
Hanan tertidur dengan memeluk Bram. Benar kata Zaidan, Hanan perlu tau siapa Ayahnya. Hanan berhak mendapatkan kasih sayang Ayahnya. Tapi saat ini, rasa egois masih menyelimuti hati Dira. Dira belum siap untuk bertemu dengan Alby.
Sementara di rumah yang di tempati Alby. Alby terbangun dari tidurnya. Karena mimpi itu datang lagi, sejak kepergian Dira dengan membawa Hanan kecil. Mimpi itu selalu mendatangi Alby.
Alby bermimpi melihat anak laki-laki yang meminta untuk di peluk, dan wajah anak itu sangat bersedih, karena dirinya yang tak bisa di peluk oleh Alby. Setiap kali Alby bermimpi itu, Alby meyakini, itu adalah anaknya yang merindukannya. Alby berdiri di balkon kamarnya, melihat ke langit malam, lalu menghela nafasnya. Setelah itu Alby akan melakukan sholat malam, dan meminta untuk di pertemukan dengan anaknya.
Alby selalu membawa nama Hanan dan Dira di dalam setiap sujudnya. Alby meyakini, suatu saat dirinya akan bertemu dengan anaknya. Setelah selesai melaksanakan sholat malamnya, Alby memandangi foto Hanan kecil sewaktu baru lahir.
" Sudah seperti apa wajah kamu sekarang, Nak. Papa sangat merindukan mu, dan Mama mu. Maafkan kesalahan Papa. Maafkan Papa yang kurang memperjuangkan kamu dan Mama mu. Tapi percayalah, Nak. Kamu dan Mamamu selalu ada di hati Papa."
Alby berbicara pada foto Hanan setelah itu Alby menciumnya dan meletakkan foto itu di dadanya. Dengan begitu rasa rindu di hati Alby sedikit terobati. Sampai menjelang pagi, barulah Alby bisa memejamkan matanya kembali.
Pagi hari di kediaman Haidar. Tidak seperti biasa, kali ini rumah itu tampak semarak dengan celotehan Hanan. Bahkan Papa Haidar dan Bram memilih untum tidak masuk kantor hanya demi bermain bersama Hanan. Jangan tanyakan kebahagian Hanan. Bocah gembul itu, bahagia sekali. Setelah sarapan, Hanan mengajak Bram untuk bermain bola.
Setelah bajunya basah dan keringat sudah mengucur dari dahinya, barulah bocah gembul itu menyudahi mainnya.
" Pa, Hanan mau pipis."
Bram tertawa melihat keponakannya itu. Namun dengan telaten Bram membantunya ke kamar mandi.
" Ya ampun, Sayang. Kamu kok udah basah gini. Ayo..mandi lagi, kamu bau asem."
" Hanan main bola, Mama. Sama Papa."
__ADS_1
Dira melihat ke arah Bram.
" Kak, Hanan udah mandi jadi bau asem lagi kan."
" Ya tinggal mandiin aja lagi. Udah Ah, kakak mau masuk, mandi trus jemput Luna. Luna dapat dinas malam, jadi sekarang dia pasti udah mau pulang."
Bram masuk setelah mengacak rambut Hanan dan juga Dira.
" Ma..Hanan mau mainan."
" Kan mainan Hanan udah banyak, Sayang."
" Tapi Hanan mau lobotan, Ma. "
" Kalian mau kemana, Nak. Kok udah rapi, wangi lagi."
Ucap Mama Yasmin sambil memeluk dan menciumi Hanan.
" Hanan minta mainan, Ma. Jadi Dira mau ajak Hanan ke mall sebentar. "
" Cucu Eyang mau mainan apa, Hm?"
Tanya Mama Yasmin pada Hanan.
__ADS_1
" Mau lobotan eyang. Yang becaal."
Dira dan Mama Yasmin tertawa mendengar Hanan berkata sambil meragakan tangannya. Papa Haidar yang mendengar permintaan Cucunya langsung, mengeluarkan Kartu di dompetnya dan menyerahkan pada Dira.
" Untuk apa, Pa."
" Beli apa yang Hanan mau, Nak."
" Tapi, Pa. Uang Dira masih ada kok. Masih cukup untuk memenuhi kebutuhan Hanan."
" Papa gak mau terima penolakan. Sekarang ayo kita berangkat."
" Papa yang nganterin Dira?"
Papa Haidar hanya mengangguk. Bukan hanya papa Haidar yang ikut, mama Yasmin pun turut serta. Setibanya di Mall, Papa Haidar menuntun Hanan langsung ke toko Mainan. Hanan di biarkan memilih mainan yang di inginkan nya.
" Pa, jangan terlalu memanjakan nya?"
" Gak apa-apa, Sayang. Kamu juga, belanja apa yang kamu mau."
Dira menghela nafasnya, melihat anaknya terlalu di manja oleh kedua orang tuanya. Membuat Dira sangat bersyukur. Saat Dira sedang mencari sesuatu di toko pakaian, tanpa sengaja Dira bertabrakan dengan seseorang.
" Maaf..."
__ADS_1
Ucap orang itu lalu pergi begitu saja, tanpa membantu Dira yang belanjaannya jatuh. Dira memungut kerudung yang jatuh dari tangannya. Namun seketika dirinya mematung, melihat siapa yang membantunya.