
Setelah pertemuan di Taman itu, Alby selalu saja memandangi foto Hanan di ponselnya. Senyum Hanan dan senyuman Dira tersimpan manis di ponselnya. Alby sengaja mengambil foto Hanan secara sembunyi. Dirinya masih sangat segan untuk meminta langsung dari Dira.
" Semoga ada kesempatan untuk Papa, Nak. Kesempatan menemani hari-hari Kamu."
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah seminggu Dira berada di Jakarta. Gaun pengantin pesanan Sekar pun sudah selesai. Kini pelanggan yang bernama Sekar itu pun sedang mencoba gaun itu. Dan sempurna....semua melekat pas sesuai porsinya. Bahkan Sekar sangat terkagum-kagum dengan gaun itu.
" Mbak, terima ksih ya, Saya sangat suka dengan gaun ini. Dan ini, Saya harap mbak mau hadir di resepsi pernikahan saya."
Ucap Sekar dengan menyerahkan sebuah undangan.
" Insha Allah, Mbak. Dan terima kasih atas undangan nya."
Lalu Sekar pun pergi meninggalkan butik itu. Hanan masih setia bermain dengan mobil-mobilan yang baru beberapa hari ini di belikan oleh Bram.
Dea masuk keruang kerja Dira. Dan Dea memberikan laporan penjualan selama butik di pegang olehnya.
" Loh, bukannya setiap bulan kamu selalu email ke aku ya?"
" Biar jelas aja, Ra. Kan ada pertinggalnya juga kan."
__ADS_1
Dira mengangguk
" Hmm...Ra."
" Hm..Napa De."
" Aku denger, kamu sudah ketemu Alby ya?"
Dira menghentikan gerakan tangannya. Lalu menatap ke arah Dea. Dan mengangguk. Dea tampak mengerutkan keningnya.
" Dia gak macem-macem kan, Ra? Misalnya memaksa kamu mengatakan ke Hanan kalau di adalah Papanya? Atau apa lah."
" Dia gak minta itu, De. Aku tahu sifat Mas Alby. Dia gak akan memaksa, dan dia akan meminta di saat yang tepat."
" Apa kamu masih mencintai mantan suami kamu itu, Ra?"
" Aku gak tau, De. Untuk saat ini, aku hanya memikirkan kebahagian Hanan. Aku juga gak tau, Mas Alby sudah menikah lagi atau belum. Aku juga gak pernah cari tau. Biarlah begini saja dulu. Untu kedepannya aku gak mau banyak berandai-andai."
" Sampai kapan kamu akan merahasiakan siapa Ayahnya, Ra."
__ADS_1
" Aku bukan merahasiakannya, De. Hanya saja, saat ini Hanan belum mengerti. Suatu saat nanti pasti aku akan mengatakan siapa Ayah kandungnya."
Dira pun menghela nafasnya.
" Aku juga gak mau di bilang egois lagi, De. Memisahkan Ayah dan Anak.."
Lalu Dira pun mengatakan akan kembali pindah ke kota ini. Saat ini rasanya tak mungkin semuanya di pegang oleh Dea. Sudah cukup hampir empat tahun ini, Dea yang menghandle semua butiknya. Saat ini Dea sudah memiliki keluarga, sudah pasti tanggung jawabnya pun semakin bertambah.
Bahkan Dea memekik bahagia, saat mendengar sahabat sekaligus sudah menjadi saudaranya ini akan kembali memegang Azzura.
" Bahagia banget sich? Kelihatan loh, bahwa selama ini kamu capek kan, handle Azzura sendiri?"
" Gak gitu Ra. Akhirnya aku bisa berdekatan kembali dengan sahabat ku ini."
Ucap Dea sambil memeluk Dira. Dira pun tersenyum melihat tingkah Dea.
" Maafin aku ya, De. Karena keegoisan ku, kamu jadi capek banget. Dan karena keegoisanku juga, Hanan tidak mengenal siapa Ayahnya."
Ucap Dira sendu. Membuat senyuman yang tadinya mereka di bibir Dea. Kini menyurut.
__ADS_1
" Ra, kamu hanya butuh waktu. Seandainya aku jadi kamu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama. Sekarang kamu hanya perlu berdamai dengan masa lalu dan hati kamu. Demi Hanan."