dari dalam mobil. Lalu berjalan ke rumah, dengan menenteng beberapa plastik berisi belanjaan.


" Hai, Sayang. Udah bangun?"


" Om dan Tante dari mana? Habis belanja?"


" Tante belanja keperluan kamu, Sayang. Susu hamil, cemilan, dan Buah-buahan. Kamu lagi hamil, jadi Tante gak mau, calon cucu Tante kekurangan apapun."

__ADS_1


Dira menatap Tantenya berkaca-kaca, seandainya Bunda dan Ayah masih ada, mungkin saat ini mereka akan melakukan hal sama. Menjaga Dira dengan sepenuh hati, dan tak ingin melihat Dira menangis lagi.


__ADS_2