
Waktu terus bergulir, surat putusan cerai pun sudah berada di tangan Dira. Hatinya memang perih, namun Dira berusaha tegar untuk anaknya. Sementara Alby, hanya sekali dirinya melihat Dira, itupun dari jarak jauh. Kondisi kesehatan Syifa yang terus menurun, memaksanya untuk tetap berada di sisi Syifa. Dengan kondisi Syifa yang seperti itu, memaksa Alby untuk berbohong, mengenai Dira, saat Syifa bertanya padanya.
" Sayang, istirahat dulu ya. Dari pagi kamu di meja kerja terus loh."
Tante Dwi membelai punggung Dira, yang masih setia di kursi kebesarannya. Berbagai desain gaun dan busana wanita lainnya masih terletak di meja kerjanya. Tante Dwi melihatnya satu persatu.
" Iya, Tante. Ini Dira juga udah selesai. Nanti kalau kak Dion datang, tinggal titipin ini aja, selebihnya biar Dea yang handle."
Tante Dwi tersenyum, tak lama terdengar suara seseorang yang mengucap salam.
"Assalamualaikum, Ma..Dira.."
" Waalaikumsalam."
Tante Dwi dan Dira pun keluar dari ruangan tempat Dira biasa mendesain.
" Kak..."
Dion mengalihkan pandangannya, lalu di lihatnya Dira yang berada di dekat tangga,dengan cepat Dion berlari.ke tangga, dan membantu Dira untuk turun.
" Pelan-pelan Dira. Perutmu sudah semakin besar. Apa kamu udah cek kandungan bulan ini?"
__ADS_1
" Udah kak. Tante kemarin yang menemani."
" Trus dokter bilang apa?"
" Dokter bilang semua baik, anakku juga aktif. Bahkan sekarang aku udah susah untuk tidur kalau malam. "
" Itu wajar, Sayang. Tante juga dulu gitu waktu hamil Dion."
Kini mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Bik Siti datang membawa tiga gelas jus jeruk untuk mereka. Serta cemilan untuk teman mengobrol.
" Ra, Dea bilang,ada beberapa costumer yang meminta desain baru. Dia menghubungi kakak, karena ponsel kamu gak bisa di hubungi."
Dion langsung memberikan alasannya, saat Dira menatapnya dengan tatapan menggoda.
Dion tersenyum tipis. Lalu meneguk minumnya.
" Dea masih sulit di dekati, Ra."
Dion berkata sambil menghela nafasnya. Bahkan pandang matanya sedikit menerawang. Sudah beberapa bulan ini, Dion mencoba mendekati Dea, namun Dea tak juga membuka hati.
" Apa perlu mama yang turun tangan?"
__ADS_1
Tante Dwi ikut angkat bicara.
" Ck..gak usah ma. Ini urusan Dion. Lagian, Dea itu bukan orang yang gampang menerima orang baru. Masa lalunya membuat dia trauma. "
Tante Dwi mengerutkan keningnya. Menatap Dion yang mulai bicara serius.
" Emang, masa lalu Dea seperti apa?"
" Dea pernah hampir menikah, Tante. Tapi keluarga calon suaminya tidak menerima kehadirannya, karena menganggap Dea berasal dari keluarga yang tidak jelas. Dan lebih parah nya lagi, Dea di permalukan di depan seluruh keluarga calon suaminya. Dan sejak kejadian itu, Dea seakan menutup diri dari laki-laki."
Dira sedikit bercerita tentang Dea. Walau belum pernah berjumpa dengannya, namun Tante Dwi merasa Dea adalah gadis baik, apalagi hampir setiap hari Dira bercerita mengenai Dea yang merupakan sahabat baiknya itu. Dan kini Dea yang menghandle butik Dira. Bahkan Dea dengan setianya tidak membuka suara, saat dulu Alby memaksanya memberitahukan keberadaan Dira.
" Tante jadi pingin ketemu sama sahabat kamu itu, Sayang. Secantik apa dirinya, sampai anak Tante jadi galau gini."
" Ck..mama udah deh. Kalau mama belum bisa menerima Dea, Dion gak akan bawa Dea ke hadapan mama dan papa."
Tante Dwi tertawa melihat reaksi anaknya yang mulai kesal.
" Gimana kamu mau bawa Dea kesini, kamu aja di tolak terus."
** Pagi...pagi ini aku double up ya ..
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen,, gift serta votenya..
makasih...love you all..🥰🥰😘😘,**