Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 115


__ADS_3

Dira yang mendengar, mau tak mengulum senyum. Sebenarnya dia sangat berharap, Dea bisa membuka kembali hatinya yang sempat terluka. Namun itu semua hak nya Dea.


" Ra, kamu dong, uang yang bantuin Kakak. Gimana gitu kek, biar Dea mau nerima kakak. Ya , Ra...kamu bujuk gitu. Atau kamu promo in kakak."


Dira semakin tertawa begitu pula Tante Dwi, tertawa melihat tingkah kocak anaknya. Yang meminta di promosikan oleh Dira.


" Gak sekalian aja, kami di Sale, 90% kan lumayan tu. Ya kan, Ra."


" Ck..mama apaan sich, masa anak semata wayang yang ganteng nya seantero Bandung Raya di obral, kayak kaos gak laku.."


Kesal Dion yang mendengar mamanya menggodanya. Sedangkan Dira hanya semakin tertawa melihat kekesalan Kakaknya ini.


" Aku gak janji ya, Kak. Kakak kurang keras usahanya, dan doanya, mestinya kakak itu, tikung dia di pertiga malam. Aku yakin kakak gak akan segalau ini."


Ucap Dira, dan di sambut anggukan oleh Tante Dwi. Dan Dion hanya diam, dan mencerna ucapan Dira.


Malam ini mereka makan malam bersama, walau minus Om Hendra di karenakan om Hendra harus terbang ke Bali dari kemaren dan dua hari lagi baru akan pulang ke Bandung.


" Ra, kandungan kamu udah berapa bulan?"


Tanya Dion saat mereka makan malam.

__ADS_1


" Tujuh bulan, Kak."


" Kamu gak mau buat acara tujuh bulanan gitu. Kalau emang mau, biar Minggu depan, kita buat acaranya. Gak usah terlalu besar, cukup undang tetangga dan karyawan kamu."


Dira menggeleng. Hatinya sedikit tercubit. Wanita mana yang tak ingin mengadakan acara itu, tapi keadaan yang membuat dirinya enggan untuk melaksanakannya.


"Gak usah, Kak. Nanti kita panti asuhan aja, berbagi rezeki disana untuk anak-anak yang kurang beruntung. Dan aku yakin, mereka akan mendoakan yang terbaik untuk Aku dan anakku."


Tante Dwi, membelai punggung tangan Dira. Lalu tersenyum lembut.


" Gak apa kan Tant?"


" Tidak apa, Sayang. Tante dukung. Kalau begitu, setelah acara di panti, kita udah bisa beli perlengkapan di debay. Gimana?"


Dira menganggukkan antusias. Dion hanya melihat Adiknya dengan tatapan haru, tak lama, Dion mendekati Dira, dan langsung memeluknya, bahkan Dion sempat meneteskan air mata saat melihat adiknya yang lagi hamil tanpa dampingan suami.


" Kak, kakak kenapa? Aku udah gak apa-apa? Aku kuat demi anakku."


Dion menyeka sudut matanya, lalu menangkup wajah Dira.


" Jangan pernah sembunyikan lukamu lagi dari kami, Ra. Kakak merasa tidak berguna, saat kamu menanggung lukamu sendiri."

__ADS_1


Dira memeluk Dion. Dan Tante Dwi yang melihat meneteskan air mata haru. Rasa sayang Dion terhadap Dira tak pernah berubah, dari dulu sampai sekarang.


Sementara di tempat lain.


Kondisi Syifa kembali drop, saat tanpa sengaja Syifa mendengar pembicaraan antara Mamanya dan Alby.


" Al, kamu baik-baik saja? Istirahat lah, mama tau kamu sangat lelah."


Tante Yuni ingin pergi dari tempat itu, namun langkahnya terhenti saat mendengar penuturan Alby.


" Kandungan Dira sudah memasuki Minggu ke 28, Ma. Itu artinya sebentar lagi, Alby akan menjadi seorang Ayah."


Tante Yuni tersenyum. Lalu kembali mendekat ke arah Alby.


" Apa Dira baik-baik saja Al?"


" Tampaknya baik, Ma. Alby gak punya keberanian untuk bertanya, atau pun bertemu dengannya.Al pengecut, Ma."


" Maafkan, Mama Al. Karena keegoisan mama, Kamu dan Dira berpisah."


Jeddeerrr.....

__ADS_1


__ADS_2