Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Strategi Kalun


__ADS_3

Setelah kepergian Kayra dan mamanya, Kalun berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dia ingin mengajak Aluna untuk melanjutkan sarapan yang tertunda tadi. Saat dia melewati kamar Maura, terlihat Maura tengah melihat drama kesukaannya di layar televisi. Dia hanya melewati tidak menanyakan keberadaan istrinya, karena dia tahu di mana istrinya berada.


Kalun membuka pelan pintu kamar maskulin miliknya. Melihat Aluna yang masih menelungkupkan tubuhnya ke arah bantal.


“Sayang, ayo sarapan! Aku sudah lapar,” kata Kalun sambil berjalan menyusul keberadaan Aluna.


Dia menyibakkan rambut Aluna yang menutupi kepalanya. Tanpa dia sadari ada beberapa helai rambut yang basah karena air mata Aluna. Kalun pun mengacak rambut Aluna dengan gemas.


“Tidur lagi ya? Baiklah, aku akan membawakan sarapan ke kamar untukmu,” kata Kalun karena tidak mendapat respon dari Aluna.


Aluna juga tidak ingin menjawab pertanyaan Kalun. Dia takut jika suaminya akan mengetahui, jika dia tengah menangisinya.


“Oke, aku yang masakin buat kamu, tapi jangan lupa dimakan ya!” ucap Kalun yang hendak pergi dari kamar.


“Nggak perlu!” cegah Aluna dengan suara khas orang habis menangis. Membuat Kalun curiga, dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Dia menatap punggung Aluna, yang sedikit bergetar menahan tangisnya. Kalun lalu mencoba mendudukkan tubuh Aluna, menanyakan penyebab istrinya itu menangis.


“Ada apa? Jelaskan padaku? Apa Maura menyakitimu?” tanya Kalun yang khawatir jika Maura menanyakan perihal calon anaknya.


“Sayang ...” panggil Kalun dengan nada lembut, dia ingin membantu Aluna menghapus air matanya yang masih mengalir, tapi tangan Aluna segera menepis bantuan Kalun.


“Dia hamil kan? Kenapa kamu tidak mau menikahinya?” tanya Aluna sambil mengusap air matanya. Kalun mengernyitkan dahinya, dia berfikir pasti Aluna mendengar obrolanya tadi, dengan dua wanita yang tidak ingin dia bahas.


“Bukankah kita sudah sepakat, jika Kayra datang kamu akan menceraikan aku?” peringat Aluna sambil mengalihkan tatapannya dari Kalun.


“Jadi, kamu menangis karena tidak ingin bercerai dariku?” goda Kalun dengan sedikit senyuman tipis di bibirnya.


“Nggak!”


“Lalu? Kenapa kamu menangis?”


“A-aku, aku, aku ...” bibir Aluna tidak mampu berucap, lidahnya sulit untuk mengatakan penolakan.

__ADS_1


“Sayang, sudah aku katakan! Banyak hal yang tidak kamu ingat, dan semua itu masa penting kita. Aku tidak menuntut kamu untuk mengingat semuanya. Tapi ingatlah ini, jika kita dulu saling mencintai, paham?”


“Dan aku tahu, apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin melepasmu! Kamu yang kucintai saat ini,” lanjut Kalun setelah menjeda ucapannya.


“Tap- tapi, kamu sudah tidur dengan Kayra Kal, dia anakmu!”


Kalun mengangguk ketika Aluna mengatakan itu, dia mengakui kesalahannya di hadapan Aluna, dia membenarkan ucapan semua tuduhan Aluna yang ditujukan untuknya.


“Maaf, aku minta maaf padamu soal itu, malam itu aku dalam keadaan mabuk!” jelasnya lalu beranjak pergi dari Aluna. Dia berjalan menuju ruang ganti, untuk mengambil bukti jika anak yang di kandung Kayra bukanlah anaknya.


“Bacalah!” perintah Kalun sambil menyerahkan amplop putih di tangannya.


Aluna dengan ragu menerimanya. Dia tidak mengerti jika yang dia pegang adalah hasil tes DNA calon anak Kayra. Dia hanya menatap amplop itu.


“Itu hasil tes DNA anak Kayra, dan hasilnya dia bukan anakku! Tidak ada kesamaan apapun di darahku dan calon anak Kayra! Dan satu lagi, hanya kamu satu-satunya wanita yang berhak melahirkan anakku,” jelas Kalun dengan lembut, kini dia sudah duduk di depan Aluna yang tengah duduk bersila di hadapannya.


Aluna akhirnya mau menerima amplop itu karena dia penasaran dengan perkataan Kalun, dia lalu segera membuka amplop tersebut. Dia membaca hasilnya dengan seksama. Lalu kembali menutup kertas yang ada di tangannya, dan berpindah memperhatikan mata Kalun yang mengatakan kejujuran padanya. Kedua tangannya tergerak untuk melingkar di pinggang Kalun. Ia memeluk erat suaminya, dia takut jika Kalun akan pergi darinya. Hanya itu yang dia rasakan saat ini, ketakutan akan kehilangan lagi.


“Kamu tahu kenapa?” tanya Kalun yang membuat kepala Aluna mendongak ke arahnya. Dia menggelangkan kepalanya, karena tidak mengerti jawaban dari pertanyaan Kalun.


“Karena cinta. Karena aku mencintaimu, karena kamu men-cin-***-ku Sayang!” jawab Kalun dengan pelan dan jelas.


“Jika seperti itu, aku berharap bisa mengingat semuanya!”


Ya, tapi jangan pernah mengingat jika kamu pernah hamil Sayang, karena aku tidak bisa mencari alasan lagi kenapa kita bisa kehilangan calon anak kita. Batin Kalun sambil mengusap punggung Aluna dengan lembut.


“Aku akan membantu mengingatkan semua ingatanmu, kamu mau kan?” kata Kalun sambil menangkup kepala Aluna dengan kedua tangannya.


Kalun mengikis jarak keduanya, hingga tinggal beberapa puluh milicenti, dia mencium kening Aluna dengan lembut, lalu menggeser perlahan bibirnya hingga pucuk hidung Aluna yang panjang.


Aluna hanya memejamkan matanya sambil merasakan sapuan hangat yang mengenai wajahnya, dia berusaha mengingat ini. Mengingat sentuhan Kalun, tapi tidak ada yang bisa dia ingat. Hanya perasaannya saja yang menginginkannya. Menginginkan jika Kalun tidak segera mengakhiri kegiatannya. Kini bibirnya yang tipis membuka celah lebar, ketika Kalun mulai mengetuk bibirnya dengan lembut. Ciuman kerinduan yang berujung nafsu, dari lembut hingga panas, Kalun memberikan itu pada Aluna, dan Kalun bahagia mendapatkan respon yang baik dari istrinya. Suara ******n terdengar memenuhi sekeliling ranjang king size tersebut. Keduanya melupakan jika mereka belum mengisi perutnya sama sekali.

__ADS_1


Namun, Aluna segera mengakhiri ciuman pagi yang panas itu, karena merasa nafasnya yang mulai mencekat.


“Di luar hujan deras, sepertinya akan menambah kenikmatan jika kita melakukannya!” tawar Kalun yang sebenarnya adalah permohonan.


“Emm, nggak aku belum siap!” tolak Aluna sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat, yang membuat Kalun menampilkan wajah yang sedikit kecewa. Dia lalu menjalankan strateginya, meraih tengkuk Aluna dan kembali menciumi bibir Aluna dengan kasar, dia yakin jika dia melakukan itu, pasti Aluna akan ketagihan dan memintanya untuk memberikan yang lebih dari yang istrinya dapatkan.


“Astaga! Maaf menganggu acara kalian! Coba ditutup pintunya!” gerutu Erik yang melihat kejadian panas di depannya. Dia menyesali perbuatannya sendiri setelahnya, saat melihat kedua anaknya itu gelagapan untuk melepaskan ciumannnya.


Wajah Aluna sudah semerah tomat, menahan malu karena ketahuan mertuanya. Berbeda dengan Kalun yang mengeraskan rahangnya karena lelaki tua itu sudah menganggunya.


“Kenapa?” tanya Kalun.


“Keruangan Papa sekarang!” minta Erik sebelum pergi meninggalkan kamar panas itu.


“Aku sarapan dulu Pa!” teriak Kalun setelah Erik menghilang di balik pintu kamar. Dia lalu melirik ke arah Aluna dan tersenyum mesum ke arah istrinya.


“Aku janji setelah ini, kita akan pulang ke apartemen! Kita bisa bebas melakukan apapun di sana, tanpa ada yang menganggu kegiatan kita. Gemes deh, kenapa bisa semerah ini wajahmu!” ucap Kalun yang diakhiri mencubit pipi Aluna dengan gemas. Aluna memanyunkan bibirnya saat mendengar ucapan Kalun, bibirnya sudah seperti anak kecil yang tengah marah dengan temannya.


“Jangan seperti ini! Aku sudah lapar, atau aku akan memakanmu saja! Sepertinya akan membuat perasaan kenyangku lebih lama!”


Aluna berusaha keras memikirkan ucapan Kalun, dia tidak mengerti ucapan Kalun yang berbicara tentang makan memakan. Aluna hanya ingat jika dia adalah wanita polos, yang belum tahu apa itu hubungan intim, yang dia tahu hingga saat ini belum ada pria yang menjamahnya.


“Sudah, jangan pikirkan lagi. Ayo kita sarapan! Aku akan segera menemui lelaki tua itu!” ucapan Kalun membuyarkan lamunan Aluna. Dia menurut dengan suaminya, mengikuti langkah Kalun yang berjalan menuju dapur, melanjutkan omeletnya tadi, yang tinggal memasukkan ke dalam teflon. Aluna memulai kegiatannya dengan Kalun yang berada di belakang tubuhnya.


“Duduklah! Sebentar lagi akan siap!” perintah Aluna yang risih karena Kalun terlalu sering mencuri ciuman pipi dan leher saat dia memasak.


“Biar saja aku di sini! Kamu tahu nggak, jika kamu semakin cantik memakai ini!” tunjuknya pada apron yang menempel di tubuh Aluna.


“Kamu nggak mau resain saja dari kantor?” lanjutnya yang membuat Aluna menghentikan kegiatan tangannya, dia lalu menatap ke arah Kalun, yang kini sudah berada di sisi kanannya.


👣

__ADS_1


Vote ya, jangan lupa! Like juga dan komentar positif☺👌👍


__ADS_2