
" Kalau kamu sangat mencintai Dira, mengapa kamu tega menduakan dia, Al."
Alby melihat ke arah Papanya.
" Alby punya alasan tersendiri, Pa."
Pak Wisnu menghela nafasnya, lalu melihat ke arah Alby.
" Apapun alasannya, Papa dan Mama tidak menerima alasan itu."
Papa Wisnu pun langsung masuk ke ruangan Dira. Di lihatnya Dira yang sudah tenang, lalu mengajak Istrinya untuk pulang.
" Ma, kita pulang sekarang ya?"
Mama Ratna mengangguk. Mereka paham, Alby dan Dira butuh waktu berdua untuk menyelesaikan ini semua.
" Mama pulang ya, Sayang."
Dira mengangguk, lalu mencium tangan kedua mertuanya. Sepeninggalan kedua mertuanya, Dira menatap ke luar ruangan melalui jendela di kamarnya. Tak lama Alby pun masuk ke ruangan itu. Alby duduk di hadapan Dira. Dira hanya melihat ke luar jendela, tak sedikit pun melihat ke arah Alby.
__ADS_1
" Sayang, aku akan pergi sebentar, Nanti Dea yang akan menemanimu disini. Kamu gak apa-apa kan?"
" Pergilah...,"
Hanya itu jawaban yang di lontarkan Dira. Namun pandangan matanya tak lepas keluar jendela. Alby merasa bingung. Di pegangnya tangan Dira, mencoba untuk membujuknya. Namun Dira menarik tangannya dari genggaman Alby.
" Pergilah...Dia juga membutuhkanmu."
Alby menghela nafasnya, Dira salah paham. Dira mengira Alby akan pergi ke tempat Syifa. Namun sebenarnya Alby akan ke kantornya, ada pekerjaan yang tak bisa di tunda.
" Aku akan ke kantor, bukan kemana-mana."
" Mau ke kantor atau kemana pun, aku tidak berhak melarang. Pergilah,..."
" Kamu masih istriku, kamu berhak melarang aku."
Ucap Alby selanjutnya. Dira menatap ke arah Alby. Namun pandangan sulit di artikan. Lalu Dira menghembuskan nafasnya, mencoba melerai sesak di hati. Alby menatapnya sendu. Sakit yang di berikannya saat ini telah membuat Dira berubah menjadi sosok yang dingin di matanya.
Alby meninggalkan ruangan Dira. Saat Alby pergi, air mata Dira kembali menetes. Di luar ruangan, Alby menelpon seseorang, untuk membawakan pekerjaan dan laptopnya. Alby memutuskan untuk bekerja dari rumah sakit. Dira sedang membutuhkan dirinya. Dira kembali membaringkan tubuhnya. Pusing dirasanya kembali membuatnya ingin tertidur.
__ADS_1
Alby menunggu orang suruhannya di lobby rumah sakit. Cukup lama dia menunggu, hampir empat puluh lima menit. Sedangkan Dira kembali terlelap di ruangannya. Alby masuk setelan orang suruhannya membawa semua yang di minta. Alby pun meminta Tante Yuni ataupun Syifa untuk tidak menghubunginya saat ini.
Alby melihat Dira yang meringkuk di ranjangnya. Di dekatinya kembali Dira yang tertidur. Masih ada sisa air mata di sudut matanya. Membuat hati Alby tercubit. Tak lama seorang perawat datang, membawakan makan siang untuk Dira. Namun Dira masih tertidur.
Setelah perawat itu pergi, Alby pun membangunkan Dira dan memintanya untuk makan.
" Sayang, bangun dulu, kamu harus makan siang."
Alby dengan lembut membangunkan Dira yang tertidur, Dira mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelah di rasa cukup, Dira pun bangkit dari tidurnya, di bantu Alby.
Dira menyibak selimut dan membawa tiang infusnya, Alby langsung bangkit dan menolong.
" Kamu mau kemana?"
" Kamar mandi."
Dira hanya menjawab seperlunya. Dengan cepat, Alby mengangkat Dira, dan meletakkan botol infus di badan Dira.
" Turunkan Aku, aku bisa sendiri."
__ADS_1
Namun Alby tetap saja menggendongnya dan membantunya di kamar mandi.