Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 153


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, luka itu memang mungkin sudah tak sakit lagi, namun kadang rasa dari luka yang pernah terjadi masih terngiang di ingatan. Hati mungkin sudah tak berdarah lagi, tapi bekas luka itu mungkin masih ada.


Terkadang rasa sakit mampu merubah seseorang, menjadi lebih egois dan menutup diri dari apa yang ada di hadapannya. Dan saat ini, itulah yang terjadi pada Nadira. Wanita yang dulu mementingkan kebahagiaan orang terdekatnya kini memilih untuk bersikap egois.


" Ma,.."


Hanan bocah berusia delapan tahun itu, kini sedang merengek manja di dekat Dira mamanya.


" Kita ke rumah sakit sekarang ya. Demam kamu gak turun juga, Nak. "


Dengan membantu Hanan berjalan, Dira pun membawa Hanan turun. Bram dan Luna yang sudah lebih dulu berangkat tak mengetahui keadaan Hanan. Pagi tadi , Dira hanya mengatakan bahwa Hanan sedang tidak enak badan.


" Pak, kita ke rumah sakit sekarang."


Perintah Dira pada supir keluarga orang tuanya itu. Supir yang sudah mengabdi kepada keluarga Dira itu, segera membawa mereka ke rumah sakit. Setibanya di sana, Hanan langsung mendapat perawatan, dan dokter yang menangani adalah Zaidan.


" Hanan..."


Zaidan menggumam nama itu, saat seorang perawat meminta Zaidan memeriksa data pasien. Dengan langkah cepat, Zaidan menemui Dira da. Hanan.

__ADS_1


" Hai jagoan,.."


Hanan yang merasa di panggil pun hanya tersenyum, sedangkan Dira terlihat jelas kecemasan di wajahnya.


" Sust, tolong ambil sampel darah pasien. Dan lakukan cek lab. Saya tunggu hasil lab secepatnya."


Setelah Hanan mendapat perawatan, dan sudah berpindah ruangan, Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Zaidan yang sangat paham akan kecemasan Dira duduk di samping Dira.


" Tenang lah., Hanan sudah mendapat perawatan. "


Dira langsung menoleh ke arah Zaidan.


" Aku takut, Dan. "


Dira mengangguk, hening melanda ruangan Hanan. Sampai suara dering ponsel Dira mengalihkan perhatian mereka.


" Assalamualaikum, Kak."


".,..."

__ADS_1


" Demamnya Hanan makin tinggi kak, makanya aku bawa ke rumah sakit."


"...."


" Iya, Waalaikumsalam."


Lalu Dira meletakkan ponselnya dan menatap Hanan yang masih terbaring. Tangan Dira membelai lembut kepala Hanan. Zaidan pun bergerak mendekati ranjang Hanan.


" Ra, aku kembali ke ruangan ku ya. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal sendiri."


" Gak apa-apa, Dan. Makasih ya."


Zaidan mengangguk, lalu membelai kepala Hanan.


" Cepat sehat, Jagoan."


Dira menghantarkan Zaidan sampai depan pintu ruang perawatan Hanan. Sebelum Zaidan pergi. Zaidan sempat berpesan sesuatu yang membuat Dira mematung.


Dira duduk di tepi ranjang Hanan. Di pandangi wajah Hanan yang pucat. Demamnya masih belum juga turun. Sebelah tangan yang bebas di genggam. Bahkan Dira meneteskan air mata saat melihat putranya kembali merasakan sakitnya tusukan jarum infus.

__ADS_1


Dira memandangi wajah Hanan yang merupakan duplikat wajah Alby. Apalagi kata-kata Zaidan sebelum meninggal kan ruangan Hanan masih terngiang di telinganya. Dan juga pikiran nya.


" Ra,hubungi Ayahnya, aku yakin Hanan demam karena kangen sama Ayahnya. Ra, kita gak boleh egois, Hanan membutuhkan sosok Ayah. Aku tau, aku tidak berhak berkata seperti ini. Ra, seandainya kamu masih mencintainya, kamu juga berhak memberikannya kesempatan kedua. Coba kamu tanya hatimu, Ra. Apakah kamu membencinya atau kamu masih mencintainya."


__ADS_2