Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 77


__ADS_3

Dira kini berada di kamar, baru saja mood membaik, sudah anjlok lagi karena permintaan ayah mertuanya. Tak salah memang. Hanya saja saat ini keadaan hati Dira sedang tidak baik. Sementara sh ruang keluarga, Papa menatap semua nya dengan bingung.


" Kalian kenapa sich? Papa salah ngomong."


" Salah."


Jawab mama Ratna dan Aya bersamaan. Sedangkan Alby memijit pelipisnya.


" Salahnya dimana?"


" Papa gak tau sih, hari ini kak Dira itu udah nangis dari pagi, gara-gara hasilnya negatif. Eh..si papa malah nyinggung soal anak. "


Cerocos Aya, yang di iyakan oleh Mama Ratna.


" Benar begitu, Al?"


Alby menganggukkan kepalanya. Papa pun menghela nafasnya. Lalu terdiam.


" Papa harus minta maaf sama Dira."

__ADS_1


" Gak perlu pa."


Semua orang beralih ke arah suara. Dira sudah menuruni anak tangga saat mendengar perkataan Aya tadi. Dira pun mendekat, lalu kembali duduk di tengah-tengah mereka.


" Papa gak salah, Dira yang terlalu terbawa perasaan. Maafin Dira ya Pa, Ma."


Mama tersenyum lembut, sedangkan Alby yang duduk di sebelah Dira pun membelai punggung Dira. Dan Minggu mereka berjalan dengan manis.


Pagi ini Alby bangun lebih awal, awal pekan pekerjaan banyak menunggunya. Di liriknya Dira yang masih bergelung di bawah selimut. Lalu Alby pun masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri, lalu ingin melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Suara gemericik air di kamar mandi membangunkan Dira yang sedang terlelap. Diliriknya jam yang ada di dinding kamar. Masih belum masuk subuh, dan biasanya dirinya nya lah yang bangun lebih awal, tapi kali ini Alby yang bangun lebih dulu.


Dira duduk di tepi ranjang, mengikat rambutnya yang panjang, tak lama suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan pandangan mata Dira. Di lihatnya Alby yang sudah selesai mandi, dan rambut yang basah menambah kadar ketampanannya.


Dira mengangguk seraya tersenyum. Setelah itupun dia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri. Alby memakai sarung, Koko, dan peci di siapkan oleh Dira. Tak lama Dira pun keluar dari kamar mandi. Namun adzan subuh belum juga terdengar.


" Kita tadarusan sebentar ya, sambil nunggu subuh."


" Iya, Mas. "


Alby dan Dira pun membaca Al Qur'an bersama. Mereka mengaji dengan suara lembut dan merdu. Tak lama setelah itu, suara adzan pun terdengar. Lalu mereka pun berjama'ah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.

__ADS_1


" Mas, kok tumben bangunnya cepet banget. Mas gak tidur ya?"


" Mas tidur kok. "


Ucap Alby sambil mengusap kepala Dira. Dira menatap Alby. Dira memperhatikan tingkah Alby yang menurutnya lebih banyak melamun belakangan ini. Sedangkan Alby merasa bersalah pada Dira karena sedang menutupi sesuatu.


" Mas, gak lagi menutupi sesuatu kan dari aku?"


Alby terkesiap mendengar pertanyaan dari Dira. Sepertinya Dira mulai merasakan hal-hal yang tak diinginkan. Alby memeluk Dira lalu mengecup pucuk kepalanya.


" Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Nanti kamu sakit memikirkan hal yang belum tentu benar."


Ucapnya menenangkan Dira. Alby semakin merapatkan pelukannya pada Dira. Dira pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


"Maaf, tapi aku merasa mas menyembunyikan sesuatu dari aku. " cicit Dira pelan.


"Selamanya Mas milik kamu, Sayang. "


Setelah mengatakan seperti itu, Alby melerai pelukannya, lalu di tangkupnya wajah Dira dengan kedua tangannya. Alby pun mendaratkan ciuman di bibir manis Dira. Bibir yang menjadi candunya selama tiga tahun ini.

__ADS_1


__ADS_2