
Setelah pagi tadi Zaidan menghantar kan mobil Dira. Dan berlanjut dengan Dira menghantarkan Zaidan ke rumah sakit tempatnya bekerja. Siang ini, Dira kembali menjalankan rutinitas nya. Setelah akhir pekan di habiskan untuk berdiam diri di rumah, karena Hanan yang masih bersama Alby. Kini Dira mulai memulai kembali mendesain gamis-gamis serta gaun untuk wanita muslimah.
Suara ketukan di pintu ruang kerjanya tak juga mengalihkan konsentrasi Dira dari kertas dan pensil di tangannya.
" Masuk aja, Nggi."
Dira mengira itu adalah salah satu karyawan nya yang bernama Anggi, namun Dira salah. Wangi parfum yang sangat di kenalinya menyeruak masuk ke Indra penciuman nya. Dira menghentikan gerak tangannya, lalu menatap pintu. Benar , seorang yang sangat di kenalinya berada di sana.
" Mas Alby."
Alby tersenyum lembut, lalu melangkah ke meja kerja Dira. Meletakan paper bag di meja. Lalu mengeluarkan isinya.
" Makan siang dulu. Kebiasaan kamu, kalau sudah kerja, lupa makan. Jangan lupakan, kamu punya maag, terlalu stress dan lupa makan pemicu utama penyakit kamu itu kambuh."
Dira hanya diam, mendengar kan ocehan Alby dan makanan yang sudah di letakkan di meja. Bahkan Alby sudah menyusun kertas-kertas yang ada di meja saat itu.
" Semuanya sudah aku letakkan disini. Takutnya ketumpahan kuah makanan. "
__ADS_1
Dira masih terdiam. Sikap Alby yang seperti ini, mengingatkan dirinya saat Alby dan dirinya masih bersama. Alby menggoyang kan tangannya di depan wajah Dira yang masih terdiam.
" Eh.. kenapa mas?"
" Mestinya Mas yang tanya. Kamu kenapa bengong?"
Ucap Alby kemudian.
" Mas kok disini?"
" Mas mau makan siang sama kamu. Hanan udah mas, jemput dan sekarang udah di rumah."
" Kamu liat udah jam berapa sekarang."
Dira melirik jam yang melingkar di tangannya. Jam dua siang, pantas saja. Dira terlalu fokus membuat desain, dan melupakan waktu. Alby sudah tahu kebiasaan Dira.
Kini mereka makan siang di ruangan Dira. Sambil sesekali Alby bercerita tentang perusahaan yang Alby berikan untuk Hanan.
__ADS_1
" Mas, aku rasa kamu berlebihan memberikan Hanan perusahaan itu. Kalau itu milik Hanan, lalu bagaimana dengan kamu dan-"
" Kamu gak perlu khawatir, aku juga masih di situ. Hanya saja, saham Hanan lebih besar daripada punyaku."
Lalu Alby beranjak dari duduknya. Mencuci tangannya di wastafel dan mengeringkannya.
" Aku hanya menyiapkan masa depan untuk Hanan. Selama ini Hanan tidak mendapatkan apapun dari aku. Sebagai Papanya. Kamu yang menghandle semuanya. Sendiri."
Dira diam. Lalu Alby menatap wajah Dira. Getaran rindu yang Alby simpan selama ini, semakin menjadi. Alby mengungkapkan perasaan nya kembali. Kali ini Alby meminta Dira menjawab secepatnya.
" Mas mohon Dir. Berikan mas kesempatan, sekali lagi."
"Aku belum bisa jawab saat ini, Mas. Berikan aku waktu."
Alby menghela nafasnya frustasi. Dira yang ada di hadapannya saat ini, masih sama, belum bisa memberikan jawaban yang pasti.
" Aku tunggu jawaban kamu, Minggu depan, Dir. Maafkan Mas yang memaksa."
__ADS_1
Setelah cukup lama berada di ruangan Dira. Kini Alby pamit pulang. Setelah kepulangan Alby, Dira tak dapat berkonsentrasi melanjutkan kerjanya. Dira pun langsung bergegas pulang.
Setibanya di rumah, Dira melihat Hanan yang bermain bola di halaman sendirian. Dira belum bisa memberikan jawaban, tapi Dira berjanji dalam hatinya, akan segera menyelesaikan masalah ini.