Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 86


__ADS_3

Dira terpaksa berbohong untuk mengetahui kebenaran atas apa yang di lihatnya tadi. Dirinya tak ingin hanya karena cemburu dan curiga membuat semuanya berantakan.


Dokter Tiara tersenyum ramah mendengar pertanyaan Dira.


" Oh, itu, Nyonya Syifa. Dan baru saja melakukan pemeriksaan kehamilan. Dan itu tadi suaminya."


Jedddeeeeeerrrrr.....


Dira bagai di hantam oleh batu besar mendengar perkataan Dokter Tiara. Air matanya hampir saja luruh. Dea yang melihat perubahan wajah Dira langsung berpamitan kepada Dokter cantik itu, setelah mengucapkan terima kasih.


Selama di perjalanan, Dira hanya termenung, dan sesekali air matanya jatuh. Diamnya Dira membuat Dea takut.


" Dira, mungkin Alby cuma menemaninya. Kamu jangan mikir yang macam-macam."


Dea mencoba menghibur Dira. Namun Dira masih diam.

__ADS_1


" Mas Alby seminggu ini selalu saja mual dan pusing, De. Apa mungkin itu karena Syifa hamil anaknya? Aku pernah baca mengenai sindrom ini, sindrom kehamilan simpatik, apa mungkin Mas Alby sedang mengalami hal itu De? "


Ucap Dira di sela-sela air matanya yang jatuh. Dea hanya diam. Yang di lakukannya hanya memeluk sahabatnya itu, mencoba menenangkannya.


Sedangkan Syifa dan Alby yang sudah tiba di rumah Syifa, tampak risau.


" Bee...Kamu..."


" Fa, kamu istirahatlah. Ingat, kandunganku sangat lemah, jadi kamu harus banyak istirahat."


Alby memaju mobilnya membelah jalanan, dan dalam waktu satu jam, dia sudah tiba di rumahnya. Dira belum tampak tiba di rumah, saat Alby menghubungi pun, Dira tak menjawab panggilan darinya. Sudah berulang kali Alby mencoba menghubungi, namun Dira tak juga menerima.


Alby duduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saat terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat Alby melihat. Benar saja, Dira datang. Dengan keadaan yang membuat hati Alby tercubit. Mata sembab setelah menangis. Alby dengan cepat menghampiri Dira.


" Sayang, aku bisa jelaskan?"

__ADS_1


" Mas mau jelasin apa? Mas mau bilang kalau Syifa itu istri Mas, dan sekarang Syifa sedang hamil anak kalian? Iya? Jawab mas...JAWAB...."


Dira meninggikan suaranya. Selama menikah Dura tak pernah berlaku kasar ataupun meninggikan suaranya, namun siang ini, itu yang terjadi. Alby diam seketika, dan wajahnya menunduk.


" Maaf. "


Hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya. Dira tak membutuhkan penjelasan lain. Dengan satu kata itu, sudah bisa menjelaskan semuanya.


" Kenapa Mas? Kenapa? Apa karena aku belum bisa memberikan keturunan?"


Ucap Dira di sela tangisnya. Seketika tubuh Dira luruh bersama air matanya yang jatuh kembali. Rasanya terlalu sakit yang dialaminya. Rasa sakit ini jauh lebih menyakitinya, ketimbang saat dirinya memilih mundur saat dia tahu, Alby masih mencari Syifa. Melihat Dira yang sesegukan, membuat Alby mendekat, saat Alby ingin menyentuhnya, seketika keberanian itu hilang. Di tariknya lagi tangan yang sempat terulur untuk menyentuh Dira.


Mbok kasum yang mendengar pertengkaran antara Dira dan Alby, langsung menelpon orang tua Alby. Mendengar penuturan Mbok Kasum, Pak Wisnu pun tak dapat menahan emosinya terhadap anak laki-lakinya ini. Dengan di temani istrinya, Pa Wisnu bergegas ke rumah Alby.


Sedangkan Dira masih menangis, menumpahkan semua rasa sakit di hatinya. Tangannya memukul dadanya, mencoba mengurai rasa sesak di hatinya. Alby semakin sakit melihat nya. Alby pun merengkuh tubuh Dira membawanya dalam pelukannya. Namun Dira menolak,dan mendorong Alby.

__ADS_1


" Jangan seperti ini, Sayang. Maaf kan Aku. "


__ADS_2