Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 103


__ADS_3

Taksi yang di tumpangi Dira tiba di rumah hampir jam delapan malam. Kondisi jalanan ibu kota yang sangat macet karena malam ini adalah malam mingu. Dira membuka pintu rumah yang tak terkunci, saat dia melewati ruang keluarga dirinya di kejutkan dengan Alby yang sudah menunggunya disana.


" Kamu dari mana, Sayang. Kenapa baru pulang jam segini? Aku khawatir sama kamu."


Ucap Alby yang langsung memeluk Dira, saat Dira di hadapannya. Dira dengan cepat melepaskan pelukan Alby, bahkan sedikit mendorongnya.


" Jangan peluk-peluk.Kita bukan suami istri lagi."


Ucapnya dingin. Lalu Dira pun melangkah ke kamarnya. Alby mende*sahkan nafasnya. Rasanya tercekat saat Dira berkata dengan sangat dingin. Tiga puluh menit kemudian, Dira keluar dari kamarnya, dan menuju ruang makan. Tanpa melihat Alby yang masih duduk diruang keluarga.


Dira mulai memasak makan malam untuknya sendiri. Malam ini Dira sangat ingin makan ayam. Tak lama Mbok kasum pun datang menghampiri.


" Neng, Biar si Mbok aja yang masak. Neng mau makan apa?"


" Gak usah, Mbok. Dira lagi pingin masak. Biar Dira masak sendiri ya Mbok."

__ADS_1


Tolaknya dengan senyum. Mbok kasum pun melihat ke arah Alby yang kini mendekat ke arah dapur. Alby menganggukkan kepalanya, sebagai tanda meminta mbok kasum untuk kembali ke kamarnya.


Dira hanya menggoreng ayam, lalu membuat sambel dengan kreasinya sendiri. Setelah selesai Dira pun mengambil nasi di rice cooker dan mulai memakannya. Alby duduk di samping nya, namun Dira tak memperdulikannya.


Alby memperhatikan Dira yang sedang menyantap makanannya. Setelah Dira selesai, Dira pun kembali ke dapur dan membersihkan bekasnya. Lalu Dira pun kembali berjalan ke kamarnya. Namun suara Alby mengehentikan langkahnya.


" Dira, bisa kita bicara?"


Dira berhenti di tempat, lalu Alby pun menghampirinya. Dira diam, saat Alby menuntunnya untuk duduk di ruang keluarga.


Dira melirik sekejap ke arah Alby. Lalu kembali menatap lurus ke depan.


" Lebih baik, mas kamu tampar, kamu maki, atau kamu pukul dari pada kamu terus mendiamkan mas."


Dira melihat ke arah Alby.

__ADS_1


" Apa ini yang ingin Kamu bicarakan, Mas? Kalau hanya ini, aku ingin mengingatkan, bahwa kita saat ini adalah orang asing. Kita tidak memiliki ikatan. Jadi bukannya hal yang wajar, jika kita tidak saling bertegur sapa? Dan ingat, Mas. Aku tak meminta untuk tetap berada di rumah ini. Kalau mas keberatan atas sikapku, malam ini juga aku akan keluar. "


Dira berucap, lalu beranjak dari duduknya. Dan menuju ke kamar. Namun cekakan tangan Alby menghentikan langkahnya.


" Mas minta maaf. Bukan mas keberatan, hanya saja, mas merasa kamu bukanlah Dira yang mas kenal dulu. "


Dira tertawa sinis.


" Dira yang dulu, sudah hilang mas. Sudah tertimbun dengan rasa sakit yang diterimanya akibat pengkhianatan suaminya. Yang mati karena kebodohannya mencintai orang yang tak pernah mencintainya."


Dira menjeda ucapannya.


" Aku tak tahu sampai kapan aku akan disini. Tapi satu hal yang mas harus tau, dengan atau tanpa izin dari mas, suatu saat aku akan pergi, apabila rasa sakit ini sudah tidak sanggup untuk ku tahan."


Lalu Dira pun masuk ke kamarnya. Dira menghembuskan nafas ke udara. Mencoba menghalau air mata yang akan keluar. Dira pun membelai perutnya yang mulai membuncit.

__ADS_1


" Jangan takut, Dek. Bunda akan selalu menjaga Adek, walau tanpa Ayah."


__ADS_2