
Sudah tiga hari ini Aluna tidak pulang ke apartemennya, dia lebih memilih menenangkan diri di kos-annya, dan sesekali berkunjung ke makam Fandi setiap dia merasa jenuh. Pagi ini dia berniat kembali ke kantornya, Aluna akan berangkat lebih pagi supaya tidak akan bertatapan dengan Kalun.
Selama tiga hari dia di kos-annya, Kalun terus datang ke sana, tapi saat Kalun datang dia tengah berada di makam Fandi, jadi dia tidak bertemu dengan Kalun saat itu. Dia lebih memillih bercerita dengan orang yang tidak akan bisa menertawainya, dari pada cerita dengan Renata yang pasti akan terus meledekkinya terus-terusan.
Saat ini dia mengenakan pakaian kerjanya, dia ingin menampilkan dirinya secantik mungkin, dia hanya ingin menunjukkan ke Kalun bahwa dia saat ini baik-baik saja.
Aluna turun dari motor ojeknya, ketika motor itu sudah berhenti di depan gedung EL Group. Dia berlari kecil menuju lift yang akan membawanya ke ruangan karena pintu akan segera tertutup, dia memasuki lift yang berisi sekitar 8 orang itu, dia terkejut ketika tiba-tiba Kalun ikut memasuki lift karyawan.
Kalun yang mengerti tatapan seluruh karyawannya segera menjelaskan maksudnya, dia tetap menampilkan wajah dinginnya ke semua oranh yang berada di dalam lift.
“Lift sebelah tengah diperbaiki, kalian bisa keluar dulu karena aku akan menggunakan liftnya,” terang Kalun saat melihat tatapan
karyawan yang menatapnya heran. Dia lalu masuk ke dalam lift tersebut setelah seluruh karyawannya keluar.
“Kecuali kamu, ada hal yang harus saya bicarakan denganmu tentang proyek JK Group!” cegah Kalun ketika melihat Aluna hendak meninggalkan lift itu, semua orang menatap ke arah Aluna yang tengah kebingungan.
“Maaf Pak, ini sudah jam kerja saya.”
“Datang ke ruangan saya, juga termasuk bekerja, memangnya aku mau melakukan apa?”
Aluna terdiam melirik sengit ke arah Kalun. Seluruh karyawan yang melihatnya meminta Aluna untuk mengikuti bosnya dengan isyarat mata. Aluna menuruti perintah Kalun, yang akan membawanya ke ruangan. Saat berada di dalam lift, Aluna tidak ingin melirik ataupun menoleh ke arah Kalun. Dia hanya menatap bibirnya dalam pantulan pintu lift, gincu merah cabe yang dipakainya hari ini, membuatnya semakin terlihat bukan Aluna yang Kalun kenal.
Berbeda dengan Kalun yang terus menatap istrinya yang dirindukan. Entah kebaikan apa yang sudah dia perbuat, membuat Kalun merasa beruntung sekali pagi ini, dia berdua bersama Aluna menuju ruangannya. Lift itu tiba-tiba berhenti di tengah-tengah gedung, diiringi padamnya lampu di dalam lift, Aluna membenci hal ini, dia tidak bisa menatap apapun yang ada di depannya. Matanya
kini sudah meremang, kini dia meremas blazer yang dia kenakan demi meredam rasa
takutnya, kedua telapak tangannya sudah lembab, karena menahan rasa takut itu.
Kalun yang paham dengan kondisi Aluna, berusaha membawa Aluna ke pelukkannya.
__ADS_1
“Aku di sini, aku akan terus di sini, membantumu melewati semuanya,” ucap Kalun sambil mengusap rambut panjang Aluna yang hanya terikat sebagian. Aluna yang ketakutan, tidak mampu menolak pelukkan itu, dia justru menghirup dalam aroma maskulin yang menempel harum di baju yang Kalun kenakan. Kalun segera meraih ponselnya, lalu menelepon Doni, untuk segera memperbaiki lift yang rusak. Aluna yang ketakutan melupakan rasa kesalnya
dengan Kalun. Dia terus memeluk erat tubuh suaminya, pagi ini tubuhnya begitu lemah karena beberapa malam ini, dia selalu begadang memikirkan perasaan dan hatinya.
Aluna mulai kehilangan kesadarannya, membuat Kalun panik karena lift yang tidak kunjung berjalan, dia terus memanggil-manggil nama Aluna, supaya Aluna segera
terbangun dari pingsannya. Tapi yang ada istrinya itu masih betah tertidur di sana, membuat dirinya semakin panik.
Beberapa menit kemudian lift kembali berjalan, dia segera mengangkat tubuh Aluna, bersiap untuk keluar ketika pintu nanti terbuka.
Kalun segera membawa tubuh Aluna ke ruangannya, mengabaikan tatapan yang menatapnya dengan heran. Dia tidak memiliki kamar khusus di sini, kamar khususnya hanya ada di hotel depan, karena Kalun tidak ingin
konsentrasi terganggu ketika bekerja.
Dia merebahkan tubuh Aluna di sofa, mencari cara supaya bisa, segera menyadarkan Aluna.
“Sayang … bangun dong, jangan begini, ayolah Sayang,” ucap Kalun sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aluna. Dia segera melepas jas yang dia kenakan dan
Kalun hanya menatap wajah yamg dirindukannya itu, sambil mengusap dahi Aluna, bibirnya tersenyum miris ketika melihat rona bibir Aluna yang tidak cocok dia kenakan itu.
Dia lalu berjalan ke arah meja kerjanya, untuk
mengambil tisu basah yang biasa dia simpan di dalam lacinya. Dia kembali ke sofa, mendekat lagi ke arah Aluna. duduk berjongkok di samping sofa yang Aluna
tempati. Tangannya mengusap gincu merah yang Aluna kenakan hari ini, ingin
sekali Kalun meciumi bibir itu dengan kasar, tapi dia takut, takut jika Aluna akan semakin marah dengannya.
Kalun lalu berjalan mendekat ke arah jendela,
__ADS_1
menutup tirai gorden supaya cahaya matahari tidak mengenai wajah Aluna.
Saat dia ingin kembali ke sofa, dia dikejutkan dengan tangan Aluna yang memeluknya dari belakang. Kalun membalas tangan Aluna yang melingkar di perutnya dengan usapan lembut di punggung tangannya.
“Jangan lakukan itu lagi! Aku yang salah di sini, tapi aku juga tidak bisa menolak lagi jika cinta itu masuk dalam hatiku,” ucap Aluna
yang membuat Kalun tersenyum lega. Dia lalu berbalik menatap Aluna, menaikan dagu Aluna yang lebih rendah darinya. Kedua netra itu bertemu, mereka saling menatap dalam mata yang mengarahnya.
“Pulanglah! Jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak bisa memejamkan mata tanpa kamu di sisi kananku,” pinta Kalun sambil mengusap bibir Aluna yang masih tertinggal rona merah di sana.
“May I?”
Aluna menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Kalun yang akan menciumnya.
“Jangan lakukan di kantor,” ucap Aluna sambil membalikkan tubuhnya karena merasa malu dengan wajahnya kini yang sudah bersemu merah.
“Aku tunggu di kamar 205.” Kalun berucap sambil mendudukan tubuhnya di kursi kerja karena dia sedikit merasa lega, karena kini Aluna sudah memaafkannya.
“Sepertinya aku tidak bisa, aku sudah tidak masuk beberapa hari pasti pekerjaanku menumpuk,” tolak Aluna sambil berjalan keluar dari ruangan Kalun.
“Aku akan memecat David jika dia tidak mengizinkanmu keluar denganku!” ucap Kalun dengan bersungut-sungut.
Ucapan Kalun membuat Aluna yang sudah hampir menarik handle pintu ruangan terhenti, dia menoleh ke arah Kalun yang berbuat seenaknya sendiri itu.
“Jangan lakukan! Atau aku nggak akan pulang ke rumah,” ucap Aluna
lalu segera keluar dan menutup pintu ruangan Kalun.
Tiga hari menenangkan diri, membuat dia merasa kehilangan sosok suaminya. Kalun yang berada di sampingnya ketika Fandi pergi. Kalun yang bersedia menikahinya meski hanya beberapa hari bertemu. Kalun yang berhasil menyelamatkannya dari atas jembatan, dia tidak bisa melupakan kabaikan Kalun padanya, meski banyak juga keburukkan Kalun, tapi semua sudah tertutupi dengan kebaikkan dan pengorbanan Kalun yang diberikan padanya. Itulah yang membuatnya berpikir terlalu serakah jika dia menginginkan sosok Kalun yang sempurna untuk dirinya. Saat ini dia belum bisa memikirkan bagaimana kelanjutannya dengan Kalun dia hanya berharap semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
👣
Jangan lupa like dan vote👍😁