
Dira membereskan pekerjaannya lalu keluar dari ruangannya. Dan menemui Dea.
" De, aku keluar, jemput Hanan. Kalau ada yang nyariin, kamu yang handle ya?"
Dea melirik jam di dinding, matanya membulat.
" Buruan sana, udah terlambat banget ini. Mudah-mudahan Hanan gak nangis."
Dira pun dengan cepat turun dari lantai dua, dan Dira pun terkejut mendapati Hanan sudah ada di bawah.
" Sayang, kamu sama siapa? Siapa yang nganterin kamu nak? Maafin mama ya, mama kelupaan.."
Dira memeluk Hanan. Lalu pintu butik pun kembali terbuka. Alby datang dengan membawa paper bag.
" Mas Alby, jadi mas yang jemput Hanan? Dan bawa Hanan kesini?"
" Iya, tadi pagi aku titip pesan ke wali kelas Hanan. Kalau Hanan belum ada yang jemput langsung kabari aku. Dan ternyata benar."
Dira membelai rambut Hanan.
" Iya, aku lupa. Maaf."
Ucapnya dengan wajah menyesal. Dan Alby hanya tersenyum melihat wajah Dira.
__ADS_1
" Gak apa-apa. Lain kali, kalau kamu sibuk, kamu hubungi aja aku, aku pasti usahakan untuk menjemput Hanan."
" Ma..Hanan lapar."
Ucapan Hanan mengalihkan perhatian mereka. Alby menyerahkan paper bag pada Dira.
" Papa makan siang sama kita kan?"
Hanan bertanya pada Alby. Sedangkan Alby hanya tersenyum lalu menatap Dira. Begitu juga dengan Hanan.
" Papa belum makan loh, Ma."
Dira pun menatap Alby. Alby hanya mengalihkan pandangan nya. Karena melihat Dira yang diam saja, akhirnya Alby memutuskan untuk pamit.
Lalu Alby mengacak rambut Hanan. Dan melangkah ke arah pintu. Sebelum tangan Alby membuka pintu butik.
" Sebaiknya kamu makan dulu, Mas. Kita bisa makan bersama."
Alby tersenyum mendengar penuturan Dira. Sedangkan Hanan bersorak bahagia.
" Yeeeyyy.... Hanan makan bareng Papa."
Lalu ketiganya pun berjalan ke lantai atas, dimana ruangan Dira berada. Dea yang kebetulan keluar dari ruangannya pun melihat mereka bersama.
__ADS_1
" Hai, De."
Alby yang melihat Dea langsung menyapa. Dea pun menjawab sapaan Alby.
" De, ayo sini, kita makan siang bareng."
Dira mengajak Dea untuk makan bersama. Namun Dea menolak dengan alasan Dion akan mengajaknya makan bersama.
Akhirnya siang itu, Hanan merasakan makan bersama dengan kedua orang tuanya. Selama makan siang berlangsung, tak henti-hentinya Hanan bercerita dan sesekali meminta Alby untuk menyuapinya.
" Hanan, Makan sendiri. Hanan sudah besar kan?"
Dira mengingatkan Hanan.
" Gak apa-apa, Dir. Lagian jarang-jarang kan, Hanan bisa makan bareng aku. Aku gak keberatan kok."
Dira hanya menipiskan bibirnya.
" Yey...besok Hanan bisa cerita ke temen-temen, kalo Hanan juga bis makan bareng papa dan mama. Gak cuma dengerin mereka aja."
Hati Dira seperti tercubit mendengar penuturan Hanan. Begitu juga dengan Alby. Bukan dirinya tak berusaha membuka kembali pintu hati Dira. Namun sepertinya Dira menutup pintu hatinya untuk Alby. Hubungan mereka memang sudah membaik, tapi Dira masih selalu canggung berhadapan dengan Alby.
Keinginan Alby hanya ingin, Dira merasa nyaman dengan dirinya. Namun sepertinya sulit, Alby hanya bisa berdoa, agar suatu saat Dira bisa membuka pintu hatinya lagi. Alby memakan makanannya dengan sesekali melihat ke arah Dira. Dan setelah selesai makan, Dira pun membereskan bekas makan mereka dan juga Hanan.
__ADS_1
Alby memandang sekeliling ruangan ini. Ruangan yang menjadi saksi bisu, betapa Alby sangat merindukan Dira ketika mereka masih bersama. Di ruangan ini lah, mereka menghabiskan waktu.