
Alby kembali menyesap bibir Nadira, bahkan kini dengan perlahan membawa Dira ke ranjang. Alby mulai menyesap leher jenjang Dira, hingga meninggalkan jejak kepemilikan disana. Ciuman itu terus turun hingga ke dadanya. Lagi-lagi Alby meninggalkan jejak disana. Lenguhan dan ******* terus beradu di kamar mereka. Menikmati masa-masa indah yang seharusnya terjadi sejak beberapa bulan yang lalu. Menikmati manis nya romansa cinta yang mereka ciptakan sendiri.
Tubuh Alby tumbang di atas tubuh polos Nadira. Setelah pergulatan mereka, kini dengan nafas terengah Nadira menatap pria yang telah berhasil mencuri hatinya. Alby mencium keningnya, dan mengucapkan kata cinta yang manis bagi Dira.
" I love you, My sweet heart."
Alby pun merentangkan tangannya menjadikan bantalan untuk Dira. Mereka akhirnya terpejam setelah pergulatan di atas ranjang.
Suara Adzan berkumandang, mengadakan fajar akan menyingsing, Dira mengerjapkan matanya, tangannya merogoh lantai, mencari pakaian yang di hempaskan oleh Alby malam tadi. Merasakan ada pergerakan di ranjang, Alby pun ikut membuka matanya, dilihatnya Dira yang sedang memakai pakaiannya. Lalu masuk ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Dira pun keluar kamar mandi hanya memakai bathrobe putih dan handuk yang melilit di kepalanya. Pemandangan yang menurut Alby sangat seksi pagi ini.
" Mas, buruan mandi, waktu subuh udah hampir habis loh."
Alby pun mengangguk lalu beranjak kekamar mandi. Dira segera berpakaian dan menyiapkan pakaian Alby. Sajadah pun sudah terbentang. Alby keluar kamar mandi sepuluh menit kemudian. Lalu memakai pakaian yang telah di siapkan oleh Dira di atas ranjang. Setelah itu mereka pun sholat berjamaah. Setelah sholat, Alby tampak beberapa kali menguap.
__ADS_1
" Mas, tidur aja lagi. Aku mau buat sarapan dulu ya?"
Saat Dira akan keluar kamar, dengan cepat, Alby menarik tangan Dira, hingga tubuhnya membentur tubuh tinggi Alby.
" Ciuman selamat tidur, sekaligus selamat paginya mana?"
Alby memajukan bibirnya, meminta Dira yang menciumnya lebih dulu. Wajah Dira merona. Sedangkan Alby masih memajukan bibirnya, matanya bahkan terpejam. Namun karena tak merasakan apapun, Alby pun sedikit membuka matanya.
" Ayo dong, Sayang. Bibir mas pegel ni di anggurin."
Setelah merasa istrinya ini kekurangan oksigen,barulah Alby melepaskan nya. Dan menyatukan keningnya dan kening Dira. Wajah Dira tampak merona, walau bukan baru pertama, namun Dira masih saja malu, setiap kali Alby mencium bibirnya.
Kini Dira pun sedang asik memasak di dapur,setelah memberikan ciuman selamat tidur sekaligus selamat pagi untuk Alby tadi. Dira begitu fokus pada masakannya, sampai tak menyadari kehadiran Alby disana. Alby terus memperhatikan istrinya memasak. Sampai akhirnya Alby memeluk Dira dari belakang, Dira yang terkejut pun menjatuhkan pisau yang di pegang olehnya, dan hampir saja mengenai kakinya.
" Hati-hati, Sayang. Hampir aja pisau itu mengenai kakimu."
__ADS_1
Alby berkata sambil berjongkok mengambil pisau yang di jatuhkan oleh Dira, lalu memberikannya lagi pada Dira.
" Mas, ngagetin. Aku kira siapa tadi."
" Mulai dari sekarang kamu harus terbiasa."
Ucap Alby lagi, sambil memeluk tubuh Dira dari belakang. Dira kini melanjutkan memotong sayuran dan juga bumbu.
" Katanya ngantuk, kok udah di dapur aja."
" Gak bisa tidur, gak ada kamu."
Jawab Alby sambil menyusupkan hidungnya di ceruk leher Dira yang tertutup hijab. Dira tak leluasa untuk bergerak. Namun Alby tetap memeluknya.
" Wah...den Alby dan Neng Dira pagi-pagi udah mesra-mesraan aja di dapur."
__ADS_1
Suara mbok kasum membuat Dira menjauhkan Alby dari tubuhnya.