
Kalun memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Orang yang berada di sana tidak tahu, jika Kalun sudah dicoret dari keluarga Ramones, mereka hanya tahu jika hubungan Kalun dan keluarganya sedang tidak dalam kondisi baik.
Kalun membiarkan Kayra jalan lebih dulu darinya, dia masih sibuk membalas pesan dari Aluna, yang memesan untuk mencarikan es selendang mayang untuknya.
“Masuklah dulu, aku akan menelepon Doni sebentar!” perintah Kalun sambil menjauh dari pintu ruangan rekan wanita yang akan memeriksa Kayra.
Kayra memasuki ruangan poli kandungan, ketika dia masuk, dia sudah di sapa wanita cantik yang seumuran dengannya. Wajahnya memang tidak asing menurutnya, tapi dia lupa siapa wanita di depannya ini.
“Nona Kayra ya?” tanya dokter cantik ber-nametag Lusi, “Silahkan duduk nona Kayra, Kalun sudah memberitahu saya jika dia akan membawa Anda datang kemari,” ucapnya basa-basi sambil tersenyum ramah ke arah pasiennya. Kayra yang mendapat sapaan ramah, segera mendudukkan pantatnya di depan dokter Lusi.
Sejenak hening di antara mereka, Kayra jadi salah tingkah sendiri, karena ini pertama kalinya dia memasuki poli kandungan. Selama ini dia tidak pernah memikirkan kondisi bayinya, bahkan dia hanya masa bodoh tentang kondisi tubuhnya sendiri. Dia memang mengalami mual dan muntah tapi tidak separah ibu-ibu di luaran sana.
“Kapan Anda terakhir datang bulan?”
Kayra hanya diam, dia bingung akan menjawab apa pertanyaan yang dilontarkan Lusi, dia sudah 2 bulan lebih tidak mengeluarkan darah dari intinya, tapi dia takut memberitahukan pada dokter di depannya ini.
“Maaf apa itu perlu?” tanya Kayra sambil menatap malu ke arah Lusi.
Lusi tersenyum lebar saat mendapatkan jawaban dari Kayra yang bertanya balik padanya, “Jelas perlu dong, kan untuk menghitung usia bayi, tapi kalau nona nggak mau memberitahu nggak papa kok,” ucapnya sambil tersenyum ramah lagi ke arah Kayra, karena dia juga masih punya solusi lain untuk memastikan usia kandungan Kayra.
“Sus tolong, bantu nona Kayra untuk ke ranjang!” perintah Lusi pada assistan yang selalu mengikutinya. Kayra pun mengikuti instruksi Lusi, dia berjalan mendekat ke arah brankar dan merebahkan tubuhnya di brankar yang sudah disiapkan.
Tidak lama kemudian pintu masuk terbuka, Kalun berjalan masuk keruangan tersebut dengan wajah yang terlihat gelisah, dia langsung duduk di depan rekannya. Lusi hanya mengangkat kedua alisnya saat melihat wajah Kalun yang tidak tenang itu.
“Tunggu sebentar!” ucap Lusi sambil beranjak dari duduknya, dia lalu berjalan mendekati ranjang Kayra, memastikan keadaan Kayra saat ini.
“Sudah Sus?” lirihnya.
“Sudah Dok, obat biusnya sudah bekerja,” jelas assistan Lusi yang sudah menyuntikkan obat bius ke tubuh Kayra. Lusi lalu kembali ke meja kerjanya, menanyakan lagi tindakan yang akan di lakukan Kalun.
“Kamu yakin Kal? Ini resikonya tinggi, bisa saja dia mengalami keguguran loh?”
__ADS_1
“Jangan bertanya lagi cepat lakukan, aku tidak ingin menundanya lagi.”
“Apanya? Kalaupun kita lakukan sekarang, kita tidak bisa tahu hasilnya hari ini. Kita harus menunggu dulu untuk beberapa waktu, dan bagaimana jika itu anakmu, apa kamu tidak akan menyesal jika kehilangan anakmu?” jelas Lusi pada Kalun. Dia menatap ke arah Kalun yang masih sama seperti dulu.
Sejenak lenggang di antara mereka, Kalun memikirkan lagi tindakannya, untuk pengambilan cairan amnion yang akan diambil untuk tes DNA.
“Kapan kamu terakhir melakukan dengannya?” pertanyaan Lusi membuat Kalun sedikit kesal.
“Aku baru melakukan sekali dengannya, dan itu pun tidak sengaja,” ketusnya sambil mematap tajam ke arah Lusi.
“Aku tidak bertanya itu! Aku hanya bertanya kapan kamu terakhir melakukan dengannya?” jawab Lusi yang sama kerasnya. Lusi memang teman Kalun waktu dulu kuliah di Indonesia, Lusi yang dulu berpenampilan cupu, hingga dia tidak disukai teman-temannya, hanya Kalun yang kadang menyapanya, Kalun pun mempunyai alasan kuat kenapa dia mau menyapa Lusi. Karena Lusi jauh sekali dibandingkan dengan Kayra. Baik dari segi fisik maupun, keturunan. Dan sekarang Lusi sudah ber-tranformasi menjadi wanita cantik dan anggun, semuanya berubah total, bahkan Kayra tidak mengenalinya.
Kalun segera meminta Lusi untuk segera melakukan apa yang sudah di rencanakan.
“Kamu nggak ikut masuk? Kita lihat anakmu sedang apa?” goda Lusi yang berjalan menjauh dari Kalun. Dia ingin melakukan USG untuk bayi Kayra.
Kalun hanya menatap kesal Lusi. Sambil bergumam tak jelas memaki rekannya tersebut.
Gorden tirai dibuka. Kalun langsung menghampiri Lusi. Menanyakan keadaan Kayra.
“Bagaimana?”
“Berhasil, kita sudah mendapatkannya, kami akan mengambil sampel darahmu untuk dicocokkan, tapi ...” ucap Lusi yang ragu untuk mengatakan pada Kalun.
“Kenapa? Jangan buat aku tambah penasaran!”
“Usianya sudah 10 minggu, harusnya tidak melakukan tes DNA pun kita sudah bisa memastikan, tapi biar lebih akurat kita harus melakukannya,” jelas Lusi, yang tidak berani menatap ke arah Kalun.
“Ada hal penting yang kamu harus ketahui, dari hasil USG tadi aku menemukan sesuatu yang janggal dengan kehamilan Kayra, semoga nanti di pemeriksaan berikutnya sudah bersih,” jelas Lusi yang masih ragu untuk menyampaikan pada Kalun.
“Terserah dia, yang aku ingin ketahui adalah hasil tes DNA nya, kapan aku bisa mengetahuinya?” tanya Kalun memastikan lagi.
__ADS_1
“Besok pagi kamu bisa datang kemari, dan kamu pastikan kamu sendiri yang akan mengambilnya!”
Kalun hanya tersenyum tipis, lalu menatap brankar di mana Kayra masih terbaring di sana.
“Aku akan datang bersama istriku!” ucap Kalun dengan percaya diri.
“Istri?”
“Ya! Kenapa? Kamu nggak percaya jika aku sudah beristri? Kamu pikir pasti aku homo, kan? karena dari dulu kamu tidak pernah melihatku berpacaran.”
Lusi hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Lelaki brengsek juga kamu ya, sudah punya istri masih juga meniduri cewek lain! Sudah sana pergi! Aku nggak mau melihat orang brengsek di depanku,” ucap Lusi sambil memainkan kursinya.
“Iya aku akan pergi, setelah wanita itu siuman!”
Kalun lalu menatap ke arah dinding di ruangan Lusi, yang berjajar pengetahuan tentang kehamilan dan peran penting seorang suami. Kalun hanya tersenyum simpul ketika, membaca gejala-gejala awal kehamilan, yang biasa di alami oleh wanita hamil.
“Lus!”
“Hem.” Lusi yang tengah membaca daftar pasien hanya menjawab malas panggilan Kalun.
“Masih bolehkah, aku melakukan dengan istriku? Dia juga tengah hamil,” tanya Kalun saat membaca artikel di depannya.
“Baiknya diperiksa dulu, bawalah kemari! Aku ingin tahu wanita seperti apa yang berhasil mengutuk beruang kutup ini!” canda Lusi terkekeh geli.
Sedangkan Kalun masih melanjutkan membacanya, sambil tersenyum saat mengingat Aluna yang tengah mengalami hal yang sama seperti yang dituliskan di sana.
👣
Tinggalkan like ya, votenya di tabung di brankas masing😂
__ADS_1