Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Operasi Ulang


__ADS_3

Betapa kagetnya Kalun saat melihat tubuh Aluna yang tertidur di depan tv, dengan ponsel yang dia letakkan di bagian dadanya yang terlihat belahan pusaka kenyal miliknya karena Aluna kini tengah memakai pakaian sexy yang sangat menggoda syahwatnya.


Kalun pun kesusahan menelan salivanya saat menatap belahan dada Aluna. Suara ponsel Aluna yang bergetar membuat Kalun memikirkan yang iya-iya. Dia memejamkan matanya, ketika melihat Aluna menggeliat karena merasakan ponselnya bergetar.


Aluna pun meraba ponsel yang ada di dadanya, lalu segera menggeser dan meletakkan ponselnya di samping telinganya.


“Ya hallo,” ucapnya yang belum menyadari kehadiran Kalun yang berdiri di atas kepalanya.


“Aku sudah pulang, jangan ke rumah sakit dan jangan ke apartemen, kita ketemuan saja ke kosku,” jawabnya lalu menutup ponsel lalu kembali memejamkan matanya.


“Enak ya, tidur terus!” ucap Kalun dengan nada getir.


Aluna yang kaget dengan suara dari bibir Kalun, berusaha untuk bangun dari sofa, dia segera meraih bantal sofa yang ada di bawah kakinya untuk menutupi paha putihnya yang terekspos.


“Ka-kamu kok pulang?” tanya Aluna yang terdengar terbata di telinga Kalun.


“Kenapa memangnya? Nggak boleh?” ucap Kalun sambil mendudukan pantatnya di samping Aluna.


“Kok tiba-tiba, nggak ngabari dulu?” tanya Aluna lagi sambil mengusap tengkuk lehernya, karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kalun. Dia pun meraih ikat rambut yang ada di kepalanya, supaya rambutnya yang panjang bisa menutupi belahan dadanya. Semua gerakan Aluna tidak luput dari pandangan Kalun. Aluna melirik ke arah mata Kalun yang tengah menatapnya, dalam hatinya terus mengumapti Kalun yang merasa mengambil keuntungan darinya. Merasa tidak nyaman dia pun berdiri dari duduknya. Berniat masuk ke dalam kamar.


Namun, Kalun menarik tangan kanannya membuat Aluna kini duduk nyaman di pangkuan Kalun. Dia berusaha tidak menatap wajah Kalun yang tengah menatapnya lekat.


“Jangan seperti ini, aku mau ganti baju dulu!” ucapnya yang sedikit serak.


“Aku ingin makan!”


“Hah!” sentak Aluna yang berpikiran mesum, dia lalu menatap ke arah wajah Kalun yang berada tepat di wajahnya.


“Iya, makan. Makan siang bersamamu, aku sudah lapar,” ucap Kalun membalas tatapan Aluna.


“Atau, kamu ingin aku menikmati makan siang ini dulu,” ucap Kalun sambil menunjuk ke arah benda kenyal Aluna dengan matanya.


Aluna pun berusaha menutupinya dengan tangan kanan, karena tangan kirinya masih di bopong dengan tali.


Kalun pun tersenyum memperlihatkan barisan gigi putihnya, dia senang sekali melihat wajah istrinya yang sudah seperti kepiting rebus.


Cup


Kecupnya di bibir Aluna.


Aluna pun memberontak, berusaha melepas pelukkan Kalun.

__ADS_1


“Jangan pakai pakaian seperti ini lagi, atau aku tidak akan membiarkanmu pergi, kamu juga harus ingat, jika aku lelaki dewasa yang butuh dipuaskan!” peringat Kalun sebelum melepas pelukkannya.


“Maaf, aku tidak tahu jika kamu akan pulang,” balas Aluna yang memalingkan wajahnya ke arah makanan yang dibawa Kalun.


Dengan sengaja Kalun menempelkan lagi bibirnya di bibir merah Aluna, membuat mata Aluna melotot sempurna ke arah Kalun, merasa Aluna tidak melawannya, Kalun pun mempererat lagi pelukkannya, menikmati aroma tubuh Aluna yang menempel di kulitnya. Aroma menenangkan biji zaitun yang merilekskan pikirannya, membuat gairahnya semakin tinggi, tanpa Kalun sadari kini sudah menghadapkan tubuh Aluna ke arahnya. Membuatnya semakin mudah untuk memperdalam ciumannya.


“Stop Kal!”


“Aa.”


“Aku nggak mau seperti ini!”


“Tapi kamu yang memulainya!”


“Terserah, aku hanya takut kamu pergi.” Aluna tidak sadar saat mengatakan hal itu, dia hanya merespon ketika tangan Kalun memberikan sentuhan lembut di bagian senaitifnya.


“Harus aku katakan padamu, jika aku tidak akan melepasmu,” ucap Kalun dengan suara lirih karena gairahnya yang semakin tinggi.


Aluna pun membalas perlakuan Kalun, dia tidak peduli lagi yang akan terjadi ke depannya setelah ini. Suara bibir yang beradu pun memenuhi ruangan apartemen Kalun, suara kecapan pun, bisa terdengar jelas tldi telinga mereka.


“Apa yang kita lakukan setelah ini?” tanya Aluna dengan polosnya, karena tidak pernah melihat ataupun melakukan adegan dewasa.


“Kamu tidak tahu?” tanya Kalun yang masih menyusuri leher Aluna. Aluna pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Kalun kini bisa melihat bahkan menyentuh milkik Aluna sekarang juga, tapi dia masih memandangi benda kenyal Aluna dengan sorotan mata yang penuh gairah. Aluna pun menutupi miliknya dengan tangan kanan.


“Kenapa?” tanya Kalun lirih.


“Aku malu, jangan melihatku seperti itu, ini terlalu kecil untuk ukuran tanganmu,” ucapnya lemah.


Kalun pun menampilkan senyumnya, lalu merebahkan tubuh Aluna ke sofa dengan lembut, hingga istrinya itu tidak mampu menutupinya lagi.


Kalun mulai lagi permainannya dari awal, mengecupi wajah Aluna, hingga suara jeritan lolos dari bibir Aluna.


“Ahhhh, kenapa menindih tanganku!” teriaknya dengan suara kesakitan.


Kalun yang mendengar suara Aluna langsung panik, nafsunya yang tadi sudah memuncak kini redup kembali, dia langsung bangkit dari tubuh Aluna. Meringis saat mendengar rintihan yang keluar dari bibir Aluna.


“Sepertinya harus operasi ulang, aku dengar suara patahan tadi!” ucap Aluna dengan nada menangis.


“Jangan, kasihan kamu!” sahut Kalun yang panik dia lalu berdiri dari duduknya. Mengambil gunting yang ada di dapur.

__ADS_1


“Mau apa?” tanya Aluna.


“Melihat tanganmu!” jawabnya yang sedikit kasar.


“Tapi kamu tidah paham masalah tulang!”


“Apa kamu tidak tahu jika aku keturunan dokter, bahkan cita-citaku ingin jadi dokter!” ucapnya sambil membotong tali yang ada di pundak Aluna.


“Benarkah kamu ingin jadi seorang dokter?” tanya Aluna ketika melihat Kalun memeriksa tangannya.


“Ya,” jawabnya singkat.


“Bisa kau ceritakan! Kenapa kamu jadi CEO?”


“Setelah aku mendapatkan hakku, aku ceritakan kepadamu,” ucap Kalun dengan senyuman.


“Tunggu tanganku sembuh,” jawab Aluna sambil memperhatikan ke arah Kalun yang sedang melihat tangannya.


“Apa maksudmu, padahal nanti malam aku ingin mengulanginya lagi,” goda Kalun sambil terkekeh.


“Sepertinya tidak patah kok, ini baik-baik saja,” jelas Kalun sambil memasangkan ikatan tali ke leher Aluna.


“Ayo makan!” ajak Kalun karena dia sudah merasa kelaparan. Dia pun mengandeng tangan Aluna untuk dibawa ke meja makan. Mereka makan siang bersama, dengan Kalun yang menyuapi Aluna.


“Apa kamu akan pergi?” tanya Kalun saat teringat Aluna akan menemui seseorang yang meneleponnya tadi.


“Ya, Renata ingin menemuiku,” jelas Aluna sambil menghentikan kunyahannya.


“Padahal aku ingin kita makan malam berdua, tapi kalau kamu akan pergi ya sudah tidak masalah, aku bisa menundanya,” ucap Kalun.


“Iya, aku sudah janji dengan Renata, dan sepertinya aku tidak akan pulang, Renata mengajakku untuk tidur di rumahnya, apa kamu mengizinkan aku pergi?” ucap Aluna yang diakhiri pertanyaan.


“Jika aku tidak mengizinkan apa kamu akan tetap di rumah?” tanya Kalun.


“Ya, aku akan di rumah menemani Aa,” ucap Aluna sambil menunduk, mencoba mencari alasan untuk membatalkan acaranya dengan Renata. Kalun pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah dapur yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


“Siapkan barangmu, aku akan mengantarmu!”


Aluna langsung mendongakkan kepalanya ke arah Kalun. Dia tersenyum senang.


“Terima kasih.”

__ADS_1


👣


Terima kasih yang sudah nungguin cerita mereka, jangan lupa untuk like dan vote.🙏☺


__ADS_2